Cari di Blog Ini

Saturday, October 24, 2009

BATIK

BATIK

Kain batik sangat dikenal
karena memang sudah jadi kain “wajib punya” untuk acara-acara
resmi atau acara adat. Batik sendiri adalah salah satu tekhnik
menghias kain menggunakan malam (Lilin). Kain batik dapat dijumpai
dibanyak tempat selain jawa Tengah, seperti Jawa barat, Jawa Timur,
dan Bali dengan motif-motif berbeda sesuai cirri khas daerahnya.

JUMPUTAN
(Pelangi)

Jumputan(pelangi) adalah
kain yang dihias dengan tekhnik ikat celup (tie-die). Kain ini banyak
ditemui diSumatra Selatan dan Jawa Tengah. Saat ini, karena warnanya
cerah jumputan banyak digunakan sebagai pengganti kain batik untuk
acara-acara pernikahan sebagai paduan kebaya.

TENUN
Kain tenun banyak banget
jenisnya tapi yang banyak kita jumpai adalah kain songket dan ulos,
yaitu kain yang mengalami proses hias-menghias pada saat ditenun.
Songket terkenal di Sumatra Selatan bahkan menggunakan benang emas
pada saat ditenun. Nggak heran kalau kain ini berat banget. Sedangkan
ulos menggunakan manik-manik pada saat ditenun , nenek moyang kita
memang kreatif.

IKAT
Kain ini mungkin agak
asing ditelinga kita, tapi yang pasti juga mengalami proses tenun,
hanya saja sebelum ditenun benang-benang telah mengalami proses tie –
die untuk mendapatkan bentuk motif tertentu. Daerah Nusa Tenggara dan
Bali terkenal dengan kain ikatnya.


DESY RATNASARI . XII IPS 2

perspektif (Lia Herliana XI IPS 1 )

METODE PENGGAMBARAN PERSPEKTIF<>

Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat. Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan ukuran yang pasti dan tepat.

1. Perspektif Satu Titik Hilang

Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.

<>
Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap garis normal/cakrawala).

Perspektif satu titik hilang menggambarkan sebuah objek dengan satu titik pedoman yang menghubungkan dengan bidang gambar. Metode ini menggunakan hanya satu titik hilang di mana semua garis perspektif tersebut akan tertuju, serta satu titik ukur yang berperan pula sebagai titik diagonal (lihat gambar).
Gambar perspektif satu titik hilang sangat membantu dalam proses awal dan pengembangan gagasan sebuah desain, namun jarang sekali digunakan para desainer untuk presentasi akhir sebuah desain.
Perspektif Satu Titik Metode Garis Tanah
Metode garis tanah banyak digunakan karena relatif paling praktis dan garis-garis konstruksinya sederhana. Akan tetapi metode ini terbatas penggunaannya untuk ruangan geometris sederhana berbentuk kotak dengan arah pandangan harus selalu frontal (tegak lurus) terhadap salah satu bidang dinding datar dalam ruangan
Metode ini menggunakan perpanjangan garis tanah sebagai garis ukur untuk menerapkan ukuran-ukuran sebenarnya yang sejajar dengan garis sumbu pandangan.
Bidang A.B.B1.A1 (salah satu dinding ruangan) yang mendasari gambar perspektif ruangan.
Pada perpanjangan garis tanah (ke kiri maupun ke kanan) garis BD diukurkan (dalam gambar = B’D1).
Dari titik D1 ditarik garis yang tgak lurus terhadap garis B’D’ dan perpanjangan garis ini memotong garis horison pada titik TU yang berfungsi sebagai titik ukur bagi semua ukuran kedalaman lainnya.
2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik hilang.
Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat. Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o, semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat miring menuju ke dua titik hilang.
Hanya ada satu garis horisontal dan vertikal yang digunakan sebagai skala pengukuran, yaitu garis horisontal dan vertikal pada sudut terdekat atau terjauh dari objek tersebut (dianjurkan menggunakan garis pada sudut terjauh dari objek tersebut).
Perspektif dua titik hilang sangat sulit untuk digambar secara terukur. Bagaimanapun, perspektif dua titik hilang menampilkan gambar yang terlihat lebih alami dengan sedikit distorsi dibanding metode perspektif yang lainnya.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Titik Ukur
Garis AB merupakan garis batas pandangan terhadap ruangan yang akan digambar. Letak dan posisinya ditentukan sendiri sesuai dengan kebutuhan.
Titik mata M dan tinggi cakrawala diatas garis tanah juga ditentukan sendiri. Dari titik M ditarik dua garis lurus yang membentuk sudut siku-siku (saling tegak lurus), kedua garis memotong garis cakrawala pada dua titik hilang (H3 dan H4) dengan letak yang juga ditentukan sendiri. Titik U1 dan U2 berfungsi sebagai titik ukur.
Pada garis A1.A atau B1.B diukurkan tinggi langit-langit ruangan, tinggi pintu dan semua ukuran lain ke arah vertikal yang diperlukan.
Dengan mengukurkan potongan garis p1, p2, p3 dan p4 pada garis A1-B1 dan menghubungkannya dengan titik ukur yang sesuai (U1 atau U2) maka titik-titik yang diinginkan akan ditemukan dan gambar perspektif ruangan dapat digambarkan dalam kerangka bidang A1.B1.TL.C.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Garis Ukur
Seperti halnya pada metode titik ukur, pada metode ini letak garis AB, tinggi cakrawala dan letak titik hilang ditetapkan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip metode ini:
Dari titik yang ingin ditemukan dalam perspektif ditarik dua garis yang masing-masing sejajar dengan dua dinding ruangan yang tergambar pada denah. Kemudian titik-titik potong yang terjadi dengan garis AB diproyeksikan ke garis tanah dan diteruskan ke titik hilang yang sesuai. Titik potong kedua garis proyeksi ini adalah titik yang dicari dalam gambar perspektif. Contoh: lihat konstruksi garis untuk menemukan titik C pada gambar perspektif (=C1).
Titik L adalah ketinggian langit-langit ruangan, sedangkan titik P adalah ketinggian pintu. Kedua ukuran ini dan ukuran lain ke arah vertikal dapat diukurkan pada garis B1.L atau garis A1.A2.
Bidang A1.B1.L.A2 adalah bidang batas pandangan perspektif terhadap ruangan yang digambar.
3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang memiliki sudut yang sama, yaitu 60o (lihat gambar).

Penggunaan metode tiga titik hilang dapat menyebabkan distorsi yang berlebihan karena hampir semua garis tertuju pada titik hilang-titik hilang. Ini berarti dalam menggambarkan perspektif tiga titik hilang membutuhkan kemampuan visualisasi yang sangat baik. Walaupun begitu, perspektif tiga titik hilang masih dapat diukur, yaitu dengan menggunakan titik diagonal yang berjumlah tiga buah yang terletak di antara ketiga titik hilang (lihat gambar).
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.

tugas proporsi wajah manusia ( wina septiani ) XI IPS 3

Sketsa Cara Menggambar Wajah

Untuk memulai gambar manusia, biasanya kita dimulai dari gambar kepala terlebih dahulu. Tidak sulit kok untuk menggambar kepala asal bisa mengikuti cara-caranya. Ayo ikuti langkah-langkahnya dibawah ini :


Pertama-tama untuk menggambar wajah pada tampak depan gambarlah dulu lingkaran. linkaran ini merupakan bentuk penyederhanaan dari sebuah kepala yang berfungsi membantu imajinasi kita dan dengan 2 garis horizontal dan 1 garis vertikal. Garis ini digunakan untuk mempermudah menentukan batas-batas gambar mata,dahi, rambut, hidung dan mulut.


Setelah itu tarik garis dari kedua samping lingkaran hingga berpotongan membentuk segitiga. Garis tersebut digunakan untuk mempermudah menggambar muka bawah/rahang dengan proposional.





Berdasarkan garis yang menunjukan arah yang sedang dihadapi oleh kepala tersebut, kita bisa menentukan bentuk rahang dan letak dagu dan juga perlu diperhatikan jarak antara garis horizontal bawah dan bagian bawah lingkaran lebih kecil dibandingkan jarak dari bawah lingaran ke titik perpotongan 2 garis.







Untuk melengkapi sketsa kepala, gambarlah mata, hidung, dan mulut berdasarkan garis batas yang telah ditentukan. Dan untuk finishing lakukan penghapusan pada garis bantu gambar rahang dan garis bantu dahi-rambut.








Lalu Jadilah gambar seperti disamping ini.

PRESPEKTIF XI IPA 3

Perspektif Kodok dan Burung di Fotografi
Janto Marzuki - Stockholm

”Lho, di gambar aku khok kelihatan pendek ya?” kemudian ada yang menyaut, ”Haha... memangnya kamu tinggi! ”. Suatu percakapan yang kadang terjadi sewaktu melihat hasil gambar yang barusan di jepret. Kali ini anda saya ajak untuk dapat mengenal istilah Perspektif Kodok dan Perspektif Burung.

Ini saya ingin berbagi beberapa istilah dan mungkin sebagai tips dari saya, hehe... yang beberapa jenak (lebih dari ’se-’) pernah gagal menjepret gambar dan hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Dari kegagalan gambar, saya dapat belajar dan sekali-kali kegagalan tsb menjadi salah satu pegangan di kesempatan selanjutnya.

Mengenai istilah perspektif sendiri sebetulnya saya sudah mendapatkannya di pelajaran menggambar, sewaktu duduk dibangku SMA. Di pelajaran menggambar antara lain kami mendapat tugas untuk menggambar sesuatu yang nyata, saya masih ingat waktu itu obyeknya ’jam beker’. Kami mendapat tugas untuk menggambar jam tsb dengan pandangan dari muka, pandangan samping, pandangan atas dan akhirnya dari ke 3 pandangan tsb yang menjadi suatu gambar perspektif. Hmm... mengambarnya pakai jangkar dan tinta hitam atau ’Tinta China’.

Hasil gambar yang kita gambar akan berbeda hasilnya tergantung dari letak titik-titik yang menjadi patokan dari gambar perspektif tsb. Patokan di perspektif disamping ketinggian garis horizontal, juga letak titik patokan di sebelah kiri dan kanan. Kalau secara reel seperti di kehidupan kita sehari-hari, ini tergantung posisi titik pandang kita, atau mata kita terhadap obyek. Didalam mengambil gambar dengan menggunakan kamera, yang menentukan perspektif gambar akhir adalah posisi kamera dan lensa sewaktu kita mengarahkan ke obyek. Ada perkecualian disini, yaitu ada lensa khusus yang biasanya digunakan untuk memotret bangunan atau arsitektur yang memungkinkan dapat mengubah arah garis-garis yang dihasilkan dari ’rumus’ perspektif tsb.

Perspektif Kodok, adalah hasil gambar yang anda jepret dengan menaruh kamera (dan lensa) se-level dengan kodok atau katak, beberapa cm diatas tanah. Hasil gambar akan semakin ’wuow’ kalau kita menambah atau memeprkuat efeknya dengan menggunakan lensa dengan sudut lebar yaitu wideangle. Saya lampirkan beberapa gambar saya yang menggunakan cara ini. Mengingat saya memakai DSLR, saya sewaktu menjepretnya sering tanpa melihat atau ’ngeker’ di viewfinder, hanya pakai ... ”amit, amit mbah,” dan saya berjongkok dan saya taruh posisi kamera beberapa cm diatas tanah dan jepret, jepret terus saya rubah sedikit posisi sudut kamera dan lensa dan lagi, jepret, jepret, jepret... rubah sedikit lagi posisi dari kamera dan lensa dan saya ulangi jepret, jepret, jepret. Salah satu hasil gambarnya biasanya akan sesuai dengan yang saya harapkan.

1. Gamlastan – Old Town Stockholm. Ketinggian posisi kamera sekitar 10 cm dari batu jalan. Catatan: D200, 13mm (12-24mm), ISO 200, F/16, 1/40s, Apperture Priority, Matrix.

2. Lorong Di Bawah Perumahan, Stockholm. Ketinggian posisi kamera 10 cm dari lantai. Catatan: D200, 18mm (18-200mm), ISO 640, F/3.5, 1/15s, VR ON, hand held.

Komentar yang sering terjadi seperti apa yang saya tulis di awal dari tulisan ini, merupakan suatu scenario yang wajar kalau seseorang yang berbadang lebih tinggi mendapat tugas memotret mereka yang lebih rendah posturnya. Hah, terjawablah sudah kalau seandainya anda belum mengetahui jawabannya sebelumnya, mengapa hasil gambar menjadi seperti di contoh scenario diatas. Cara untuk mengatasinya gampang sekali. Seandainya postur anda secara rata-rata diatas mereka yang akan anda potret, tekuk sedikit ’dengkul’ (lutut) anda dan setidaknya kamera (kalau pakai DSLR, mata anda) berada paling tidak se-level dengan ketinggian mata mereka yang akan anda jepret. Lebih rendah sedikit, lebih baik.

3. Lorong Gallerian, Central Stockholm. Ketinggian kamera sekitar 20 cm dari lantai. Catatan: D200, 12 mm (12-24mm), ISO 400, F/4, 1/80s, Programmed Auto, Matrix.

Perspektif Burung, adalah kebalikan dari Perspektif Kodok. Didalam fotografi yaitu hasil gambar yang diambil dengan kamera dan lensa yang berada di atas posisi obyek. Hasil gambar yang menggunakan cara ini, sesuatunya yang ada di gambar hasilnya akan kelihatan lebih pendek dari yang sebenarnya atau kenyataannya. Cara ini banyak digunakan untuk memotret candid juga landscape. Di gambar landscape dengan menggunakan cara ini dan dibantu dengan lensa yang sudut pandangnya lebar yaitu lensa wideangle menjadikan gambar yang dihasilkan kelihatan lapang, luas dan merdeka. Hmm, salah satu tips dari saya (weleh, sepertinya saya ini bisa... hahaha, khok berani beraninya begitu lho) untuk memotret landscape, sebagai patokan ISO rendah, DOF yang panjang/jauh, apperture kecil (atau dengan angka f besar), kalau menjadikan shutterspeed terlalu pelan, agar tidak goyang pakailah tripod. Memotret dengan perspektif burung sebaiknya jangan digunakan untuk memotret anak kecil, haha... anaknya menjadi semakin kecil atau semakin pendek.

Diantara kedua pesepektif yang telah saya beberkan diatas adalah prespektif sedang atau normal. Didalam memotret bangunan atau arsitektur, biasa digunakan ketinggian garis horizontal sekitar 160cm - 170 cm, yaitu ketinggian letak mata kita. Ukuran ini menghasilkan gambar yang tidak terlalu ekstrem garis horizontal dari pespektifnya. Biasanya cara ini digunakan sebagai patokan memotret bangunan arsitektur, dan kadang juga menggunakan lensa dengan lensa standard atau kalau memakai wideangle sudutnya tidak terlalu ekstrem melebar. Ehem... kecuali kalau anda bekerja sebagai broker untuk property atau kamar hotel, kamar yang sak uprit, luas sekitar 3 m2 dengan menggunakan lensa yang super wideangle menjadi kelihatan seakan 20 m2!

4. Sergeltorg Stockholm. Posisi kamera sekitar 8 m diatas lantai bawah. D300, 12mm (12-24mm), ISO 200, F/9, 1/400s, Apperture Priority, Matrix.

5. Swedish Army Band. Ketinggian kamera sekitar 15 m dari obyek. Catatan: D200, 95mm (18-200mm), ISO 200, F/5.6, 1/1000s, Apperture Priority, Matrix, VR On.

6. Stockholm dari Riddarfjärden. Diambil dari menara Stadshuset (Stockholm’s City Hall), sekitar 100 m diatas laut. Catatan: D300, 12mm (12-24mm), ISO 100, F/16, 1/60s, Apperture Priority, Matrix.

Saya sendiri senang mencoba memotret dengan berbagai perspetif, yah... kadang hanya ingin melihat efeknya digambar. Tetapi ini ada tips lagi dari saya, terutama untuk memotret anak kecil, saya lebih cenderung dan berusaha posisi kamera dan lensa sejajar dengan mata anak tsb. Saya paksakan untuk ’ndodok’ (jongkok) atau kalau perlu ’ndlosor’ (tiarap) kalau anaknya terlalu kecil agar saya mendapatkan perspektif yang bagus. Demikian juga, saya gunakan lensa tele tetapi ukuran pendek. Dengan adanya jarak antara saya dan obyek, obyek tidak akan merasa terganggu atau menjadi kaku/canggung. Beberapa gambar yang saya lampirkan, seperti gambar anak-anak kecil yang berbaris dengan berpegangan tali, anak-anak kakak beradik yang lagi bermain di taman bunga tulip dan juga keluarga bebek yang lagi menyeberang jalan adalah contoh yang saya maksud bagaimana hasil memotret dengan menggunakan posisi kamera berada di ketinggian hampir sama dengan obyek.

7. Permisi Numpang Lewat, Stockholm. Ketinggian kamera sekitar 60 cm, dengan berjongkok. Catatan: D200, 105mm (18-200mm), ISO 100, F/8, 1/350s, Apperture Priority, Matrix, VR On.

8. Berbaris dengan Teratur, Stockholm, ketinggian kamera 50 cm dari tanah, tidak jauh berbeda dengan ketinggian anak. Catatan: D200, 112mm (18-200mm), ISO 100, F/8, 1/250s, Apperture Priority, Matrix, VR On.

9. Bermain Diantara Bunga Tulip, Stockholm. Ketinggian kamera 1 m, sekitar tinggi anak. Catatan: D200, 70mm (18-200mm), ISO 200 , F/11, 1/500s, Programmed Auto, Matrix, VR On.

Silahkan kalau ingin memberi komentar, masukan atau kritik dan mungkin saja yang saya tulis ada yang salah atau anda bermaksud sekedar ingin menanyakan sesuatunya yang kurang jelas, monggo.

Tidak ada salahnya belajar membedakan antara proses mengambil gambar atau memotret, dengan proses peng-edit-tan atau mengolah gambar dengan menggunakan perangkat lunak. Dapat mengambil gambar yang baik diperlukan pengetahuan dasar menggambar, untuk mengedit secara digital diperlukan pengetahuan program yang kita gunakan. Dapat menguasai kedua proses tsb, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Hmm... saya masih dalam tingkatan belajar, try and error. Ada yang mengatakan ”semakin banyak kita belajar, akan semakin banyak yang kita tidak mengerti,”.

Salam Kodok Ngorèk, Ngorèk Nèng Blumbangan. Théot Thèblung, Théot Thèblung, Théot Théot Thèblung!

Salam; Janto Marzuki – Stockholm (Perspektif, Yes)


nama : neneng diah k.

kls : XI IPA 3

Perspektif



PENGERTIAN PERSPEKTIF


Konstruksi perspektif adalah sebuah dasar pendidikan seni dan besar artinya untuk lingkup penggunaan yang sangat luas seperti arsitek, orang-orang teknik mesin, dan para desainer. Menurut Leonardo da Vinci, perspektif adalah sesuatu yang alami yang menampilkan yang datar menjadi relief dan yang relief menjadi datar. Perspektif adalah suatu sistem matematikal untuk memproyeksikan bidang tiga dimensional ke dalam bidang dua dimensional, seperti kertas atau kanvas. Kata “Perspektif” berasal dari kata bahasa Itali “Prospettiva” yang berarti “gambar pandangan”.

Konstruksi perspektif memungkinkan kita untuk menggambarkan sebuah benda atau ruang secara nyata di atas sebuah bidang datar (bidang gambar), atau untuk memperjelas sebuah rencana yang telah digambarkan secara proyeksi geometri (tampak atas, depan dan samping).


SEJARAH PERSPEKTIF

Sejak para seniman mencoba untuk mengekspresikan bentuk tiga-dimensional ke dalam bidang dua-dimensional, dengan sadar ataupun tidak sadar mereka telah terlibat dengan semacam ‘perspektif’. Aliran realis pertama-tama diperkenalkan ke dalam gambar atau lukisan dengan penggunaan bayangan pada zaman Pericles. Pemendekan garis perspektif dan pemancaran sinar, sebagian telah diketahui sekitar abad 4 SM dan fragmen-fragmen karya ini tidak turut musnah dengan kehancuran Pompeii (tahun 79 M).

Perkembangan perspektif sebagai ilmu pengetahuan dimulai pada zaman Renaissance. Paolo Uccello (1397-1475) telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempelajarinya. Pekerjaannya kemudiaan diikuti oleh yang lain. Dipelopori oleh Fillipo Brunelleschi (1379-1446) seorang ahli bangunan, dilanjutkan lebih jauh oleh Leona Battista Alberti (1404-1472) seorang arsitek.

Piero degli Franceschi (1420-1492) seorang pelukis dan ahli matematika, telah menulis buku pelajaran pertama mengenai perspektif. Barozzio da Vignolia (1507-1573) dan Andrea Mantegna (1431-1516) menggunakan teknik perspektif dalam figur lukisan. Penggunaan konstruksi perspektif ini menyebar cepat dengan adanya penemuan mesin cetak dan pekerjaan pemahat-pemahat seperti Albrecht Durer (1472-1528).

Sebelum tahun 1500, konstruksi perspektif telah dicoba dan diuji kemungkinan-kemungkinannya. Leonardo da Vinci memasukkan diagram-diagram dan keterangan-keterangan mengenai perspektif dalam buku-buku catatannya. Pada tahun 1499 ia membuat diagram-diagram untuk buku karangan temannya, ahli matematika Fra Luca Pacioli yang berjudul “De Devina Proportione”.

Lukisan-lukisan perspektif dan buku-buku mengenai teori perspektif bermunculan pada jaman Barok. Pada tahun 1715 muncul sebuah teori perspektif dari Taylor, yang kemudian dikembangakan sampai sekarang. Pada jaman Barok, Eropa untuk pertama kalinya mengenal lebih dekat lukisan-lukisan Tiongkok. Lukisan-lukisan ini masih ada kekurangannya, yaitu keaslian menurut alamiahnya dan aturan perspektif atau kebenaran perspektifnya.

Gambar-gambar dari Tiongkok ini dapat disejajarkan dengan gambar pada jaman Rokoko di Eropa, yaitu gambar perspektif dengan banyak titik hilang. Manusia abad ke-19 berpendapat sistem ini terlalu dibuat-buat, terlalu berbelit-belit dan juga tidak cukup tepat. Maka mereka mengembangkan fotografi.

Sejak jaman Renaissans, para seniman telah memperbaharui teknik-teknik perspektif. Thomas Eakins (1844-1916) membuat sebuah gambar lanskap dengan bayangan yang sangat akurat. Beberapa kritikus berpendapat bahwa gambar dengan teknik perspektif ‘dihancurkan’ oleh para seniman modern, seperti Pablo Picasso di awal abad ke-20. Namun beberapa seniman modern tidak benar-benar meninggalkan teknik perspektif; mereka meminjam tekniknya, mengelaborasikannya dengan karya mereka dan memperbaiki teknik-tekniknya, yang menjadikan gambar perspektif sebagai sebuah karya seni sekaligus ilmu pasti.


PRINSIP DASAR PERSPEKTIF

Peraturan-peraturan perspektif yang berbeda-beda (bermacam-macam), pada dasarnya semua mengikuti keadaan alam. Dan hal ini dapat dengan baik diperhatikan pada alam sekitar kita. Mata manusia sudah terbiasa untuk melihat benda-benda sekeliling dalam bentuk perspektif. Maka orang akan lebih cepat menangkap maksud sebuah gambar perspektif daripada proyeksi ortogonal.

Seperti diketahui, mata manusia hanya mampu melihat keadaan sekeliling dengan sudut pandang tertentu yang relatif dan terbatas. Kemampuan manusia memandang ini tidak dapat dipaksakan untuk melihat (memandang) obyek sekeliling dengan sudut pandang yang lebih besar.

Dalam penggambaran perspektif terkonstruksi, diumpamakan bahwa pengamatan obyek berasal dari satu titik pandang. Yaitu titik tempat pengamat berdiri memandang obyek. Sudut dipersempit secara relatif, dan dengan cara ini garis-garis lurus akan tetap lurus dan menghasilkan gambar perspektif yang tidak terdistorsi.


TERBENTUKNYA GAMBAR PERSPEKTIF

Hampir semua orang yang bekerja menggunakan gambar perspektif, sebelumnya pernah menggunakan peralatan fotografi. Alat fotografi yang kita kenal sekarang, adalah suatu perkembangan lanjut dari kamera Obscura.

Yohan Baptist Porta (1560) pernah menulis tentang alat ini. Prinsipnya mungkin sudah dipergunakan sejak zaman babilon. Sinar masuk melalui lubang kecil pada sisi depan kotak yang tertutup. Berkas sinar ini akan membentuk sebuah gambar samar-samar terbalik pada dinding belakang yang datar. Dalam pesawat foto, lubang ini dibesarkan untuk mempertajam gambar dilengkapi dengan lensa.

Benda yang disinari akan memantulkan sinar ke semua penjuru. Tanpa adanya cahaya yang menyinari objek, tidak akan mungkin objek itu terlihat oleh mata manusia atau tertangkap oleh kamera. Sinar-sinar pantulan yang mengenai mata dinamakan sinar-sinar pandang. Sinar-sinar ini memproyeksikan sebuah gambar benda pada selaput jala.

Hal ini juga terjadi dalam dunia fotografi. Hanya bedanya, sinar-sinar pandang ini diproyeksikan ke atas bidang yang sensitif terhadap cahaya, yaitu lembaran film. Karena sinar-sinar proyeksi ini melalui suatu titik pusat, maka gambar yang dihasilkan dinamakan gambar proyeksi pusat. Semua gambar yang dihasilkan oleh kamera foto dinamakan juga gambar proyeksi pusat atau gambar perspektif.


ISTILAH DALAM KONSTRUKSI PERSPEKTIF


a. Objek

Objek yang berbentuk garis lurus, siku dan teratur, sangat mudah digambar. Sisi objek yang semakin hidup atau berbentuk tidak teratur, semakin sulit untuk digambar. Kesulitannya pada ketidakaturan objek tersebut. Untuk penggambarannya dibutuhkan ketepatan dalam gambar tampak atas, muka dan samping.

Sering dijumpai gambar perspektif dengan satu sisi vertikal atau satu rusuk vertikal objek menempel pada bidang gambar; dengan demikian didapatkan garis vertikal pada gambar perspektif, yang menjadi pedoman langsung bagi ukuran sebenarnya.


b. Titik pandang

Titik pandang merupakan tempat pengamat berada. Dari titik tersebut pengamat memandang objek dengan sudut pandang tertentu. Semakin jauh pengamat berada dari objek, semakin luas pula areal yang mampu dipandang pengamat. Biasanya areal pandangan dalam fokus yang tajam pada manusia adalah relatif kecil.

Contoh kasus: Kebanyakan orang hanya mampu untuk membaca beberapa kata sekaligus dari sebuah tulisan. Untuk menghilangkan atau mengurangi keterbatasan itu, tulisan dimundurkan dari mata pengamat.

Konsentrasi pada detail yang tajam dengan areal pandang yang lebar, mungkin menyebabkan distorsi pada sekitar gambar itu. Distorsi ini sering terjadi karena mata pengamat lebih banyak memperlihatkan bagian gambar daripada yang mungkin dilihat dalam sekilas. Ini dapat dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan gambar yang lebih terbatas atau dengan alternatif lain: memindahkan pengamat lebih jauh dari objek.


c. Bidang gambar

Bidang Gambar adalah bidang khayal yang tembus pandang untuk melihat ke daerah yang akan digambar. Bidang gambar dapat divisualisasikan sebagai kaca raksasa yang berdiri tegak antara pengamat dan daerah yang akan digambar. Ketika proses menggambar dimulai, permukaan kertas gambar akan merepresentasikan bidang gambar ini. Kita tidak bisa membuat gambar perspektif yang baik tanpa pertama-tama memvisualisasikan bidang gambar dan hubungannya dengan pokok-pokok yang akan digambar di atas bidang kertas. Bidang gambar dapat diletakkan di sembarang tempat pada objek (di depan, di belakang atau memotong objek), tegak lurus terhadap sumbu pandang.

Cetakan tua dari buku “The Practice of Perspective” (1749)

Koleksi dari Arthur P. Williams

Gambar perspektif terbentuk oleh sinar-sinar pandang dari sudut objek ke titik pandang yang memotong bidang gambar. Jika bidang gambar ditempatkan di depan objek, sinar-sinar pandang ke pengamat memperkecil ukuran imajinasi dan jika ditempatkan di belakang objek, sinar-sinar ini akan memperbesar ukuran imajinasi gambar perspektif.


d. Kerucut pandang dan sumbu pandang

Untuk menghindari distorsi gambar, jarak antara pengamat dan objek diatur oleh sudut pandang, yaitu sudut pada titik pandang yang dibentuk oleh sinar-sinar dari pinggir objek. Jika sudut pandang ini terlalu besar, kedalaman gambar perspektif seperti dilebih-lebihkan (menimbulkan gambar yang tidak normal/distorsi). Dan apabila sudut pandang terlalu kecil, gambar perspektif itu akan kelihatan didatarkan.

Sebagai pedoman; dengan posisi kepala diam, mata manusia dapat melihat keadaan sekitarnya dengan sudut pandang mencapai 180o. Namun yang teridentifikasi hanya objek-objek yang berada pada sudut pandang antara 60o - 90o, objek-objek di luar sudut pandang tersebut akan sulit untuk diidentifikasi, objek-objek menjadi buram dan tidak jelas bentuknya. Bila mata manusia lebih difokuskan lagi, maka yang terlihat hanya objek-objek yang berada pada sudut padang antara 30o - 60o.

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sudut pandang 90o merupakan sumbu pandang pada gambar perspektif, dan sudut pandang antara 30o-60o merupakan kerucut pandangnya.


e. Garis cakrawala atau garis horison

Yang dimaksud bidang cakrawala dalam gambar perspektif adalah bidang khayalan, kedudukannya selalu setinggi mata pengamat dan sejajar dengan bidang dasar. Berupa garis mendatar, dengan ketinggian mata pengamat dan memisahkan gambar yang di atas dan di bawah mata. Tinggi cakrawala bervariasi menurut tinggi mata si pengamat. Sikap pengamat (duduk/berdiri) menentukan tinggi cakrawala.

Semua bidang objek horisontal setinggi mata pengamat akan bertumpuk dengan garis cakrawala.


f. Titik hilang

Titik hilang adalah titik dalam gambar perspektif di mana garis-garis yang sesungguhnya dalam keadaan sejajar akan menghilang menuju titik ini. Objek-objek yang pada kenyataannya sama besar, bila posisinya menjauhi pengamat akan tergambarkan lebih kecil daripada objek yang lebih dekat dengan pengamat. Letak titik hilang segaris lurus dengan garis cakrawala (untuk perspektif satu titik hilang dan dua titik hilang)


g. Titik ukur dan titik diagonal

Titik ukur dalam konstruksi perspektif berfungsi untuk mengukuhkan kedalaman suatu objek dengan akurat. Dengan adanya titik ukur, maka penggambaran perspektif akan lebih akurat.

Titik diagonal berfungsi untuk menarik garis yang dalam keadaan normal memiliki sudut 45o, ke dalam gambar perspektif. Biasanya digunakan pada perspektif yang menggunakan bujur sangkar (segi empat sama sisi) sebagai tolok ukurnya.

Titik ukur dan titik diagonal pada perspektif satu dan dua titik terletak pada garis cakrawala dan hanya dapat digunakan untuk mengukur bidang-bidang horisontal pada gambar perspektif. Pada perspektif satu titik hilang, titik ukur dan titik diagonal terletak pada satu titik yang sama, yang jaraknya tergantung pada jarak pengamat terhadap objek paling jauh. Pada perspektif dua titik hilang titik diagonal terletak tepat di tengah diantara dua titik hilang.

Konstruksi perspektif terukur dapat pula digambarkan dengan tanpa pertolongan titik ukur, yaitu dengan memproyeksikan sudut-sudut obyek pada bidang gambar. Tapi ini kurang praktis, karena dibutuhkan gambar pandangan atas dan samping yang lengkap dan berskala tepat.


Arief Nugraha

XI IPA 3

nugrahaarief57@yahoo.co.id

Membuat bayangan pada Perspektif

MEMBUAT BAYANGAN PADA GAMBAR PERSPEKTIF

Ada beberapa macam konstruksi bayangan, kebanyakan sangat rumit dan sangat teknis. Hal yang perlu diingat tentang bayangan pada perspektif adalah bahwa bayangan sangat mutlak ada, khususnya pada permukaan lantai. Walaupun bayangan sangat penting, tapi dapat disederhanakan untuk mempermudah rendering.

Metode yang paling mudah dari konstruksi bayangan adalah dengan menggunakan garis paralel yang memiliki bentuk dasar segi tiga. Bayangan terkonstruksi dengan menentukan sudut yang terbentuk dari sumber cahaya dan menggunakan sudut ini untuk membuat segitiga dari tiap sudut objek. Sisi bawah pada segitiga tersebut kemudian dihubungakan dengan sisi bawah segitiga yang lain untuk membentuk bayangan.

Bayangan yang lebih didramatisir dapat dibentuk dengan menggunakan titik hilang bayangan. Metode ini membutuhkan sumber cahaya yang diletakkan di suatu tempat di atas garis cakrawala. Kemudian dari titik hilang bayangan ditarik garis menyinggung sudut objek yang paling atas, dan memanjang menuju permukaan lantai. Dan bila titik-titik hasil pemanjangan garis itu dihubungkan, maka bayangan yang lebih akurat akan terbentuk.



NAMA : NOVI
XI IPA 3