Cari di Blog Ini

Monday, October 19, 2009

Cara Menggambar Wajah

CARA CEPAT MENGGAMBAR WAJAH DARI FOTO - Tips & Trik


Menggambar foto wajah selain sebagai hobi dapat juga berguna untuk pengembangan kemampuan visual dalam menggambar sebuah objek yang realis, seperti objek manusia atau objek tiga dimensi lainnya dalam bidang dua dimensi.

Dari pengalaman penulis, ada dua macam menggambar foto wajah; yang pertama yaitu memindahkan wajah dalam foto ke bidang gambar semirip mungkin dan yang kedua memindahkan wajah dalam foto ke bidang gambar hanya dengan mengambil esensi dari wajah yang akan digambar. Pada kasus yang pertama dibutuhkan kemampuan visual yang cermat serta pengetahuan dasar mengenai anatomi wajah manusia. Sedangkan pada kasus yang kedua selain memiliki kamampuan visual dan pengetahuan anatomi wajah, juga dibutuhkan kemampuan membaca karakter dari objek.

Dalam kesempatan ini, penulis hanya akan membahas kasus pertama.

Beberapa tips dalam menggambar foto wajah:

- untuk mempermudah proses penggambaran, sangat dianjurkan untuk membiasakan mata kita melihat objek yang akan digambar, dalam hal ini foto wajah yang akan digambar

- peletakan objek yang akan digambar juga sebaiknya berdekatan atau seolah-olah berdekatan dengan bidang gambar

- arah mata kita harus selalu berpindah-pindah dari bidang objek ke bidang gambar.

Berikut adalah proses cepat bertahap penggambaran foto wajah hitam-putih menggunakan pensil;

1. Setelah terbiasa melihat objek yang akan digambar, mulailah menarik garis sketsa menggunakan pensil F, H atau HB untuk membuat bidang mata kemudian diteruskan ke bidang hidung dan mulut. Setelah itu buat bidang kepala, telinga dan rambut. Setelah selesai maka sketsa gambar kepala ini menjadi acuan untuk menggambar bagian tubuh lainnya. Tidak perlu menggambar keseluruhan objek seperti terlihat dalam foto, dengan cara ini bisa menambah keindahan pada gambar.

2. Pertegas garis-garis sketsa yang sudah ada menggunakan pensil 2B, sehingga objek yang tergambar mulai terlihat bentuknya. Seperti biasa mulailah dari mata, karena bentuk mata adalah kunci keberhasilan dari seluruh proses. Pada tahap ini, memori kita terhadap wajah asli sang objek (bukan dalam foto) sangat dibutuhkan. Diantaranya memori mengenai lekukan-lekukan wajahnya dan beberapa ekspresi wajahnya. Hapus garis-garis sketsa yang tidak diperlukan apabila mengganggu.

3. Setelah selesai mempertegas garis sketsa, maka mulailah memberi arsiran sesuai pencahayaan dalam foto, dimulai dari mata. Cukup dengan arsiran kasar mengunakan pensil 2B, jangan terlalu runcing atau terlalu tumpul. Berikan karakter garis pada bidang-bidang tertentu; seperti pipi, hidung, telinga dan lekukan kain pada baju. Pada tahap ini gambar akan terlihat seperti komik.

4. Sentuhan akhir menggunakan pensil mulai dari HB hingga 6B (menggunakan HB dan 2B sudah cukup). Pertegas lagi garis-garis tepi serta garis-garis karakter menggunakan pensil 2B runcing. Rapatkan arsiran menggunakan pensil HB tumpul, kemudian timpa dengan pensil 2B tumpul. Untuk menambah hasil yang lebih realis, gosok hasil arsiran dengan lembut menggunakan ujung jari, kapas atau penghapus. Setelah semuanya selesai, untuk menambah nilai seni dan keindahan dari gambar tersebut, bubuhkan tandatangan Anda.



Pada teknik menggambar foto wajah berwarna selain dibutuhkan kemampuan seperti pada menggambar hitam putih juga dibutuhkan kemampuan dalam pencampuran warna, ini dikarenakan warna kulit manusia bukan merupakan warna primer. Pencampuran warna juga tidak hanya dari satu media saja melainkan bisa dari beberapa media atau biasa disebut mix-media.

Mix-media dapat dilakukan dengan mencampur dua media pewarna seperti pensil warna dengan soft pastel, pensil warna dengan studio marker, cat air dengan pensil warna atau yang paling sederhana pensil warna dengan pensil grafit dan sebagainya. Dari pengalaman penulis mix-media bisa diterapkan sampai empat media pewarna; pensil grafit, soft pastel, pensil warna dan studio marker. Tahapannya adalah sebagai berikut;

Setelah sketsa menggunakan pensil grafit, gunakan soft pastel sebagai pewarna dasar kemudian gunakan pensil warna sebagai penegas warna dasar. Pertegas garis sketsa menggunakan pensil grafit runcing atau pensil warna runcing berdasarkan warna alami pada objek kemudian gunakan pensil warna tumpul untuk memberikan efek kedalaman dan gelap-terang. Agar arsiran menjadi halus lakukan gosokan perlahan menggunakan kapas atau cotton bat. Terakhir gunakan studio marker untuk highlights dan warna kontrasnya, sambil di gosok dengan jari atau cotton bat selagi marker masih basah.




Nama : Ninda Juwita Lestari

Kelas : XI IPA 4

perspektif

PERSPEKTIF HINDU DALAM TARI BALI DAN TARI PENDET

Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa. Maka banyak muncul kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan tertentu atau sebagai pelengkap pemujaan tersebut.
Upacara di Pura-Pura (tempat suci) tidak lepas dari seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Candi-candi, Pura-Pura, dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap religius dari penganut Hindu di Bali. Pregina (penari) dalam semangat ngayah (bekerja tanpa pamrih) mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri.
Para seniman pun ingin menyatu dengan seni karena sesungguhnya setiap insan di dunia ini adalah percikan seni. Selain itu juga berkembang pertunjukkan seni yang bersifat menghibur. Maka di Bali, berdasarkan sifatnya seni digolongkan menjadi seni wali yang disakralkan dan seni yang tidak sakral (disebut profan) yang berfungsi sebagai tontonan atau hiburan saja.
Pada seni tari, tari sakral atau wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesuciannya tampak pada peralatan yang digunakan, misalnya pada tari Pendet ada canang sari (sesajian janur dan bunga yang disusun rapi), pasepan (perapian), dan tetabuhan. Pada tari Rejang pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus Rejang Renteng). Topeng Sidakarya pada bentuk tapel (topeng), kekereb (tutup…), dan beras sekar ura (bunga yang dipotong kecil-kecil untuk ditaburkan). Semuanya tidak boleh digunakan sembarangan. Kesakralan juga ada pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari Rejang atau penari Sang Hyang harus menampilkan penari yang masih muda, belum pernah kawin, dan belum haid. Atau penarinya harus melakukan pewintenan (upacarapenyucian diri) dulu sebelum menarikan tarian sakral.
Dalam sejarahnya tari wali ini sebagian besar dikaitkan dengan mitologi agama yang berkembang di daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dibuat bersamaan atau sesudah tari wali itu diciptakan atau sebelumnya. Meskipun tarian ini diciptakan manusia, tetapi karena sudah merupakan konsensus dari masyarakat pendukungnya maka tari wali ini mendapat tempat khusus di hati masyarakat dalam kaitannya dengan keyakinan agama, terutama agama Hindu.
Tari-tari wali yang tercipta di Bali mirip dengan tari-tari ritual di India. Menurut mitologi tarian-tarian wali itu diciptakan oleh Dewa Brahma, dan Dewa Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya, yaitu Siwa Nata Raja. Di mana Dewa Siwa memutar dunia dengan gerakan mudranya yang berkekuatan ghaib. Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna dan kekuatan tertentu sehinggatarian ini tidak hanya menampilkan keindahan rupa atau pakaian, tetapi mempunyai kekuatan sekala dan niskala. Di Bali tidak sembarang digunakan. Hanya para Sulinggih (Brahmana atau orang suci) saja yang menggunakan gerakan tangan mudra ini, karena sangat sakral.
Di Bali untuk menambah kekuatan sekala dan niskala pada tarian sering disertai dengan banten-banten (sesajian) Pasupati untuk penari atau perlengkapan tari tertentu. Untuk pertunjukkan tari wali tertentu, diawali dengan sesajian dan tetabuhan agar tidak diganggu bhuta kala giraha dan bhuta kala kapiragan. Tak jarang persembahan tari dalam ritual tertentu dilakukan prosesi Pasupati, baik secara sederhana dengan menggunakan banten Pasupati atau dilakukan dengan lebih khusus, lebih besar atau istimewa untuk memohon agar si penari dibimbing sesuai dengan kehendak Ida Betara.
Pasupati artinya raja gembala hewan. Maksudnya agar si penari layaknya hewan gembala yang diatur dan digembalakan sepenuhnya oleh si penggembala, yaitu Ida Betara. Maka setiap gerak-gerik penari tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri, sebagian gerakannya dijiwai oleh Ida Betara yang dimohonkan. Sehingga tarian itu akan memiliki niskala (kekuatan magis).
Pasupati
Tari Bali diciptakan penciptanya berdasarkan insting atau naluri dalam berkesenian. Apakah dengan meniru gerakan manusia, air, pohon dan sebagainya, sehingga terangkum dalam gerakan yang memiliki nilai seni.
Pada masyarakat berkebudayaan tinggi serta menjujung nilai-nilai religius agraris dan mistis seperti di Bali, gerakan tari disertai aksen-aksen tertentu yang berkekuatan ghaib. Disertai banten-banten dan mantra-mantra tertentu untuk mengundang kekuatan sekala dan niskala, sehingga mendukung dan menunjang kesakralan tarian tersebut.
Tari sakral dipersembahkan dengan ritual tertentu pada hari tertentu untuk menyenangkan Ida Betara atau Hyang Kuasa sehingga berkenan memberi berkah berupa kesejahteraan sekala dan niskala(jasmani dan rohani). Misalnya barong yang ada di Pura diberi persembahan puja wali dan disolahkan atau ditarikan pada saat odalan (hari jadi Pura banjar) atau karya tertentu adalah hal yang sakral. Kesakralan akan terkait dengan ritual tertentu dan ujung-ujungnya adalah keyakinan.
Sakral atau tidaknya tarian atau pertunjukan seni dapat diukur dengan beberapa kategori umum, yaitu tari sakral atau pertunjukan seni sakral tidak pernah diupah atau disewa untuk pertunjukan hiburan atau komersial. Berfungsi sebagai pelaksana atau pemuput karya. Membawa atau menggunakan perlengkapan atau peralatan yang khas. Dan orang yang akan menari juga adalah orang pilihan, baik secara skala melalui pemilihan dan persetujuan dari masyarakat pendukungnya atau melaluimetuwunan yaitu dengan memohon petunjuk niskala baik dengan cara kerauhan (upacara penitisan sebagai sarana untuk menerima wahyu dari Hyang Widhi, biasanya orang-orang tertentu saja yang mengalami), dan sebagainya. Contoh : Tari Pendet, tari Baris Gede, tari Rejang, tari Sang Hyang, tari Topeng Dalem Sidakarya, tari Ketekok Jago, pertunjukan Wayang Lemah, dan Wayang Sapuh Leger. Ada juga tari atau pertunjukan seni tidak sakral (tari atau pertunjukan seni profan) yang bisa diupah atau disewa, berfungsi sebagai hiburan atau pendukung acara tertentu, tidak harus menggunakan peralatan atau perlengkapan tertentu yang bersifat sakral. Contoh : Joged Bumbung.
Seni tari Bali pada umumnya dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu tari wali atau tari seni pertunjukan sakral, tari bebali atau seni tari pertunjukan upacara dan juga untuk hiburan pengunjung, dan tari balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar seni tari Bali, I Made Bandem Wijaya, pda awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tarian Bali tersebut, antara lain yang tergolong ke dalam tari wali seperti Berutuk, Sang Hyang, Dedari,Rejang, Baris Gede, Sang Hyang Jaran, Janger. Tari bebali antara lain tari Topeng, Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong, dan tari balih-balihan misalnya tari Legong, Arja, Joged Bumbung, Drama Gong, Barong, Pendet, Kecak. Tari Pendet.
Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-anyang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.
Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tariPendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental.
Tari Pendet Sakral
Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47).
Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.
Menurut anak bungsunya, I Ketut Sutapa, I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain.
Tari Pendet Penyambutan
Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.
Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sejarah seharusnya lebih proporsional dari pendekatan ilmu pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), karena HAKI adalah produk budaya barat yang baru eksis kemudian. HAKI tidak cukup layak mengamankan produk-produk budaya sebelum HAKI didirikan, apa lagi pemanfaatannya lebih berorientasi kolektifitas, bukan individualitas seperti paham budaya barat.
HAKI tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat beradab dan bermartabat. HAKI diarahkan untuk kepentingan ekonomis, sedangkan produk-produk budaya Indonesia lebih berorientasi kepentingan sosial.

Nama : Taufiq Fathurahman
Kelas : XI IPA 1

perspektif ( Istiqomah XI IPA 1)

Gambar Proyeksi dan Perspektif
Posted on January 20, 2009 by mazgun
>>Download File


Kata proyeksi secara umum berarti bayangan. Gambar proyeksi berarti gambar bayangan suatu benda yang berasal dari benda nyata atau imajiner yang dituangkan dalam bidang gambar menurut cara-cara tertentu. Cara-cara tersebut berkenaan dengan arah garis pemroyeksi yang meliputi sejajar (paralel) dan memusat (sentral). Arah yang sejajar terdiri atas sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar dan sejajar akan tetapi miring terhadap bidang gambar.
Berdasarkan arah garis pemroyeksi tersebut dikenal berbagai jenis gambar proyeksi. Garis pemroyeksi yang sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar menghasilkan gambar proyeksi orthogonal yang terdiri dari proyeksi Eropa, proyeksi Amerika, dan proyeksi Aksonometri. Garis pemroyeksi yang sejajar tetapi miring terhadap bidang gambar menghasilkan proyeksi Oblik (miring). Sementara garis pemroyeksi yang memusat (sentral) terhadap bidang gambar menghasilkan gambar perspektif.

Gb.1. Contoh pandangan sejajar tegak



Secara umum berbagai jenis gambar proyeksi dan perspektif tersebut difungsikan sebagai sarana komunikasi dalam bentuk pictorial. Benda kongkret yang ada, misalnya meja atau kursi, digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain. Benda imajiner (khayalan penggambar), misalnya meja atau kursi yang sebelumnya tidak ada digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain misalnya tukang atau pemesan. Gambar proyeksi dan perspektif lebih banyak menampilkan benda imajiner, oleh karena itu sangat bermanfaat dalam bidang perencanaan.
1. Proyeksi Ortogonal (Eropa)
Penampilan gambar proyeksi Eropa relative sederhana dibandingkan dengan yang lain. Gambar ini menampilkan pandangan atas, depan (muka), dan samping. Oleh karena itu proyeksi Eropa sangat tepat digunakan untuk kepentingan perancangan mebel atau desain produk.
Sistem gambar proyeksi Eropa dihasilkan dari pemroyeksian pada ruang atau sudut pertama (first angel). Oleh karena itu proyeksi Eropa sering disebut proyeksi “Kuadran Pertama” atau “Kuadran I”. Ruang atau sudut penampilan tersebut berbentuk tiga dimensi, yang terdiri atas 3 bidang, yakni bidang I, II, dan III. Bidang I berfungsi untuk menampilkan bayangan benada tampak dari atas, bidang II untuk bayangan benda tampak depan, dan bidang III untuk bayangan benda tampak dari samping kiri. Oleh karena itu proyeksi Eropa sering dikelompokkan dalam proyeksi multiview (tampak ganda).
Jika diperhatikan sistem proyeksi Eropa ini menempatkan posisi benda/obyek yang digambar berada di antara titik pengamat (proyektor) dan proyeksi benda. Jika diurutkan maka posisi tersebut adalah pengamat, objek, dan gambar proyeksi. Posisi pengamat terhadap bidang gambar adalah tegak lurus. Di samping itu, masing-masing garis pemroyeksi yang merupakan hubungan dari titik pengamat dan benda sehingga menghasilkan proyeksi tersebut adalah sejajar sesamanya.
Ruang / sudut yang berbentuk tiga dimensi ini diubah sedemikian rupa menjadi dua dimensi. Dengan kata lain diubah menjadi bidang datar sehingga dapat dituangkan ke dalam bidang atau kertas gambar. Perubahan sudut / ruang tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:

Gb.2. Konstruksi ruang dalam proyeksi Eropa

Gb.3. Ruang dalam proyeksi Eropa yang dibentangkan menjadi bidang datar.

Gb 4. Sumbu proyeksi Eropa yang terbentuk karena rebahan ruang.



Gb. 5. Contoh cara memproyeksikan sebuah titik.

Gb.6. Contoh benda berupa kubus yang diproyeksikan dengan cara Eropa.


2. Proyeksi Aksonometri
Proyeksi Aksonometri tergolong jenis proyeksi sejajar (paralel) dan juga tegak (ortogonal). Perbedaannya dengan proyeksi Eropa terutama adalah dalam penampilan tampak. Dalam proyeksi Aksonometri diupayakan untuk penampilan tampak atas, depan, dan samping dalam satu kesatuan gambar tidak seperti dalam proyeksi Eropa yang terpisah oleh bidang-bidang. Gambar proyeksi Aksonometri menampilkan objek gambar baik yang kongkret maupun imajiner ke dalam bayangan tiga dimensi, oleh karena itu aksonometri tergolong jenis proyeksi piktorial.
Jenis proyeksi Aksonometri dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri adalah jenis proyeksi aksonometri berpenampilan tiga dimensi atau piktorial dengan besaran sudut masing-masing 120 0, dan perbadingan masing-masing ukuran tinggi, panjang, dan dalam yaitu 1:1:1. Besar sudut sumbu 1200 dapat digunakan alternatif dibuat sudut 300 terhadap horisontal (baik sudut kanan maupun kiri)
Gb.7. Tampilan gambar isometri.

b. Proyeksi Dimetri
Penggunaan isometri seringkali menyebabkan distorsi pada gambar yang ditampilkan, dan garis-garis yang berimpit. Kelemahan ini dapat ditanggulangi dengan proyeksi dimetri. Dimetri artinya ada dua jurusan sumbu yang sama panjang. Pada dimetri perbandingan yang sama terdapat pada dimensi tinggi dan panjang. Perbandingan yang lazim digunakan yaitu 2:2:1 atau 3:3:1 Perbandingan ini diikuti dengan konsekuensi pada sudut objek yang digambar terhadap garis horizon yaitu 41,4 derajat untuk sudut sebelah kanan dan 7,2 derajat untuk sudut sebelah kiri.

Gb. 8. Tampilan gambar dimetri.


c. Trimetri
Penggunaan proyeksi dimetri ternyata dirasakan banyak terjadi distorsi, oleh karena itu ukuran kedua rusuk/sumbu salah satunya (rusuk panjang) perlu dipendekkan, sehingga perbandingan yang sering digunakan adalah 10:9:5 atau 6:5:4.



Gb. 9. Tampilan gambar Trimetri.

3. Gambar Perspektif
Dalam penglihatan kita sehari-hari, benda-benda yang letaknya lebih dekat dengan mata terlihat lebih besar dan benda-benda yang terletak lebih jauh dengan mata terlihat lebih kecil. Semakin jauh letak benda dari mata kita, benda itu akan terlihat semakin kecil hingga akhirnya hanya tampak sebagai titik saja. Demikian juga dua benda atau lebih yang letaknya sejajar dan membujur menjauhi kita, semakin jauh dari mata, keduanya akan terlihat semakin berdekatan hingga akhirnya saling berimpit dan akan menjadi satu titik.

Gb. 9. Konstruksi gambar perspektif

Seperti halnya dalam proyeksi Eropa maka dalam gambar perspektifpun diupayakan agar bidang-bidang yang semula saling berpotongan harus dibentangkan menjadi bidang datar. Pembentangan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini. Bidang mata dibentangkan ke atas menjadi sejajar dengan bidang tafrir, begitu juga dengan bidang tanah yang dibentangkan ke bawah menjadi sejajar dengan bidang tafrir.

Gb.10. Bidang hasil pembentangan bidang mata dan bidang tanah menjadi sejajar bidang tafrir.

Selanjutnya, untuk kepentingan menggambar perspektif bidang itu menjadi disederhanakan seperti di bawah ini

Gb.11. Posisi mata, distansi, tinggi tafrir, garis horizon, dan garis tanah.

Gb.12. Contoh sebuah titik yang diproyeksikan dengan gambar perspektif


1. Perspektif satu titik lenyap (one point perspective)
Sistem perespektif ini digunakan untuk menggambar obyek (benda) yang terletak relatif dekat dengan mata. Karena letak obyek yang cukup dekat, akibatnya mata memiliki sudut pandang yang sempit, sehingga garis-garis batas benda akan menuju satu titik lenyap saja, kecuali bila sejajar dengan horizon dan tegak lurus terhadapnya. Gambar yang demikian sering disebut dengan paralel perspective sebab banyak menggunakan garis-garis bantu yang sejajar horizon dan vertikal. Penerapan gambar ini banyak digunakan pada gambar rancang bangun (desain) interior.
2. Perspektif dua titik lenyap (two point perspective)
Sistem gambar ini digunakan untuk menggambarkan benda-benda yang letaknya relatif jauh dan letaknya tidak sejajar (serong) terhadap mata pengamat. Karena posisi pengamat jauh dengan obyek maka sudut pandang mata melebar, akibatnya garis-garis batas benda akan menuju titik lenyap sebelah kiri dan kanan. Gambar ini banyak digunakan untuk desain eksterior.
3. Perspektif tiga titik lenyap (three point perspective)
Gambar perspektif ini muncul akibat benda/obyek yang diamati jauh di bawah atau ke atas horizon. Oleh karenanya sudut pandang mata melebar ke segala arah. Perspektif ini banyak digunakan untuk menggambar arsitektur bangunan yang serba tinggi.
Jika kita mengamati gambar di atas, titik A pada bidang tafrir yang merupakan titik pertemuan garis mata dengan kedudukan titik tersebut yang ditarik lurus ke garis tanah kemudian diteruskan ke P sebagai titik hilang. Memproyeksikan titik sebenarnya dapat melalui 4 cara seperti di bawah ini:
Cara pertama

Cara kedua

Cara ketiga
Cara keempat
Gb.13. Proyeksi sebuah garis yang tegak lurus dengan garis tanah.
Untuk benda-benda yang memiliki dimensi tinggi perhatikan gambar di bawah ini. Garis ketinggian benda diukur dari garis tanah tepat pada perpanjangan garis benda di garis tanah. Ukuran garis tinggi benda diukur dengan ukuran sebenarnya

perspektif

Gambar Proyeksi dan Perspektif
Posted on January 20, 2009 by mazgun
>>Download File


Kata proyeksi secara umum berarti bayangan. Gambar proyeksi berarti gambar bayangan suatu benda yang berasal dari benda nyata atau imajiner yang dituangkan dalam bidang gambar menurut cara-cara tertentu. Cara-cara tersebut berkenaan dengan arah garis pemroyeksi yang meliputi sejajar (paralel) dan memusat (sentral). Arah yang sejajar terdiri atas sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar dan sejajar akan tetapi miring terhadap bidang gambar.
Berdasarkan arah garis pemroyeksi tersebut dikenal berbagai jenis gambar proyeksi. Garis pemroyeksi yang sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar menghasilkan gambar proyeksi orthogonal yang terdiri dari proyeksi Eropa, proyeksi Amerika, dan proyeksi Aksonometri. Garis pemroyeksi yang sejajar tetapi miring terhadap bidang gambar menghasilkan proyeksi Oblik (miring). Sementara garis pemroyeksi yang memusat (sentral) terhadap bidang gambar menghasilkan gambar perspektif.

Gb.1. Contoh pandangan sejajar tegak



Secara umum berbagai jenis gambar proyeksi dan perspektif tersebut difungsikan sebagai sarana komunikasi dalam bentuk pictorial. Benda kongkret yang ada, misalnya meja atau kursi, digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain. Benda imajiner (khayalan penggambar), misalnya meja atau kursi yang sebelumnya tidak ada digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain misalnya tukang atau pemesan. Gambar proyeksi dan perspektif lebih banyak menampilkan benda imajiner, oleh karena itu sangat bermanfaat dalam bidang perencanaan.
1. Proyeksi Ortogonal (Eropa)
Penampilan gambar proyeksi Eropa relative sederhana dibandingkan dengan yang lain. Gambar ini menampilkan pandangan atas, depan (muka), dan samping. Oleh karena itu proyeksi Eropa sangat tepat digunakan untuk kepentingan perancangan mebel atau desain produk.
Sistem gambar proyeksi Eropa dihasilkan dari pemroyeksian pada ruang atau sudut pertama (first angel). Oleh karena itu proyeksi Eropa sering disebut proyeksi “Kuadran Pertama” atau “Kuadran I”. Ruang atau sudut penampilan tersebut berbentuk tiga dimensi, yang terdiri atas 3 bidang, yakni bidang I, II, dan III. Bidang I berfungsi untuk menampilkan bayangan benada tampak dari atas, bidang II untuk bayangan benda tampak depan, dan bidang III untuk bayangan benda tampak dari samping kiri. Oleh karena itu proyeksi Eropa sering dikelompokkan dalam proyeksi multiview (tampak ganda).
Jika diperhatikan sistem proyeksi Eropa ini menempatkan posisi benda/obyek yang digambar berada di antara titik pengamat (proyektor) dan proyeksi benda. Jika diurutkan maka posisi tersebut adalah pengamat, objek, dan gambar proyeksi. Posisi pengamat terhadap bidang gambar adalah tegak lurus. Di samping itu, masing-masing garis pemroyeksi yang merupakan hubungan dari titik pengamat dan benda sehingga menghasilkan proyeksi tersebut adalah sejajar sesamanya.
Ruang / sudut yang berbentuk tiga dimensi ini diubah sedemikian rupa menjadi dua dimensi. Dengan kata lain diubah menjadi bidang datar sehingga dapat dituangkan ke dalam bidang atau kertas gambar. Perubahan sudut / ruang tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:

Gb.2. Konstruksi ruang dalam proyeksi Eropa

Gb.3. Ruang dalam proyeksi Eropa yang dibentangkan menjadi bidang datar.

Gb 4. Sumbu proyeksi Eropa yang terbentuk karena rebahan ruang.



Gb. 5. Contoh cara memproyeksikan sebuah titik.

Gb.6. Contoh benda berupa kubus yang diproyeksikan dengan cara Eropa.


2. Proyeksi Aksonometri
Proyeksi Aksonometri tergolong jenis proyeksi sejajar (paralel) dan juga tegak (ortogonal). Perbedaannya dengan proyeksi Eropa terutama adalah dalam penampilan tampak. Dalam proyeksi Aksonometri diupayakan untuk penampilan tampak atas, depan, dan samping dalam satu kesatuan gambar tidak seperti dalam proyeksi Eropa yang terpisah oleh bidang-bidang. Gambar proyeksi Aksonometri menampilkan objek gambar baik yang kongkret maupun imajiner ke dalam bayangan tiga dimensi, oleh karena itu aksonometri tergolong jenis proyeksi piktorial.
Jenis proyeksi Aksonometri dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri adalah jenis proyeksi aksonometri berpenampilan tiga dimensi atau piktorial dengan besaran sudut masing-masing 120 0, dan perbadingan masing-masing ukuran tinggi, panjang, dan dalam yaitu 1:1:1. Besar sudut sumbu 1200 dapat digunakan alternatif dibuat sudut 300 terhadap horisontal (baik sudut kanan maupun kiri)
Gb.7. Tampilan gambar isometri.

b. Proyeksi Dimetri
Penggunaan isometri seringkali menyebabkan distorsi pada gambar yang ditampilkan, dan garis-garis yang berimpit. Kelemahan ini dapat ditanggulangi dengan proyeksi dimetri. Dimetri artinya ada dua jurusan sumbu yang sama panjang. Pada dimetri perbandingan yang sama terdapat pada dimensi tinggi dan panjang. Perbandingan yang lazim digunakan yaitu 2:2:1 atau 3:3:1 Perbandingan ini diikuti dengan konsekuensi pada sudut objek yang digambar terhadap garis horizon yaitu 41,4 derajat untuk sudut sebelah kanan dan 7,2 derajat untuk sudut sebelah kiri.

Gb. 8. Tampilan gambar dimetri.


c. Trimetri
Penggunaan proyeksi dimetri ternyata dirasakan banyak terjadi distorsi, oleh karena itu ukuran kedua rusuk/sumbu salah satunya (rusuk panjang) perlu dipendekkan, sehingga perbandingan yang sering digunakan adalah 10:9:5 atau 6:5:4.



Gb. 9. Tampilan gambar Trimetri.

3. Gambar Perspektif
Dalam penglihatan kita sehari-hari, benda-benda yang letaknya lebih dekat dengan mata terlihat lebih besar dan benda-benda yang terletak lebih jauh dengan mata terlihat lebih kecil. Semakin jauh letak benda dari mata kita, benda itu akan terlihat semakin kecil hingga akhirnya hanya tampak sebagai titik saja. Demikian juga dua benda atau lebih yang letaknya sejajar dan membujur menjauhi kita, semakin jauh dari mata, keduanya akan terlihat semakin berdekatan hingga akhirnya saling berimpit dan akan menjadi satu titik.

Gb. 9. Konstruksi gambar perspektif

Seperti halnya dalam proyeksi Eropa maka dalam gambar perspektifpun diupayakan agar bidang-bidang yang semula saling berpotongan harus dibentangkan menjadi bidang datar. Pembentangan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini. Bidang mata dibentangkan ke atas menjadi sejajar dengan bidang tafrir, begitu juga dengan bidang tanah yang dibentangkan ke bawah menjadi sejajar dengan bidang tafrir.

Gb.10. Bidang hasil pembentangan bidang mata dan bidang tanah menjadi sejajar bidang tafrir.

Selanjutnya, untuk kepentingan menggambar perspektif bidang itu menjadi disederhanakan seperti di bawah ini

Gb.11. Posisi mata, distansi, tinggi tafrir, garis horizon, dan garis tanah.

Gb.12. Contoh sebuah titik yang diproyeksikan dengan gambar perspektif


1. Perspektif satu titik lenyap (one point perspective)
Sistem perespektif ini digunakan untuk menggambar obyek (benda) yang terletak relatif dekat dengan mata. Karena letak obyek yang cukup dekat, akibatnya mata memiliki sudut pandang yang sempit, sehingga garis-garis batas benda akan menuju satu titik lenyap saja, kecuali bila sejajar dengan horizon dan tegak lurus terhadapnya. Gambar yang demikian sering disebut dengan paralel perspective sebab banyak menggunakan garis-garis bantu yang sejajar horizon dan vertikal. Penerapan gambar ini banyak digunakan pada gambar rancang bangun (desain) interior.
2. Perspektif dua titik lenyap (two point perspective)
Sistem gambar ini digunakan untuk menggambarkan benda-benda yang letaknya relatif jauh dan letaknya tidak sejajar (serong) terhadap mata pengamat. Karena posisi pengamat jauh dengan obyek maka sudut pandang mata melebar, akibatnya garis-garis batas benda akan menuju titik lenyap sebelah kiri dan kanan. Gambar ini banyak digunakan untuk desain eksterior.
3. Perspektif tiga titik lenyap (three point perspective)
Gambar perspektif ini muncul akibat benda/obyek yang diamati jauh di bawah atau ke atas horizon. Oleh karenanya sudut pandang mata melebar ke segala arah. Perspektif ini banyak digunakan untuk menggambar arsitektur bangunan yang serba tinggi.
Jika kita mengamati gambar di atas, titik A pada bidang tafrir yang merupakan titik pertemuan garis mata dengan kedudukan titik tersebut yang ditarik lurus ke garis tanah kemudian diteruskan ke P sebagai titik hilang. Memproyeksikan titik sebenarnya dapat melalui 4 cara seperti di bawah ini:
Cara pertama

Cara kedua

Cara ketiga
Cara keempat
Gb.13. Proyeksi sebuah garis yang tegak lurus dengan garis tanah.
Untuk benda-benda yang memiliki dimensi tinggi perhatikan gambar di bawah ini. Garis ketinggian benda diukur dari garis tanah tepat pada perpanjangan garis benda di garis tanah. Ukuran garis tinggi benda diukur dengan ukuran sebenarnya

perspektif

anomali perspektif
Edo on February 19th, 2008
Perspektif. Sepertinya dalam hidup kita tidak bisa dipisahkan dari perspektif. Perspektif tentang hidup, tentang diri sendiri, tentang orang lain. Perspektif individu ini lalu mengalami generalisasi ketika sekelompok orang memiliki pandangan yang sama. Dimata saya, perspektif adalah sudut pandang, sudut pandang dalam melihat, menilai sesuatu. Impactnya, tentu saja perspektif itu sangat tergantung oleh “siapa” yang melakukannya. Tentu saja akan cenderung subyektif.Saya mencoba mencari definisi perspektif di wiki. Tidak ada di wiki indonesia. Namun di wiki english saya menemukan definisinya yang diartikan sebagai “one’s “point of view”, the choice of a context for opinions, beliefs and experiences”, “the related experience of the narrator”.
Lalu kenapa saya ingin membahas tentang perspektif?
Karena perspektiflah yang mendasari opini. Dan opini punya pengaruh besar membentuk mindset. Pola pikir. Dan ujung-ujungnya, mampu membentuk jadi diri. Entah itu pribadi, sekelompok orang, bahkan sampai ke level yang lebih besar.
Tidak percaya? Dalam issue regional, tulisan mas imam tentang walikota Bukittinggi yang melarang valentine karena berbau maksiat. Dimilis alumni saya tindakan sang walikota ini sangat didukung dengan alasan “mengembalikan kejayaan Bukittinggi sebagai nagari yang memegang teguh nilai-nilai agama”.
Kurang? lihat issue Nasional tentang lumpur lapindo, ketika para pengambil kebijakan akan mengarahkan kasus ini dalam konteks bencana alam. Bandingkan dengan pendapat para ahli yang melihat sebaliknya.
Mau lebih jadul? Ok. Ada berapa banyak orang yang juga menghalalkan darah seorang Salman Rusdie, meskipun bahkan sebenarnya saya berani bertaruh tidak sedikit yang tidak mengerti sama sekali siapa dia, apa yang dia tulis. Apalagi membaca bukunya. But wait, tolong jangan anggap saya tengah membela Salman Rusdie dan lalu darah saya, karena kutipan ini juga menjadi halal ditangan saudara-saudara saya.
Dalam kehidupan sehari-hari maka hal ini jelas lebih banyak lagi kasusnya. Ketika melihat seseorang hitam keningnya, berbaju koko, berkopiah, maka perspektif yang muncul adalah figur seseorang yang beriman. Kalau pakai celana jeans maka dia kebarat-baratan. Yang masuk masjid pasti orang beriman. Yang masuk bar jelas para bajingan. Perspektif, opini, telah menjadi sebuah kebenaran global dalam konteks kemasyarakatan.
Lalu kenapa anomali?
Karena menurut saya, secara makro, terutama di pikiran orang yang berada di lingkaran terdekat dan berada di level mayoritas, maka pendapat yang berbeda dari opini umum yang berlaku adalah anomali. Para anomali ini bisa dianggap telah menabrak dinding nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Pada anomali secara umum tengah menjadi maling yang hidup dilingkungan para kiai, atau bisa jadi malah sebaliknya. Itulah seorang anomali.
Tidak suka? Yah, sah sah saja. saya siap kok di komplain oleh nama-nama yang saya sebut diatas. Inilah perspektif saya tentang realita masyarakat. Tentang sebuah kebenaran komunal.
Ada resiko yang tengah dijalankan seorang anomali. Negara ini katanya memang negara hukum. Tapi sepertinya hukumpun ternyata tidak saklek dan tetap saja bisa diperspektifkan. Mungkin benar negara ini negara hukum. Hukum opini. Hukum kekuasaan. Atas nama kebenaran. Entah kebenaran siapa. Entah kebenaran yang mana. Semoga saya salah.
Ketika beberapa hari lalu saya menonton monolog Butet Kertaredjasa di Metro TV yang secara satir memvisualisasikan dunia hukum, keadilan, polisi, sarimin sang tukang topeng monyet, dalam tawa saya hanya bisa berharap. Semoga Butet Kertaredjasa masih hidup, tidak “di-Munir” kan. Tapi saya yakin seorang Butet, seorang Mas Iman, para geolog lapindo sadar betul resiko yang dihadapinya. Sebagai seorang anomali.
Bagaimana kita harus menyikapinya? Bagaimana kalau ternyata, ya yang begini inilah yang memang jati diri Masyarakat Indonesia? Haruskah kita mengikuti arus? Atau tetap menyuarakan perbedaan?Ironisnya, hampir mayoritas tokoh-tokoh legendaris, sangat dekat dengan ke-anomali-an. Lihat saja nasib seorang Einstain, Newton, Soekarno, Soeharto, etc. Andai diantara mereka lalu kecele dan menyeleweng dari mainstream yang dia bawa, relatif itu terjadi ketika ia terlalu lama dalam mainstream itu sendiri. Lupa bahwa dia dulu juga seorang pembaharu, yang jika dia sendiri tak terbaharukan, maka dialah yang akan jadi tumbal. Posisi status quo, terlalu lama di confort zone-lah yang menyebabkan mereka hancur. Sedangkan orang-orang yang konsisten menerima pertumbuhan alam semesta, harum namanya diakhir hayatnya.
Kecerdasan itu dekat dengan kegilaan. Sebuah kalimat yang sering saya dengar. Jangan-jangan nabi Muhammad pun pada saat di utus oleh Tuhan di masyarakat Quraisy, dia juga dianggap anomali saat itu, sama halnya dengan nabi-nabi sebelum beliau dimasanya masing-masing. Namun Rasulullah secara konsisten menyampaikan pesan-pesan Tuhan.Pembaharu. Perubahan. Sayang, banyak orang tidak siap dengan perubahan. Tidak banyak orang yang siap dengan perbedaan. Lebih banyak orang nyaman pada confort zonenya. Pada pembawa perubahan sering menjadi musuh bagi masyarakat saat itu. Seorang yang berbeda memiliki resiko dalam hidupnya. Disisihkan, dibenci, bahkan bisa ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Dan yang lebih sering lagi, berperang dengan dirinya sendiri, untuk konsisten atau mengikuti pendapat mayoritas. Tidak semua orang kuat menjadi seperti itu.Semoga para pembaharu diberi kekuatan dan konsistensi. Namun tetap membuka mata, membuka telinga agar pembaharuan yang dibawa tidak menjadi racun yang membunuhnya sendiri. Agar dia tidak mati oleh nilai yang dia bawa sendiri. Terjebak dalam pembenaran-pembenarannya sendiri.Dan diakhir tulisan ini, saya mohon maaf atas nama-nama yang saya bawa. Ini hanya contoh. Silahkan beropini, dengan perspektif masing-masing tentunya…
nama : Istiqomah
kelas : XI IPA 1

perspektif

anomali perspektif
Edo on February 19th, 2008
Perspektif. Sepertinya dalam hidup kita tidak bisa dipisahkan dari perspektif. Perspektif tentang hidup, tentang diri sendiri, tentang orang lain. Perspektif individu ini lalu mengalami generalisasi ketika sekelompok orang memiliki pandangan yang sama. Dimata saya, perspektif adalah sudut pandang, sudut pandang dalam melihat, menilai sesuatu. Impactnya, tentu saja perspektif itu sangat tergantung oleh “siapa” yang melakukannya. Tentu saja akan cenderung subyektif.Saya mencoba mencari definisi perspektif di wiki. Tidak ada di wiki indonesia. Namun di wiki english saya menemukan definisinya yang diartikan sebagai “one’s “point of view”, the choice of a context for opinions, beliefs and experiences”, “the related experience of the narrator”.
Lalu kenapa saya ingin membahas tentang perspektif?
Karena perspektiflah yang mendasari opini. Dan opini punya pengaruh besar membentuk mindset. Pola pikir. Dan ujung-ujungnya, mampu membentuk jadi diri. Entah itu pribadi, sekelompok orang, bahkan sampai ke level yang lebih besar.
Tidak percaya? Dalam issue regional, tulisan mas imam tentang walikota Bukittinggi yang melarang valentine karena berbau maksiat. Dimilis alumni saya tindakan sang walikota ini sangat didukung dengan alasan “mengembalikan kejayaan Bukittinggi sebagai nagari yang memegang teguh nilai-nilai agama”.
Kurang? lihat issue Nasional tentang lumpur lapindo, ketika para pengambil kebijakan akan mengarahkan kasus ini dalam konteks bencana alam. Bandingkan dengan pendapat para ahli yang melihat sebaliknya.
Mau lebih jadul? Ok. Ada berapa banyak orang yang juga menghalalkan darah seorang Salman Rusdie, meskipun bahkan sebenarnya saya berani bertaruh tidak sedikit yang tidak mengerti sama sekali siapa dia, apa yang dia tulis. Apalagi membaca bukunya. But wait, tolong jangan anggap saya tengah membela Salman Rusdie dan lalu darah saya, karena kutipan ini juga menjadi halal ditangan saudara-saudara saya.
Dalam kehidupan sehari-hari maka hal ini jelas lebih banyak lagi kasusnya. Ketika melihat seseorang hitam keningnya, berbaju koko, berkopiah, maka perspektif yang muncul adalah figur seseorang yang beriman. Kalau pakai celana jeans maka dia kebarat-baratan. Yang masuk masjid pasti orang beriman. Yang masuk bar jelas para bajingan. Perspektif, opini, telah menjadi sebuah kebenaran global dalam konteks kemasyarakatan.
Lalu kenapa anomali?
Karena menurut saya, secara makro, terutama di pikiran orang yang berada di lingkaran terdekat dan berada di level mayoritas, maka pendapat yang berbeda dari opini umum yang berlaku adalah anomali. Para anomali ini bisa dianggap telah menabrak dinding nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Pada anomali secara umum tengah menjadi maling yang hidup dilingkungan para kiai, atau bisa jadi malah sebaliknya. Itulah seorang anomali.
Tidak suka? Yah, sah sah saja. saya siap kok di komplain oleh nama-nama yang saya sebut diatas. Inilah perspektif saya tentang realita masyarakat. Tentang sebuah kebenaran komunal.
Ada resiko yang tengah dijalankan seorang anomali. Negara ini katanya memang negara hukum. Tapi sepertinya hukumpun ternyata tidak saklek dan tetap saja bisa diperspektifkan. Mungkin benar negara ini negara hukum. Hukum opini. Hukum kekuasaan. Atas nama kebenaran. Entah kebenaran siapa. Entah kebenaran yang mana. Semoga saya salah.
Ketika beberapa hari lalu saya menonton monolog Butet Kertaredjasa di Metro TV yang secara satir memvisualisasikan dunia hukum, keadilan, polisi, sarimin sang tukang topeng monyet, dalam tawa saya hanya bisa berharap. Semoga Butet Kertaredjasa masih hidup, tidak “di-Munir” kan. Tapi saya yakin seorang Butet, seorang Mas Iman, para geolog lapindo sadar betul resiko yang dihadapinya. Sebagai seorang anomali.
Bagaimana kita harus menyikapinya? Bagaimana kalau ternyata, ya yang begini inilah yang memang jati diri Masyarakat Indonesia? Haruskah kita mengikuti arus? Atau tetap menyuarakan perbedaan?Ironisnya, hampir mayoritas tokoh-tokoh legendaris, sangat dekat dengan ke-anomali-an. Lihat saja nasib seorang Einstain, Newton, Soekarno, Soeharto, etc. Andai diantara mereka lalu kecele dan menyeleweng dari mainstream yang dia bawa, relatif itu terjadi ketika ia terlalu lama dalam mainstream itu sendiri. Lupa bahwa dia dulu juga seorang pembaharu, yang jika dia sendiri tak terbaharukan, maka dialah yang akan jadi tumbal. Posisi status quo, terlalu lama di confort zone-lah yang menyebabkan mereka hancur. Sedangkan orang-orang yang konsisten menerima pertumbuhan alam semesta, harum namanya diakhir hayatnya.
Kecerdasan itu dekat dengan kegilaan. Sebuah kalimat yang sering saya dengar. Jangan-jangan nabi Muhammad pun pada saat di utus oleh Tuhan di masyarakat Quraisy, dia juga dianggap anomali saat itu, sama halnya dengan nabi-nabi sebelum beliau dimasanya masing-masing. Namun Rasulullah secara konsisten menyampaikan pesan-pesan Tuhan.Pembaharu. Perubahan. Sayang, banyak orang tidak siap dengan perubahan. Tidak banyak orang yang siap dengan perbedaan. Lebih banyak orang nyaman pada confort zonenya. Pada pembawa perubahan sering menjadi musuh bagi masyarakat saat itu. Seorang yang berbeda memiliki resiko dalam hidupnya. Disisihkan, dibenci, bahkan bisa ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Dan yang lebih sering lagi, berperang dengan dirinya sendiri, untuk konsisten atau mengikuti pendapat mayoritas. Tidak semua orang kuat menjadi seperti itu.Semoga para pembaharu diberi kekuatan dan konsistensi. Namun tetap membuka mata, membuka telinga agar pembaharuan yang dibawa tidak menjadi racun yang membunuhnya sendiri. Agar dia tidak mati oleh nilai yang dia bawa sendiri. Terjebak dalam pembenaran-pembenarannya sendiri.Dan diakhir tulisan ini, saya mohon maaf atas nama-nama yang saya bawa. Ini hanya contoh. Silahkan beropini, dengan perspektif masing-masing tentunya…
nama : Istiqomah
kelas : XI IPA 1

PERSPEKTIF NOVIE EGRIANAWATY XI IPA 1

Dua Teknik Dasar: perspektif penerjemah IndonesiaPenerjemahan gampang-gampang susah. Mengapa?Jika ada individu merasa dapat berbahasa dua misalnya bahasa Indonesia dan Inggris, dapat saja menjalankan aktivitas penerjemahan. Memang sungguh mudah.Dua pendekatan yang dapat diimplementasikan saat memulai penerjemahan adalah mengambil posisi atau strategi dasar.Yang Terdengar vs Yang TerlihatBahasa adalah rangkaian bunyi yang manasuka. Namun, kemanasukaannya ini sungguh manasuka.Seperti kata Shakespeare, “What’s in a name?”Mau bunga mawar, ros, bunga merah tetap saja bunga. Rangkaian bunyi refleksi bunga tetap tidak dapat membuang keharuman, kemerahan, keelokan bunga. Masalahnya bunyi “mawar” yang diucapkan dan yang terlihat dalam bentuk tulisan “mawar” ini dapat saja berubah tergantung dari mana yang dijadikan dasar pengalihan dari bahasa sumber ke bahasa target.Contoh yang terdengar dan yang terlihat diperlihatkan seperti yang berikut ini. Pengalihan bahasa Inggris ke bahasa Melayu, “August” jadi “Ogos”, sementara “police” jadi “polis”. Bahasa Indonesia memakai pendekatan yang terlihat. Misalnya “structure” jadi “struktur” bukan *”strakcer” atau “democracy” jadi “demokrasi” bukan *”demokresi”. Lagi-lagi “computer”/ “komputer”, “television”/”televisi”.Dari para pencetus (baik yang mencetus EYD dan yang mengikuti) ada dorongan ingin mempertahankan bentuk secara kasat lewat huruf yang tidak jauh dari asli. Dan, kebanyakan kata pungutan ini lebih banyak dari bahasa Inggris. Memang ada dari berbagai bahasa lain temasuk bahasa daerah yang masuk menjadi pembantu kata pungutan. Namun, serangan pengambilan bahasa pungutan lebih banyak dari bahasa Inggris. Apakah ini karena bahasa Inggris mendunia saat ini? Entahlah.Namua ada paradoks jika bahasa Inggris ingin dikedepankan dan ingin diingat sebagai rujukan pengambilan bahasa pungutan mengapa bahasa Latin condong jadi pegangan? Apakah karena bahasa Indonesia disebut bahasa latin. Mungkin.Terlepas dari ide awal para pengusung awal atau “founding fathers” tetap bahasa Indonesia lebih banyak mengambil pendekatan yang terlihat.Contoh lain: Glossary (bahasa Inggris), cenderung diindonesiakan glosarium. Mengapa tidak glosari. Toh, “glossary” lebih dekat daripada “glosarium” sebagai fondasi. Mengapa “sites” jadi “situs” bukan *”saites”. Masih banyak contoh yang saat ini saya tidak bisa ungkapkan karena saya rasa Anda akan dapat lebih banyak memberikan contoh nyata yang terkini dan mutakhir.Jadi, dari contoh sederhana, bahasa Inggris yang diindonesiakan memang mengambil pendekatan semacam ini.Bila, Anda sebagai penerjemah tentu memiliki otoritas untuk menentukan “otherwise” atau berbeda. Tapi tentu kaidah mendasar yang patut jadi rujukan harus konsisten alias bisa tetap, namun lagi-lagi arus deras mayoritas akan membuat otoritas kita menjadi terikuti arus.Bagaimana Anda memilih pendekatan terjemahan. Yang terdengar atau yang terlihat. Terserah Anda.

PERSPEKTIF NOVIE EGRIANAWATY XI IPA 1

Dua Teknik Dasar: perspektif penerjemah IndonesiaPenerjemahan gampang-gampang susah. Mengapa?Jika ada individu merasa dapat berbahasa dua misalnya bahasa Indonesia dan Inggris, dapat saja menjalankan aktivitas penerjemahan. Memang sungguh mudah.Dua pendekatan yang dapat diimplementasikan saat memulai penerjemahan adalah mengambil posisi atau strategi dasar.Yang Terdengar vs Yang TerlihatBahasa adalah rangkaian bunyi yang manasuka. Namun, kemanasukaannya ini sungguh manasuka.Seperti kata Shakespeare, “What’s in a name?”Mau bunga mawar, ros, bunga merah tetap saja bunga. Rangkaian bunyi refleksi bunga tetap tidak dapat membuang keharuman, kemerahan, keelokan bunga. Masalahnya bunyi “mawar” yang diucapkan dan yang terlihat dalam bentuk tulisan “mawar” ini dapat saja berubah tergantung dari mana yang dijadikan dasar pengalihan dari bahasa sumber ke bahasa target.Contoh yang terdengar dan yang terlihat diperlihatkan seperti yang berikut ini. Pengalihan bahasa Inggris ke bahasa Melayu, “August” jadi “Ogos”, sementara “police” jadi “polis”. Bahasa Indonesia memakai pendekatan yang terlihat. Misalnya “structure” jadi “struktur” bukan *”strakcer” atau “democracy” jadi “demokrasi” bukan *”demokresi”. Lagi-lagi “computer”/ “komputer”, “television”/”televisi”.Dari para pencetus (baik yang mencetus EYD dan yang mengikuti) ada dorongan ingin mempertahankan bentuk secara kasat lewat huruf yang tidak jauh dari asli. Dan, kebanyakan kata pungutan ini lebih banyak dari bahasa Inggris. Memang ada dari berbagai bahasa lain temasuk bahasa daerah yang masuk menjadi pembantu kata pungutan. Namun, serangan pengambilan bahasa pungutan lebih banyak dari bahasa Inggris. Apakah ini karena bahasa Inggris mendunia saat ini? Entahlah.Namua ada paradoks jika bahasa Inggris ingin dikedepankan dan ingin diingat sebagai rujukan pengambilan bahasa pungutan mengapa bahasa Latin condong jadi pegangan? Apakah karena bahasa Indonesia disebut bahasa latin. Mungkin.Terlepas dari ide awal para pengusung awal atau “founding fathers” tetap bahasa Indonesia lebih banyak mengambil pendekatan yang terlihat.Contoh lain: Glossary (bahasa Inggris), cenderung diindonesiakan glosarium. Mengapa tidak glosari. Toh, “glossary” lebih dekat daripada “glosarium” sebagai fondasi. Mengapa “sites” jadi “situs” bukan *”saites”. Masih banyak contoh yang saat ini saya tidak bisa ungkapkan karena saya rasa Anda akan dapat lebih banyak memberikan contoh nyata yang terkini dan mutakhir.Jadi, dari contoh sederhana, bahasa Inggris yang diindonesiakan memang mengambil pendekatan semacam ini.Bila, Anda sebagai penerjemah tentu memiliki otoritas untuk menentukan “otherwise” atau berbeda. Tapi tentu kaidah mendasar yang patut jadi rujukan harus konsisten alias bisa tetap, namun lagi-lagi arus deras mayoritas akan membuat otoritas kita menjadi terikuti arus.Bagaimana Anda memilih pendekatan terjemahan. Yang terdengar atau yang terlihat. Terserah Anda.

perspektif

then the show must go on…

anomali perspektif

Edo on February 19th, 2008

Perspektif. Sepertinya dalam hidup kita tidak bisa dipisahkan dari perspektif. Perspektif tentang hidup, tentang diri sendiri, tentang orang lain. Perspektif individu ini lalu mengalami generalisasi ketika sekelompok orang memiliki pandangan yang sama. Dimata saya, perspektif adalah sudut pandang, sudut pandang dalam melihat, menilai sesuatu. Impactnya, tentu saja perspektif itu sangat tergantung oleh “siapa” yang melakukannya. Tentu saja akan cenderung subyektif.
Saya mencoba mencari definisi perspektif di wiki. Tidak ada di wiki indonesia. Namun di wiki english saya menemukan definisinya yang diartikan sebagai “one’s “point of view”, the choice of a context for opinions, beliefs and experiences”, “the related experience of the narrator”.

Lalu kenapa saya ingin membahas tentang perspektif?

Karena perspektiflah yang mendasari opini. Dan opini punya pengaruh besar membentuk mindset. Pola pikir. Dan ujung-ujungnya, mampu membentuk jadi diri. Entah itu pribadi, sekelompok orang, bahkan sampai ke level yang lebih besar.

Tidak percaya? Dalam issue regional, tulisan mas imam tentang walikota Bukittinggi yang melarang valentine karena berbau maksiat. Dimilis alumni saya tindakan sang walikota ini sangat didukung dengan alasan “mengembalikan kejayaan Bukittinggi sebagai nagari yang memegang teguh nilai-nilai agama”.

Kurang? lihat issue Nasional tentang lumpur lapindo, ketika para pengambil kebijakan akan mengarahkan kasus ini dalam konteks bencana alam. Bandingkan dengan pendapat para ahli yang melihat sebaliknya.

Mau lebih jadul? Ok. Ada berapa banyak orang yang juga menghalalkan darah seorang Salman Rusdie, meskipun bahkan sebenarnya saya berani bertaruh tidak sedikit yang tidak mengerti sama sekali siapa dia, apa yang dia tulis. Apalagi membaca bukunya. But wait, tolong jangan anggap saya tengah membela Salman Rusdie dan lalu darah saya, karena kutipan ini juga menjadi halal ditangan saudara-saudara saya.

Dalam kehidupan sehari-hari maka hal ini jelas lebih banyak lagi kasusnya. Ketika melihat seseorang hitam keningnya, berbaju koko, berkopiah, maka perspektif yang muncul adalah figur seseorang yang beriman. Kalau pakai celana jeans maka dia kebarat-baratan. Yang masuk masjid pasti orang beriman. Yang masuk bar jelas para bajingan. Perspektif, opini, telah menjadi sebuah kebenaran global dalam konteks kemasyarakatan.

Lalu kenapa anomali?

Karena menurut saya, secara makro, terutama di pikiran orang yang berada di lingkaran terdekat dan berada di level mayoritas, maka pendapat yang berbeda dari opini umum yang berlaku adalah anomali. Para anomali ini bisa dianggap telah menabrak dinding nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Pada anomali secara umum tengah menjadi maling yang hidup dilingkungan para kiai, atau bisa jadi malah sebaliknya. Itulah seorang anomali.

Tidak suka? Yah, sah sah saja. saya siap kok di komplain oleh nama-nama yang saya sebut diatas. Inilah perspektif saya tentang realita masyarakat. Tentang sebuah kebenaran komunal.

Ada resiko yang tengah dijalankan seorang anomali. Negara ini katanya memang negara hukum. Tapi sepertinya hukumpun ternyata tidak saklek dan tetap saja bisa diperspektifkan. Mungkin benar negara ini negara hukum. Hukum opini. Hukum kekuasaan. Atas nama kebenaran. Entah kebenaran siapa. Entah kebenaran yang mana. Semoga saya salah.

Ketika beberapa hari lalu saya menonton monolog Butet Kertaredjasa di Metro TV yang secara satir memvisualisasikan dunia hukum, keadilan, polisi, sarimin sang tukang topeng monyet, dalam tawa saya hanya bisa berharap. Semoga Butet Kertaredjasa masih hidup, tidak “di-Munir” kan. Tapi saya yakin seorang Butet, seorang Mas Iman, para geolog lapindo sadar betul resiko yang dihadapinya. Sebagai seorang anomali.

Bagaimana kita harus menyikapinya? Bagaimana kalau ternyata, ya yang begini inilah yang memang jati diri Masyarakat Indonesia? Haruskah kita mengikuti arus? Atau tetap menyuarakan perbedaan?
Ironisnya, hampir mayoritas tokoh-tokoh legendaris, sangat dekat dengan ke-anomali-an. Lihat saja nasib seorang Einstain, Newton, Soekarno, Soeharto, etc. Andai diantara mereka lalu kecele dan menyeleweng dari mainstream yang dia bawa, relatif itu terjadi ketika ia terlalu lama dalam mainstream itu sendiri. Lupa bahwa dia dulu juga seorang pembaharu, yang jika dia sendiri tak terbaharukan, maka dialah yang akan jadi tumbal. Posisi status quo, terlalu lama di confort zone-lah yang menyebabkan mereka hancur. Sedangkan orang-orang yang konsisten menerima pertumbuhan alam semesta, harum namanya diakhir hayatnya.

Kecerdasan itu dekat dengan kegilaan. Sebuah kalimat yang sering saya dengar. Jangan-jangan nabi Muhammad pun pada saat di utus oleh Tuhan di masyarakat Quraisy, dia juga dianggap anomali saat itu, sama halnya dengan nabi-nabi sebelum beliau dimasanya masing-masing. Namun Rasulullah secara konsisten menyampaikan pesan-pesan Tuhan.
Pembaharu. Perubahan. Sayang, banyak orang tidak siap dengan perubahan. Tidak banyak orang yang siap dengan perbedaan. Lebih banyak orang nyaman pada confort zonenya. Pada pembawa perubahan sering menjadi musuh bagi masyarakat saat itu. Seorang yang berbeda memiliki resiko dalam hidupnya. Disisihkan, dibenci, bahkan bisa ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Dan yang lebih sering lagi, berperang dengan dirinya sendiri, untuk konsisten atau mengikuti pendapat mayoritas. Tidak semua orang kuat menjadi seperti itu.
Semoga para pembaharu diberi kekuatan dan konsistensi. Namun tetap membuka mata, membuka telinga agar pembaharuan yang dibawa tidak menjadi racun yang membunuhnya sendiri. Agar dia tidak mati oleh nilai yang dia bawa sendiri. Terjebak dalam pembenaran-pembenarannya sendiri.
Dan diakhir tulisan ini, saya mohon maaf atas nama-nama yang saya bawa. Ini hanya contoh. Silahkan beropini, dengan perspektif masing-masing tentunya…



nama : chandra irnasari

kelas : XI ipa 2




• Latar belakang
Menghias sandal jepit agar lebih indah, karena zaman sekarang jarang sekali orang – orang menggunakan barang – barang yang dijual di warung atau pasar seperti sandal jepit,di karenakan yang harganya lebih murah.Apa lagi di kalangan kaum muda.Dan melatih keterampilan kita.Dan menghemat biaya serta menimbulkan rasa bangga kita terhadap suatu karya seni buatan sendiri.

• Alat dan Bahan :

Alat :
1. cutter atau pisau
2. Pensil
3. Gunting

Bahan :
1. satu pasang sandal jepit

• Cara Membuat

buat sketsa pda sandal jepit lalu ukir sesuai dengan keinginan.

nama : Dini Akbar
kelas : XI IPS 2

perspektip

persfektif

METODE PENGGAMBARAN PERSPEKTIF<>

Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat. Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan ukuran yang pasti dan tepat.

1. Perspektif Satu Titik Hilang

Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.

<>
Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap garis normal/cakrawala).

Perspektif satu titik hilang menggambarkan sebuah objek dengan satu titik pedoman yang menghubungkan dengan bidang gambar. Metode ini menggunakan hanya satu titik hilang di mana semua garis perspektif tersebut akan tertuju, serta satu titik ukur yang berperan pula sebagai titik diagonal (lihat gambar).
Gambar perspektif satu titik hilang sangat membantu dalam proses awal dan pengembangan gagasan sebuah desain, namun jarang sekali digunakan para desainer untuk presentasi akhir sebuah desain.
Perspektif Satu Titik Metode Garis Tanah
Metode garis tanah banyak digunakan karena relatif paling praktis dan garis-garis konstruksinya sederhana. Akan tetapi metode ini terbatas penggunaannya untuk ruangan geometris sederhana berbentuk kotak dengan arah pandangan harus selalu frontal (tegak lurus) terhadap salah satu bidang dinding datar dalam ruangan
Metode ini menggunakan perpanjangan garis tanah sebagai garis ukur untuk menerapkan ukuran-ukuran sebenarnya yang sejajar dengan garis sumbu pandangan.
Bidang A.B.B1.A1 (salah satu dinding ruangan) yang mendasari gambar perspektif ruangan.
Pada perpanjangan garis tanah (ke kiri maupun ke kanan) garis BD diukurkan (dalam gambar = B’D1).
Dari titik D1 ditarik garis yang tgak lurus terhadap garis B’D’ dan perpanjangan garis ini memotong garis horison pada titik TU yang berfungsi sebagai titik ukur bagi semua ukuran kedalaman lainnya.
2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik hilang.
Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat. Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o, semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat miring menuju ke dua titik hilang.
Hanya ada satu garis horisontal dan vertikal yang digunakan sebagai skala pengukuran, yaitu garis horisontal dan vertikal pada sudut terdekat atau terjauh dari objek tersebut (dianjurkan menggunakan garis pada sudut terjauh dari objek tersebut).
Perspektif dua titik hilang sangat sulit untuk digambar secara terukur. Bagaimanapun, perspektif dua titik hilang menampilkan gambar yang terlihat lebih alami dengan sedikit distorsi dibanding metode perspektif yang lainnya.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Titik Ukur
Garis AB merupakan garis batas pandangan terhadap ruangan yang akan digambar. Letak dan posisinya ditentukan sendiri sesuai dengan kebutuhan.
Titik mata M dan tinggi cakrawala diatas garis tanah juga ditentukan sendiri. Dari titik M ditarik dua garis lurus yang membentuk sudut siku-siku (saling tegak lurus), kedua garis memotong garis cakrawala pada dua titik hilang (H3 dan H4) dengan letak yang juga ditentukan sendiri. Titik U1 dan U2 berfungsi sebagai titik ukur.
Pada garis A1.A atau B1.B diukurkan tinggi langit-langit ruangan, tinggi pintu dan semua ukuran lain ke arah vertikal yang diperlukan.
Dengan mengukurkan potongan garis p1, p2, p3 dan p4 pada garis A1-B1 dan menghubungkannya dengan titik ukur yang sesuai (U1 atau U2) maka titik-titik yang diinginkan akan ditemukan dan gambar perspektif ruangan dapat digambarkan dalam kerangka bidang A1.B1.TL.C.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Garis Ukur
Seperti halnya pada metode titik ukur, pada metode ini letak garis AB, tinggi cakrawala dan letak titik hilang ditetapkan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip metode ini:
Dari titik yang ingin ditemukan dalam perspektif ditarik dua garis yang masing-masing sejajar dengan dua dinding ruangan yang tergambar pada denah. Kemudian titik-titik potong yang terjadi dengan garis AB diproyeksikan ke garis tanah dan diteruskan ke titik hilang yang sesuai. Titik potong kedua garis proyeksi ini adalah titik yang dicari dalam gambar perspektif. Contoh: lihat konstruksi garis untuk menemukan titik C pada gambar perspektif (=C1).
Titik L adalah ketinggian langit-langit ruangan, sedangkan titik P adalah ketinggian pintu. Kedua ukuran ini dan ukuran lain ke arah vertikal dapat diukurkan pada garis B1.L atau garis A1.A2.
Bidang A1.B1.L.A2 adalah bidang batas pandangan perspektif terhadap ruangan yang digambar.
3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang memiliki sudut yang sama, yaitu 60o (lihat gambar).

Penggunaan metode tiga titik hilang dapat menyebabkan distorsi yang berlebihan karena hampir semua garis tertuju pada titik hilang-titik hilang. Ini berarti dalam menggambarkan perspektif tiga titik hilang membutuhkan kemampuan visualisasi yang sangat baik. Walaupun begitu, perspektif tiga titik hilang masih dapat diukur, yaitu dengan menggunakan titik diagonal yang berjumlah tiga buah yang terletak di antara ketiga titik hilang (lihat gambar).
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.

nama : hilmatul maula
kelas : XI IPS 1