Cari di Blog Ini

Sunday, November 1, 2009

Proporsi ( Dodi Lazuardi XI ips 3 )

Suatu hari, tidak di kala kita duduk di tepi pantai, apalagi memandang ombak di lautan yang kian menepi, burung camar pun tidak terbang bermain di derunya air, si Gentho dolan ke rumahku, dan kemudian mendapati gambar sketsa muka orang bikinanku. Demi melihat gambar tersebut, Gentho langsung membongkar laptopnya untuk kemudian memandatkan tugas ke aku buat nggambarin sketsa wajah ceweknya. Konon katanya gambar itu nantinya bakal dihadiahin ke ceweknya pas ultah.

Begitulah. Gara-gara ketauan menyembunyikan skill menggambar tangan, aku akhirnya ketiban order seperti itu. Memang, sih, sebelum-sebelumnya nggak 1 pun makhluk di kampusku yang nyadar kalo aku ini bisa nggambar. Taunya mereka, aku ini cuma rajin nongkrong di kantin sambil nggodain mbak-mbak cantik yang bersliweran. Apa boleh buat… Aku memang bukan orang ganteng yang hobi nyombong, sih… :mrgreen:

Tapi sejujur-jujurnya, aku ini nggak bisa dibilang jago untuk urusan gambar-menggambar. Yang jago itu si Christian, atau malah si Marthana, temen sebangkuku waktu esema yang sekarang ngelanjutin S-2 Seni Rupa-nya di MIT sana (Mbandung Institute of Technology, maksudnya). Okelah, aku memang bisa nggambar dikit-dikit. Saking dikitnya, korban coretanku cumalah dinding-dinding tak berdosa di toilet kampusku yang kugambarin jantung hati, terus di bagian atas sama bawahnya ta’tulisin “Desti” dan “Joe”.

Dalam perkara gambar-menggambar, aku ini lemah kalo disuruh nentuin letak gelap-terangnya suatu obyek sama kalo disuruh menyusun gradasi warna. Tentunya hal ini bakal sangat menghalangi aku kalo saja aku kepengen jadi pelukis wajah jalanan di Malioboro sana. Bisa dipastikan konsumenku pasti bakal ngamuk-ngamuk dan memaksaku buat gulung tikar sebelum balik modal.

Tapi jangan salah! Walopun aku ini lemah betul dalam urusan yang ta’sebutin di atas tadi, aku ini jago mengakali keadaan. Masalah akal-akalan dan adu licik-licikan, aku ini masuk jajaran avant-garde di Ilmu Komputer UGM. Bahkan saking handalnya, si Lutfi - yang diamini sama mayoritas mahasiswa aktif di situ - menamaiku sebagai Sengkuni, meskipun aku sudah mati-matian mengklarifikasi kalo aku ini lebih cocok disetarakan dengan Bisma Dewabrata.

Tentu saja pada implementasinya di urusan gambar-menggambar wajah, ilmu akal-akalanku ini bisa diterapkan juga. Jadi kalo sampeyan-sampeyan yang nggak terlalu jago nggambar kepengen bisa nggambar sketsa wajah, sini, sampeyan ta’bimbing ke jalan yang benar. Baca dan ikuti tutorial nan ndak valid ala aku ini:

1. Pertama-tama siapkanlah segala keperluan sodara kalo kepengen bisa mengikuti jejakku. Sediakan 2 jenis pensil: pensil biasa dan pensil warna. Warna pensil warnanya bebas. Sesuaikan dengan selera sodara sahaja. Terus, sediakan juga kertas gambarnya. Di sini ta’sarankan kertas gambar yang permukaannya halus, sehalus pualam, yang diikuti juga oleh penyediaan penggaris. Terakhir, pastikan sampeyan punya komputer yang ada sopwer Adobe Photoshop di dalamnya. Oh ya, jangan lupa, kita juga butuh printer beserta tintanya.

2. Setelah sampeyan memastikan wajah siapa yang mau digambar dan punya file digitalnya dalam format *.jpeg, modifikasilah gambar wajah tersebut supaya gambar tersebut menjadi gambar dengan efek sketsa wajah. Jangan khawatir! Daku sudah pernah membuat tutorialnya. Silakan dicermati sahaja, dan di bawah ini adalah contoh antara gambar yang belum dipermak dan setelah dipermak:

Yup! sekarang kita sudah bisa menentukan gelap terang dan letak bayangan pada obyek gambarnya. Hore!

3. Print gambar yang sudah dipermak tersebut. Dan jika sampeyan waktu esde dulu pernah belajar menggambar peta pulau-pulau di Endonesa, sekarang saatnya menerapkan kembali hal itu. Bikin kotak-kotak pada gambar yang sudah di-print. Ini bertujuan untuk menjiplak gambar yang di-print itu ke kertas gambar.

Semakin banyak kotak yang sampeyan buat, maka nantinya gambar yang akan sampeyan buat juga akan semakin presisi garis-garisnya.

4. Buat kotak juga di kertas gambar sodara - sebagai garis bantu - dengan ukuran masing-masing luasnya lebih besar dari kotak di hasil print-print-an sodara sebelumnya. Buat kotaknya kalo bisa pake pensil biasa yang tingkat ketebalan garisnya paling minim dan halus. Ini supaya nantinya garis bantu yang kita buat itu bisa dihapus.

5. Mulailah menggambar di kertas gambar sodara (jangan menggunakan kertas gambar orang lain, apalagi makenya ndak bilang-bilang. Itu dosa. Kalo dosa nanti sodara bisa masuk neraka) dengan mencontoh gambar yang sudah di-print menggunakan pensil warna (sebenernya pake pensil biasa pun boleh. Suka-suka sampeyan aja). Terapkanlah prinsip skala yang sodara pelajari waktu esde di sini. Sedikit berhatil-hatilah. Usahakan supaya garis-garisnya bisa sepresisi mungkin.

6. Jika gambar sampeyan sudah final, jika sodara sudah merasa cukup, hapus garis bantu yang tadi dibuat dengan pelan-pelan. Hati-hati, cuma itu yang bisa ta’sarankan supaya gambar sodara nggak jadi rusak.

7. Gambar sampeyan jadi. Tanda-tangani di pojok kanan bawah dengan tanda-tangan sampeyan untuk menandakan bahwa gambar itu asli dibuat sama tangan sampeyan. Jangan sampai Roy Suryo memiliki kesempatan untuk berbicara di depan wartawan bahwa gambar yang sodara bikin itu sebenernya palsu, bukan bikinan sodara sendiri!

8. Bawa gambar tersebut ke tukang pigura. Mintalah supaya dibingkai yang bagus. Bayar uang mukanya dan minta nota tanda terima, kemudian pulanglah ke asal sampeyan. Sebelumnya, kalo nggak kepengen gambar sampeyan suatu saat pudar, untuk meminimalisir resiko itu, silakan timpa gambar hasil bikinan sampeyan itu dengan cat (semacam) Pylox yang warnanya clear.

9. Tunggu beberapa hari. Setelah hari yang dijanjikan sama tukang piguranya datang, kembalilah ke tempat sang tukang pigura itu. Ambil gambar sodara dan jangan lupa melunasi sisa pembayarannya. Setelahnya silakan pulang ke rumah, tetapi sebelumnya mampirlah ke toko untuk membeli kertas kado.

10. Bungkus gambar hasil karya sampeyan tersebut dengan kertas kado, dan kemudian serahkan kepada si empunya wajah. Sebaiknya serahkan langsung dan tanpa perantara. Kalo bisa serahkan setelah sampeyan mengajak sang empunya wajah untuk makan malam yang romantis. Setelahnya sampeyan bisa memutuskan apakah akan menyatakan cinta sampeyan langsung di situ ataukah di depan rumahnya setelah sampeyan mengantarkan sang pemilik wajah itu pulang. Perhatian! Utarakanlah secara langsung. Jangan lewat telepon apalagi SMS!

11. Sekian dan terima kasih.

Tutorial berbonus tips di atas tadi ta’bikin dengan studi kasus menggambar sketsa wajah orang yang sedang sampeyan taksir. Jika sampeyan memutuskan untuk menggambar sketsa wajah bapak, ibu, simbah, atau simbah buyut sampeyan, silakan saja langkah-langkah selanjutnya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Sekian saja tutorial untuk kesempatan kali ini. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

prespektif


GIRI PRASETYO

XI.IPS 1




PENGERTIAN PERSPEKTIF

Konstruksi perspektif adalah sebuah dasar pendidikan seni dan besar artinya untuk lingkup penggunaan yang sangat luas seperti arsitek, orang-orang teknik mesin, dan para desainer. Menurut Leonardo da Vinci, perspektif adalah sesuatu yang alami yang menampilkan yang datar menjadi relief dan yang relief menjadi datar. Perspektif adalah suatu sistem matematikal untuk memproyeksikan bidang tiga dimensional ke dalam bidang dua dimensional, seperti kertas atau kanvas. Kata “Perspektif” berasal dari kata bahasa Itali “Prospettiva” yang berarti “gambar pandangan”.

Konstruksi perspektif memungkinkan kita untuk menggambarkan sebuah benda atau ruang secara nyata di atas sebuah bidang datar (bidang gambar), atau untuk memperjelas sebuah rencana yang telah digambarkan secara proyeksi geometri (tampak atas, depan dan samping).

SEJARAH PERSPEKTIF

Sejak para seniman mencoba untuk mengekspresikan bentuk tiga-dimensional ke dalam bidang dua-dimensional, dengan sadar ataupun tidak sadar mereka telah terlibat dengan semacam ‘perspektif’. Aliran realis pertama-tama diperkenalkan ke dalam gambar atau lukisan dengan penggunaan bayangan pada zaman Pericles. Pemendekan garis perspektif dan pemancaran sinar, sebagian telah diketahui sekitar abad 4 SM dan fragmen-fragmen karya ini tidak turut musnah dengan kehancuran Pompeii (tahun 79 M).

Perkembangan perspektif sebagai ilmu pengetahuan dimulai pada zaman Renaissance. Paolo Uccello (1397-1475) telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempelajarinya. Pekerjaannya kemudiaan diikuti oleh yang lain. Dipelopori oleh Fillipo Brunelleschi (1379-1446) seorang ahli bangunan, dilanjutkan lebih jauh oleh Leona Battista Alberti (1404-1472) seorang arsitek.

Piero degli Franceschi (1420-1492) seorang pelukis dan ahli matematika, telah menulis buku pelajaran pertama mengenai perspektif. Barozzio da Vignolia (1507-1573) dan Andrea Mantegna (1431-1516) menggunakan teknik perspektif dalam figur lukisan. Penggunaan konstruksi perspektif ini menyebar cepat dengan adanya penemuan mesin cetak dan pekerjaan pemahat-pemahat seperti Albrecht Durer (1472-1528).

“Perspective”, oleh Albrecht Durer

Cetakan tua dari abad 16 ini memperlihatkan suatu metode sederhana

untuk memindahkan sebuah objek perspektif ke dalam bidang gambar


Sebelum tahun 1500, konstruksi perspektif telah dicoba dan diuji kemungkinan-kemungkinannya. Leonardo da Vinci memasukkan diagram-diagram dan keterangan-keterangan mengenai perspektif dalam buku-buku catatannya. Pada tahun 1499 ia membuat diagram-diagram untuk buku karangan temannya, ahli matematika Fra Luca Pacioli yang berjudul “De Devina Proportione”.

Lukisan-lukisan perspektif dan buku-buku mengenai teori perspektif bermunculan pada jaman Barok. Pada tahun 1715 muncul sebuah teori perspektif dari Taylor, yang kemudian dikembangakan sampai sekarang. Pada jaman Barok, Eropa untuk pertama kalinya mengenal lebih dekat lukisan-lukisan Tiongkok. Lukisan-lukisan ini masih ada kekurangannya, yaitu keaslian menurut alamiahnya dan aturan perspektif atau kebenaran perspektifnya.

“Whithering Trees and Bamboo”, Cina abad 17, oleh Yun Shou-p’ing.

Efek penggambaran perspektif dari udara dengan pemberian tekanan pada objek terdekat

dan efek kabut pada perbukitan yang jauh.

Gambar-gambar dari Tiongkok ini dapat disejajarkan dengan gambar pada jaman Rokoko di Eropa, yaitu gambar perspektif dengan banyak titik hilang. Manusia abad ke-19 berpendapat sistem ini terlalu dibuat-buat, terlalu berbelit-belit dan juga tidak cukup tepat. Maka mereka mengembangkan fotografi.

Sejak jaman Renaissans, para seniman telah memperbaharui teknik-teknik perspektif. Thomas Eakins (1844-1916) membuat sebuah gambar lanskap dengan bayangan yang sangat akurat. Beberapa kritikus berpendapat bahwa gambar dengan teknik perspektif ‘dihancurkan’ oleh para seniman modern, seperti Pablo Picasso di awal abad ke-20. Namun beberapa seniman modern tidak benar-benar meninggalkan teknik perspektif; mereka meminjam tekniknya, mengelaborasikannya dengan karya mereka dan memperbaiki teknik-tekniknya, yang menjadikan gambar perspektif sebagai sebuah karya seni sekaligus ilmu pasti.

PRINSIP DASAR PERSPEKTIF

Peraturan-peraturan perspektif yang berbeda-beda (bermacam-macam), pada dasarnya semua mengikuti keadaan alam. Dan hal ini dapat dengan baik diperhatikan pada alam sekitar kita. Mata manusia sudah terbiasa untuk melihat benda-benda sekeliling dalam bentuk perspektif. Maka orang akan lebih cepat menangkap maksud sebuah gambar perspektif daripada proyeksi ortogonal.

Seperti diketahui, mata manusia hanya mampu melihat keadaan sekeliling dengan sudut pandang tertentu yang relatif dan terbatas. Kemampuan manusia memandang ini tidak dapat dipaksakan untuk melihat (memandang) obyek sekeliling dengan sudut pandang yang lebih besar.

Dalam penggambaran perspektif terkonstruksi, diumpamakan bahwa pengamatan obyek berasal dari satu titik pandang. Yaitu titik tempat pengamat berdiri memandang obyek. Sudut dipersempit secara relatif, dan dengan cara ini garis-garis lurus akan tetap lurus dan menghasilkan gambar perspektif yang tidak terdistorsi.

TERBENTUKNYA GAMBAR PERSPEKTIF

Hampir semua orang yang bekerja menggunakan gambar perspektif, sebelumnya pernah menggunakan peralatan fotografi. Alat fotografi yang kita kenal sekarang, adalah suatu perkembangan lanjut dari kamera Obscura.

Yohan Baptist Porta (1560) pernah menulis tentang alat ini. Prinsipnya mungkin sudah dipergunakan sejak zaman babilon. Sinar masuk melalui lubang kecil pada sisi depan kotak yang tertutup. Berkas sinar ini akan membentuk sebuah gambar samar-samar terbalik pada dinding belakang yang datar. Dalam pesawat foto, lubang ini dibesarkan untuk mempertajam gambar dilengkapi dengan lensa.

Benda yang disinari akan memantulkan sinar ke semua penjuru. Tanpa adanya cahaya yang menyinari objek, tidak akan mungkin objek itu terlihat oleh mata manusia atau tertangkap oleh kamera. Sinar-sinar pantulan yang mengenai mata dinamakan sinar-sinar pandang. Sinar-sinar ini memproyeksikan sebuah gambar benda pada selaput jala.

Hal ini juga terjadi dalam dunia fotografi. Hanya bedanya, sinar-sinar pandang ini diproyeksikan ke atas bidang yang sensitif terhadap cahaya, yaitu lembaran film. Karena sinar-sinar proyeksi ini melalui suatu titik pusat, maka gambar yang dihasilkan dinamakan gambar proyeksi pusat. Semua gambar yang dihasilkan oleh kamera foto dinamakan juga gambar proyeksi pusat atau gambar perspektif.

ISTILAH DALAM KONSTRUKSI PERSPEKTIF

a. Objek

Objek yang berbentuk garis lurus, siku dan teratur, sangat mudah digambar. Sisi objek yang semakin hidup atau berbentuk tidak teratur, semakin sulit untuk digambar. Kesulitannya pada ketidakaturan objek tersebut. Untuk penggambarannya dibutuhkan ketepatan dalam gambar tampak atas, muka dan samping.

Sering dijumpai gambar perspektif dengan satu sisi vertikal atau satu rusuk vertikal objek menempel pada bidang gambar; dengan demikian didapatkan garis vertikal pada gambar perspektif, yang menjadi pedoman langsung bagi ukuran sebenarnya.

b. Titik pandang

Titik pandang merupakan tempat pengamat berada. Dari titik tersebut pengamat memandang objek dengan sudut pandang tertentu. Semakin jauh pengamat berada dari objek, semakin luas pula areal yang mampu dipandang pengamat. Biasanya areal pandangan dalam fokus yang tajam pada manusia adalah relatif kecil.

Contoh kasus: Kebanyakan orang hanya mampu untuk membaca beberapa kata sekaligus dari sebuah tulisan. Untuk menghilangkan atau mengurangi keterbatasan itu, tulisan dimundurkan dari mata pengamat.

Konsentrasi pada detail yang tajam dengan areal pandang yang lebar, mungkin menyebabkan distorsi pada sekitar gambar itu. Distorsi ini sering terjadi karena mata pengamat lebih banyak memperlihatkan bagian gambar daripada yang mungkin dilihat dalam sekilas. Ini dapat dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan gambar yang lebih terbatas atau dengan alternatif lain: memindahkan pengamat lebih jauh dari objek.

c. Bidang gambar

Bidang Gambar adalah bidang khayal yang tembus pandang untuk melihat ke daerah yang akan digambar. Bidang gambar dapat divisualisasikan sebagai kaca raksasa yang berdiri tegak antara pengamat dan daerah yang akan digambar. Ketika proses menggambar dimulai, permukaan kertas gambar akan merepresentasikan bidang gambar ini. Kita tidak bisa membuat gambar perspektif yang baik tanpa pertama-tama memvisualisasikan bidang gambar dan hubungannya dengan pokok-pokok yang akan digambar di atas bidang kertas. Bidang gambar dapat diletakkan di sembarang tempat pada objek (di depan, di belakang atau memotong objek), tegak lurus terhadap sumbu pandang.

Cetakan tua dari buku “The Practice of Perspective” (1749)

Koleksi dari Arthur P. Williams

Gambar perspektif terbentuk oleh sinar-sinar pandang dari sudut objek ke titik pandang yang memotong bidang gambar. Jika bidang gambar ditempatkan di depan objek, sinar-sinar pandang ke pengamat memperkecil ukuran imajinasi dan jika ditempatkan di belakang objek, sinar-sinar ini akan memperbesar ukuran imajinasi gambar perspektif.

d. Kerucut pandang dan sumbu pandang

Untuk menghindari distorsi gambar, jarak antara pengamat dan objek diatur oleh sudut pandang, yaitu sudut pada titik pandang yang dibentuk oleh sinar-sinar dari pinggir objek. Jika sudut pandang ini terlalu besar, kedalaman gambar perspektif seperti dilebih-lebihkan (menimbulkan gambar yang tidak normal/distorsi). Dan apabila sudut pandang terlalu kecil, gambar perspektif itu akan kelihatan didatarkan.

Sebagai pedoman; dengan posisi kepala diam, mata manusia dapat melihat keadaan sekitarnya dengan sudut pandang mencapai 180o. Namun yang teridentifikasi hanya objek-objek yang berada pada sudut pandang antara 60o - 90o, objek-objek di luar sudut pandang tersebut akan sulit untuk diidentifikasi, objek-objek menjadi buram dan tidak jelas bentuknya. Bila mata manusia lebih difokuskan lagi, maka yang terlihat hanya objek-objek yang berada pada sudut padang antara 30o - 60o.

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sudut pandang 90o merupakan sumbu pandang pada gambar perspektif, dan sudut pandang antara 30o-60o merupakan kerucut pandangnya.

e. Garis cakrawala atau garis horison

Yang dimaksud bidang cakrawala dalam gambar perspektif adalah bidang khayalan, kedudukannya selalu setinggi mata pengamat dan sejajar dengan bidang dasar. Berupa garis mendatar, dengan ketinggian mata pengamat dan memisahkan gambar yang di atas dan di bawah mata. Tinggi cakrawala bervariasi menurut tinggi mata si pengamat. Sikap pengamat (duduk/berdiri) menentukan tinggi cakrawala.

Semua bidang objek horisontal setinggi mata pengamat akan bertumpuk dengan garis cakrawala.

f. Titik hilang

Titik hilang adalah titik dalam gambar perspektif di mana garis-garis yang sesungguhnya dalam keadaan sejajar akan menghilang menuju titik ini. Objek-objek yang pada kenyataannya sama besar, bila posisinya menjauhi pengamat akan tergambarkan lebih kecil daripada objek yang lebih dekat dengan pengamat. Letak titik hilang segaris lurus dengan garis cakrawala (untuk perspektif satu titik hilang dan dua titik hilang)

g. Titik ukur dan titik diagonal

Titik ukur dalam konstruksi perspektif berfungsi untuk mengukuhkan kedalaman suatu objek dengan akurat. Dengan adanya titik ukur, maka penggambaran perspektif akan lebih akurat.

Titik diagonal berfungsi untuk menarik garis yang dalam keadaan normal memiliki sudut 45o, ke dalam gambar perspektif. Biasanya digunakan pada perspektif yang menggunakan bujur sangkar (segi empat sama sisi) sebagai tolok ukurnya.

Titik ukur dan titik diagonal pada perspektif satu dan dua titik terletak pada garis cakrawala dan hanya dapat digunakan untuk mengukur bidang-bidang horisontal pada gambar perspektif. Pada perspektif satu titik hilang, titik ukur dan titik diagonal terletak pada satu titik yang sama, yang jaraknya tergantung pada jarak pengamat terhadap objek paling jauh. Pada perspektif dua titik hilang titik diagonal terletak tepat di tengah diantara dua titik hilang.

Konstruksi perspektif terukur dapat pula digambarkan dengan tanpa pertolongan titik ukur, yaitu dengan memproyeksikan sudut-sudut obyek pada bidang gambar. Tapi ini kurang praktis, karena dibutuhkan gambar pandangan atas dan samping yang lengkap dan berskala tepat

Fiala Scooteris




Latar :
saya ingin menciptakan karya seni yang indah bagi anak anak pespa

alat & bahan
1. gear
2. ring
3. asesoris

cara :
pertama bersihkan terlebih dahulu ,kemudian las gear dngan ring ,terus tambahkan asesoris

Wildan P.S
XI Ips 3

prespektif

PRESPEKTIF ( INDRIA H.F XI IS1)

Kata Perspektif berasal dari kata Itali Prospettiva yang berarti gambar pandangan. itu kataYohannes Suparyono judul bukunya…(ada di bawah).

untuk menghasilkan gambar dengan perspektif 1 titik hilang, objek ditempatkan sedemikian rupa sehingga 2 pasang tepi utamanya, sejajar dengan bisang gambar. dan 1 pasang tepi lainya tegak lurus terhadap bidang gambar. nah… 1 pasang tepi yang terakhir tadi akan mengumpul ke arah 1 titik hilang dalam perspektif

cara menggambarnya:
1. Gambarkan objek dan bidang gambar

2. Tentukan sumbu pandang dan baris cakrawala, maka otomatis titik lenyap didapatkan. Titik lenyap berasal dari pertemuan sumbu pandang dan garis cakrawala

3. Tentukan titik pandang menurut kedua sudut pandang (horisontal dan vertikal). Untuk sudut pandang horisontal selalu ditarik dari titik benda terjauh terhadap TL dengan kemiringan 30 derajat terhadap sumbu pandang. Kemudian sudut pandang vertikal dengan mengukur tinggi cakrawala dari sumbu pandang ke kiri dan ditarik garis dengan kemiringan 30 derajat terhadap sumbu pandang

4. Tentukan titik ukur dengan cara menarik garis dari titik pandang ke bidang gambar dengan kemiringa 45 derajat terhadap sumbu pandang

5. Dari setiap sudut bidang muka kubus ditarik garis menuju TL (titik lenyap).

6. kedalaman kubus diukur dari ukuran sisi kubus dan diletakkan disebelah kiri, kemudian ditarik menuju titik ukur yang berada di garis cakrawala

7. jadi deh =>

prespektif

PRESPEKTIF ( SALFA J.H XI IS 1)

Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat. Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan ukuran yang pasti dan tepat.

1. Perspektif Satu Titik Hilang

Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.

<>
Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap garis normal/cakrawala).

Perspektif satu titik hilang menggambarkan sebuah objek dengan satu titik pedoman yang menghubungkan dengan bidang gambar. Metode ini menggunakan hanya satu titik hilang di mana semua garis perspektif tersebut akan tertuju, serta satu titik ukur yang berperan pula sebagai titik diagonal (lihat gambar).
Gambar perspektif satu titik hilang sangat membantu dalam proses awal dan pengembangan gagasan sebuah desain, namun jarang sekali digunakan para desainer untuk presentasi akhir sebuah desain.
Perspektif Satu Titik Metode Garis Tanah
Metode garis tanah banyak digunakan karena relatif paling praktis dan garis-garis konstruksinya sederhana. Akan tetapi metode ini terbatas penggunaannya untuk ruangan geometris sederhana berbentuk kotak dengan arah pandangan harus selalu frontal (tegak lurus) terhadap salah satu bidang dinding datar dalam ruangan
Metode ini menggunakan perpanjangan garis tanah sebagai garis ukur untuk menerapkan ukuran-ukuran sebenarnya yang sejajar dengan garis sumbu pandangan.

Bidang A.B.B1.A1 (salah satu dinding ruangan) yang mendasari gambar perspektif ruangan.
Pada perpanjangan garis tanah (ke kiri maupun ke kanan) garis BD diukurkan (dalam gambar = B’D1).
Dari titik D1 ditarik garis yang tgak lurus terhadap garis B’D’ dan perpanjangan garis ini memotong garis horison pada titik TU yang berfungsi sebagai titik ukur bagi semua ukuran kedalaman lainnya.

2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik hilang.

Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat. Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o, semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat miring menuju ke dua titik hilang.
Hanya ada satu garis horisontal dan vertikal yang digunakan sebagai skala pengukuran, yaitu garis horisontal dan vertikal pada sudut terdekat atau terjauh dari objek tersebut (dianjurkan menggunakan garis pada sudut terjauh dari objek tersebut).
Perspektif dua titik hilang sangat sulit untuk digambar secara terukur. Bagaimanapun, perspektif dua titik hilang menampilkan gambar yang terlihat lebih alami dengan sedikit distorsi dibanding metode perspektif yang lainnya.

Perspektif Dua Titik Hilang Metode Titik Ukur
Garis AB merupakan garis batas pandangan terhadap ruangan yang akan digambar. Letak dan posisinya ditentukan sendiri sesuai dengan kebutuhan.

Titik mata M dan tinggi cakrawala diatas garis tanah juga ditentukan sendiri. Dari titik M ditarik dua garis lurus yang membentuk sudut siku-siku (saling tegak lurus), kedua garis memotong garis cakrawala pada dua titik hilang (H3 dan H4) dengan letak yang juga ditentukan sendiri. Titik U1 dan U2 berfungsi sebagai titik ukur.
Pada garis A1.A atau B1.B diukurkan tinggi langit-langit ruangan, tinggi pintu dan semua ukuran lain ke arah vertikal yang diperlukan.
Dengan mengukurkan potongan garis p1, p2, p3 dan p4 pada garis A1-B1 dan menghubungkannya dengan titik ukur yang sesuai (U1 atau U2) maka titik-titik yang diinginkan akan ditemukan dan gambar perspektif ruangan dapat digambarkan dalam kerangka bidang A1.B1.TL.C.

Perspektif Dua Titik Hilang Metode Garis Ukur
Seperti halnya pada metode titik ukur, pada metode ini letak garis AB, tinggi cakrawala dan letak titik hilang ditetapkan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip metode ini:
Dari titik yang ingin ditemukan dalam perspektif ditarik dua garis yang masing-masing sejajar dengan dua dinding ruangan yang tergambar pada denah. Kemudian titik-titik potong yang terjadi dengan garis AB diproyeksikan ke garis tanah dan diteruskan ke titik hilang yang sesuai. Titik potong kedua garis proyeksi ini adalah titik yang dicari dalam gambar perspektif. Contoh: lihat konstruksi garis untuk menemukan titik C pada gambar perspektif (=C1).

Titik L adalah ketinggian langit-langit ruangan, sedangkan titik P adalah ketinggian pintu. Kedua ukuran ini dan ukuran lain ke arah vertikal dapat diukurkan pada garis B1.L atau garis A1.A2.
Bidang A1.B1.L.A2 adalah bidang batas pandangan perspektif terhadap ruangan yang digambar.

3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang memiliki sudut yang sama, yaitu 60o (lihat gambar).

Penggunaan metode tiga titik hilang dapat menyebabkan distorsi yang berlebihan karena hampir semua garis tertuju pada titik hilang-titik hilang. Ini berarti dalam menggambarkan perspektif tiga titik hilang membutuhkan kemampuan visualisasi yang sangat baik. Walaupun begitu, perspektif tiga titik hilang masih dapat diukur, yaitu dengan menggunakan titik diagonal yang berjumlah tiga buah yang terletak di antara ketiga titik hilang (lihat gambar).
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.