Cari di Blog Ini

Wednesday, October 14, 2009

Batik Megamendung dari Cirebon

Nama : Indra Arianto
Kelas : XII IPS 2
E-mail : dra_united@yahoo.co.id

Motif megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta batik, begitu pula bagi masyarakat pecinta batik diluar negeri. bukti ketenaran motif megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda. Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literatur selalu mengarahpada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas sejarah bahwa sunan Gunung Jati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. beberapa benda seni dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari paham Teolisme. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas bebas dan mempunyai makna Trasidental (ketuhanan). konsep mengenai awan ini juga berpengaruh kepada dunia kesinarupan Islam pada Abad 16yang digunakan oleh kaum sufiuntuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Nilai-Nilai dasar dalam megamendung

Nilai-nilai dasar dalam seni apapun yang termasuk dalam seni batikmotif Megamendung bisa didekati dengan cara sebagai berikut:
a. Nilai penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Nilai bentuk yang dilihat secara visual adalah motif megamendung dalam sebuah kain yang indah terlepas dari bahan penggunaan berupa kain katun dan kain sutra. Sementara dalam nilai struktur adalah dihasilkandari bentuk-bentuk yang disusun begitu rupa berdasarkan nilai esensial. Bentuk-bentuk tersebut berupa garis-garis lengkung yang disusun beraturan dan tidak terputus saling bertemu.

b. Nilai isi (conten) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, instuisi atau alam bawah sadar manusia, nilai gagasan dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri atas moral, nilai sosial, nilai religi, dsb.

Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis Megamendung bisa kita garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik turun). Kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama)dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunatullah). Sehingga bisa kita bentuk Megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus. Terlepas dari makna filosifi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehingga bentuknya harus menyatu. dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan

Masih Adakah Peluang Batik Dikagumi?


BENARKAH batik sudah mati? Alhamdulillah, batik belum mati. Batik masih hidup dan dihidupkan oleh masyarakat dunia. Seluruh dunia mengenal batik sebagai salah satu karya cipta suatu bangsa, dan mengenakannya pada berbagai kesempatan. Batik juga dipakai tidak saja oleh presiden. Tetapi, bahwa batik sudah memasyarakat, seorang petani pun mengenakan batik ketika menjual padinya ke kota. Batik dipakai semua orang dari segala lapisan.

Konferensi Internasional Dunia Batik yang digelar di Yogyakarta dan menyusul di kota-kota lain, setidaknya menegaskan secara formal bahwa batik memang masih hidup. Dan, batik masih dibicarakan karena memiliki daya tariknya yang kuat. Sudah cukup lama orang memakai batik, sudah cukup lama pula batik dibuat orang, sampai hari ini pun kita masih bisa menemukan orang-orang yang membuat batik.

Kita patut pula bangga apabila batik juga dipelajari di berbagai negara, tak cuma di Indonesia. Pernahkah kita membayangkan bahwa di Argentina ada studi mengenai batik? Pernah pulakah kita bayangkan, orang Afrika memakai batik dalam jamuan resmi? Jika kenyataan ini terjadi, barangkali karena batik memiliki nilai. Batik mempunyai sukma yang mampu menghidupkan, tak sekadar barang mati atau barang pajangan.

Batik, di mana-mana batik, tentu menyenangkan. Jika orang datang ke Yogyakarta untuk kepentingan batik, apa artinya? Bila orang datang ke Solo, Banyumas, Pekalongan — daerah-daerah di wilayah Jawa Tengah yang juga dikenal karena batiknya — karena tertarik pada batiknya, apa artinya? Itu artinya, kita sudah bicara batik dalam konteks pariwisata. Batik, bisa mendatangkan devisa. Dengan promosi dan publikasi yang menjangkau dunia, orang akan memburu batik sampai ke pelosok. Bahkan Fred van Oss dari Belanda membayangkan suatu perjalanan batik di Indonesia, tentu menarik bagi pariwisata minat khusus. Mereka bisa diajak tur ke kota-kota di Indonesia yang menghasilkan batik. Dari Tuban, misalnya ke Pekalongan, Banyumas, Lasem, Solo, Yogyakarta, dan tempat-tempat lain yang punya kaitan erat dengan batik. Adalah perjalanan yang menarik dan tekun.

***

INDONESIA, memang penuh sensasi. Banyak perajin batik tradisional yang bertahun-tahun hidup, betapa pun harga batik yang dijual kepada tengkulak tak mahal. Ibu-ibu tua itu dengan tekun menggoreskan cantingnya ke selembar kain. Ibu-ibu tua itulah yang menyulap kain putih menjadi bermotif-motif, walaupun mereka tak memperoleh banyak uang dari hasil kerjanya yang berhari-hari itu, toh mereka puas bisa menyalurkan ekspresinya.

Mereka, para pembatik itu bahkan harus menghadapi tantangan dari berbagai penjuru, hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Sebab, teknologi modern tak pernah dibayangkannya ketika canting-canting itu tetap saja dipegang di tangan kanannya. Tapi, itulah sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya. Dari situlah kita mengenal parang rusak, truntum, ceplok, kawung. Dan, mudah-mudahan generasi muda kita pun masih mengenal berbagai corak dan sebutan batik berikut kapan batik jenis tertentu itu dikenakan.

Tetapi, tahukah para pembatik itu betapa teknologi telah mampu meniru goresan-goresan tangan melalui canting? Sehingga, selain ada batik yang dibuat tekun yang dikenal sebagai batik tulis, ada pula batik cap yang hampir-hampir tak bisa dibedakan. Ya, batik memang sangat menjanjikan. Sampai kapan pun banyak orang bicara batik dari sisi suka dan tidak suka.

Batik pun pada akhirnya tidak hanya sekadar kain yang dibalutkan pada tubuh kita. Lukisan batik pun menjadi bagian dari perjalanan batik yang tak bisa dibendung. Ia menggantung di tembok-tembok. Dipajang di berbagai gedung dan tempat bergengsi. Batik, batik, dan batik seakan menjadi nafas kehidupan. Tak bosan-bosannya pula kita memandang batik, membicarakan batik, mengenakan batik, karena batik ternyata hidup dan berkembang. Bahkan kita pun sampai hati memanipulasi batik.

***

KALAU ada yang bisa dibanggakan pada batik, karena di berbagai daerah ada corak-corak khas. Bila kita datang ke Cirebon untuk melihat batik corak khas Cirebon, umpamanya. Cirebon pun memelihara batik sebagai salah satu kerajinan rakyat. Dalam ragam hias dan warnanya melambangkan arti-arti khusus yang mencerminkan kebijakan hidup. Misalnya batik mega mendung, wadasan, taman arum, paksi naga liman. Desa Trusmi yang terletak sekitar 7 kilometer arah barat dari kota Cirebon, merupakan sentra kerajinan batik yang cukup spesifik.

Atau, kita singgah ke Pekalongan, ke Desa Lawiyan Solo, Desa Wijen Bantul, dalam perjalanan batik yang bisa kita lakukan — disebut Fred van Oss sebagai batik road. Niscaya bisa menumbuhkan wawasan bagi wisatawan. Dan Pulau Jawa memiliki potensi itu, karena banyak daerah di Jawa yang sampai hari ini masih menghasilkan batik. Perjalanan batik ini bisa dirancang, untuk atraksi yang menarik perhatian, tak sekadar mengagumi.

Dari satu desa ke desa lain, batik yang diciptakan itu mencerminkan corak yang khas dan berbeda. Satu desa dengan desa yang lain bisa saling melengkapi. Apabila kita bisa mewujudkan kembali gagasan ini dengan lebih konseptual, mengangkat batik lebih ke permukaan dunia, batik bisa benar-benar menjadi penghasil devisa luar biasa. Batik di Indonesia, barangkali memiliki nilai lebih karena ada filosofinya, simbolnya, dan kaitannya dengan status.


dea pratama
XII ips 2

perspektif

METODE PENGGAMBARAN PERSPEKTIF<>

Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat. Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan ukuran yang pasti dan tepat.

1. Perspektif Satu Titik Hilang

Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.

<>
Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap garis normal/cakrawala).

Perspektif satu titik hilang menggambarkan sebuah objek dengan satu titik pedoman yang menghubungkan dengan bidang gambar. Metode ini menggunakan hanya satu titik hilang di mana semua garis perspektif tersebut akan tertuju, serta satu titik ukur yang berperan pula sebagai titik diagonal (lihat gambar).
Gambar perspektif satu titik hilang sangat membantu dalam proses awal dan pengembangan gagasan sebuah desain, namun jarang sekali digunakan para desainer untuk presentasi akhir sebuah desain.
Perspektif Satu Titik Metode Garis Tanah
Metode garis tanah banyak digunakan karena relatif paling praktis dan garis-garis konstruksinya sederhana. Akan tetapi metode ini terbatas penggunaannya untuk ruangan geometris sederhana berbentuk kotak dengan arah pandangan harus selalu frontal (tegak lurus) terhadap salah satu bidang dinding datar dalam ruangan
Metode ini menggunakan perpanjangan garis tanah sebagai garis ukur untuk menerapkan ukuran-ukuran sebenarnya yang sejajar dengan garis sumbu pandangan.
Bidang A.B.B1.A1 (salah satu dinding ruangan) yang mendasari gambar perspektif ruangan.
Pada perpanjangan garis tanah (ke kiri maupun ke kanan) garis BD diukurkan (dalam gambar = B’D1).
Dari titik D1 ditarik garis yang tgak lurus terhadap garis B’D’ dan perpanjangan garis ini memotong garis horison pada titik TU yang berfungsi sebagai titik ukur bagi semua ukuran kedalaman lainnya.
2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik hilang.
Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat. Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o, semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat miring menuju ke dua titik hilang.
Hanya ada satu garis horisontal dan vertikal yang digunakan sebagai skala pengukuran, yaitu garis horisontal dan vertikal pada sudut terdekat atau terjauh dari objek tersebut (dianjurkan menggunakan garis pada sudut terjauh dari objek tersebut).
Perspektif dua titik hilang sangat sulit untuk digambar secara terukur. Bagaimanapun, perspektif dua titik hilang menampilkan gambar yang terlihat lebih alami dengan sedikit distorsi dibanding metode perspektif yang lainnya.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Titik Ukur
Garis AB merupakan garis batas pandangan terhadap ruangan yang akan digambar. Letak dan posisinya ditentukan sendiri sesuai dengan kebutuhan.
Titik mata M dan tinggi cakrawala diatas garis tanah juga ditentukan sendiri. Dari titik M ditarik dua garis lurus yang membentuk sudut siku-siku (saling tegak lurus), kedua garis memotong garis cakrawala pada dua titik hilang (H3 dan H4) dengan letak yang juga ditentukan sendiri. Titik U1 dan U2 berfungsi sebagai titik ukur.
Pada garis A1.A atau B1.B diukurkan tinggi langit-langit ruangan, tinggi pintu dan semua ukuran lain ke arah vertikal yang diperlukan.
Dengan mengukurkan potongan garis p1, p2, p3 dan p4 pada garis A1-B1 dan menghubungkannya dengan titik ukur yang sesuai (U1 atau U2) maka titik-titik yang diinginkan akan ditemukan dan gambar perspektif ruangan dapat digambarkan dalam kerangka bidang A1.B1.TL.C.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Garis Ukur
Seperti halnya pada metode titik ukur, pada metode ini letak garis AB, tinggi cakrawala dan letak titik hilang ditetapkan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip metode ini:
Dari titik yang ingin ditemukan dalam perspektif ditarik dua garis yang masing-masing sejajar dengan dua dinding ruangan yang tergambar pada denah. Kemudian titik-titik potong yang terjadi dengan garis AB diproyeksikan ke garis tanah dan diteruskan ke titik hilang yang sesuai. Titik potong kedua garis proyeksi ini adalah titik yang dicari dalam gambar perspektif. Contoh: lihat konstruksi garis untuk menemukan titik C pada gambar perspektif (=C1).
Titik L adalah ketinggian langit-langit ruangan, sedangkan titik P adalah ketinggian pintu. Kedua ukuran ini dan ukuran lain ke arah vertikal dapat diukurkan pada garis B1.L atau garis A1.A2.
Bidang A1.B1.L.A2 adalah bidang batas pandangan perspektif terhadap ruangan yang digambar.
3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang memiliki sudut yang sama, yaitu 60o (lihat gambar).

Penggunaan metode tiga titik hilang dapat menyebabkan distorsi yang berlebihan karena hampir semua garis tertuju pada titik hilang-titik hilang. Ini berarti dalam menggambarkan perspektif tiga titik hilang membutuhkan kemampuan visualisasi yang sangat baik. Walaupun begitu, perspektif tiga titik hilang masih dapat diukur, yaitu dengan menggunakan titik diagonal yang berjumlah tiga buah yang terletak di antara ketiga titik hilang (lihat gambar).
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.


ghufrans fathurrakhman XI IPA 1

proporsi wajah manusia,dan cara melukis wajah secara anatomikal


KARYA DENI DANIA HUDALLOH
XI IPA 4_SMAN 3 KUNINGAN

Batik Paseban Mewarnai Perbatikan di Tanah Air


Batik Paseban Cigugur Kuningan, keberadaannya semakin menampakan jati dirinya. Selama enam tahun sebuah penelusuran yang panjang dilakukan oleh P.Djatikusumah untuk menghidupkan kembali warisan leluhurnya.

Pangeran Djatikusumah melakukan penelusuran batik Paseban yang dianggap punah. lewat pendalaman jiwa seninya yang ditemukan melalui ukir dan relief . Jika dicermati batik Paseban memiliki karakter yang berbeda dengan batik yang telah ada di Jawa Barat, khususnya Garut dan Cirebon yang terkenal dengan motif Wadasan.

Dia memprakarsai penelusuran ini karena panggilan jiwa seninya dan tanggungjawab terhadap warisan budaya batik yang telah menjadi kebanggaan dunia.

“Kami selain menjaga dan melestarikan milik leluhur, juga menjaga asset bangsa ini, agar anak-anak kita paham kalau kita memiliki kekayaan budaya,”

Menurut dia, proses ini dilakukan sejak tahun 2003 dengan menggali dan meng-eksplorasi batik-batik itu dan terkumpul sebanyak 200 motif batik Paseban.
Motif-moif yang telah direproduksi dari hasil penggaliannya diantaranya, Mayang Segara, Geger Sunten, Oyod Minggang, Aduh Manis,Rereng Pwah Aci, Sekar Galuh dan Rereng Kujang.

Dikatakan, batik masih mendapat tempat di hati masyarakat, terlebih wisatawan mancanegara maupun domestik dan pemerhati batik merasa tertarik dengan batik Paseban. Hal itu setelah beberapa kali mengadakan promosi seperti pameran-pameran.

“Promosi kami bukan seperti pengusaha batik yang mapan kang, tapi kami yakin, bahwa ini adalah warisan budaya bangsa yang perlu untuk diperkenalkan kembali khususnya kepada masyarakat Kuningan,” tutur Tati, salah seorang putri P. Djatikusumah.

Walau dalam skala kecil, batik Paseban memiliki prospek usaha yang signifikan, hal ini ditunjang oleh pengrajin kaum ibu serta masyarakat. Bahkan ada yang dikerjakan di rumah masing-masing.

Pengerjaan batik berawal dari merancang desain, kemudian melukiskannya pada selembar kain putih baik Prima Sima maupun Primis Sima, kemudian dilakukan merengreng atau melukis dengan malam di atas kain.

Tahap berikutnya menutup atau nembok, proses ini berkaitan dengan pewarnaan. Setelah proses ini, kemudian dilanjutkan pencelupan kain yang telah tertutup malam secara keseluruhan.

“Tahap demi tahap yang rumit ini jika tidak dilakukan dengan cermat dan teliti, akan menemukan ketidak sempurnaan pada hasil akhir dari proses pembatikan yang dilakukan secara manual (tradisional). Memang di sanalah keindahan sebuah batik tulis,” papar Tati.

Batik sebagai warisan budaya, keberadaannya sangat strategis karena berkaitan dengan industri kain, juga tata busana. Sebagai hasil industri, batik memliki nilai startegis karena mampu menyerap tenaga kerja.

“Pada sisi lain batik mempuyai nilai historis yang tolok ukurnya pada rasa kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki nilai budaya yang adiluhung. Sebagai milik bangsa batik tentunya memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat kita,” kata Tati..

Nilai budaya serta kesakralan saat orang memakai busana motif batik menaikan citra tersendiri. Batik Paseban setahap demi setahap sampai pada tujuan akhirnya yaitu meramaikan perbatikan Nasional.

Terlebih dengan kemunculan di Cikeas-Bogor dalam acara Pameran Pengrajin yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono beberapa waktu yang lalu. Batik Paseban telah mewarnai peta perbatikan di tanah air.



Farida Martin

XII IPS I

perspektif

PERSPEKTIF

perspektif
adalah sudut pandang, sudut pandang dalam melihat, menilai sesuatu. Impactnya, tentu saja perspektif itu sangat tergantung oleh “siapa” yang melakukannya. Tentu saja akan cenderung subyektif.
ENGEMBANGAN KEMAMPUAN VISUAL

MENGGAMBAR PERSPEKTIF

Untuk mengembangkan kemampuan visualnya, seorang mahasiswa Desain Interior harus membiasakan diri melihat sesuatu dalam keadaan perspektif dan berlatih menggambar bentuk kubus yang sederhana dengan menggunakan satu, dua dan tiga titik hilang.



Gambar kubus dalam perspektif dua titik akan terlihat terdistorsi ketika kedua titik hilang diletakkan terlalu berdekatan satu sama lain pada garis cakrawala (2). Kedua titik hilang tersebut harus diletakkan cukup berjauhan sehingga bagian depan pada kubus dapat membuat sudut 90o atau lebih namun tidak melebihi sudut 140o (3).

Pada perspektif dua titik, sudut terdepan atau garis vertikal paling depan pada suatu objek biasanya digunakan sebagai garis ukur vertikal. Garis ini bisa dimunculkan secara terskala dan kemudian digunakan untuk mengukur pembagian pada objek menuju ke titik hilang (4). Garis ukur vertikal memudahkan pengukuran secara akurat elemen-elemen vertikal pada gambar.

Untuk dimensi yang tidak dapat diukur pada bidang vertikal, beberapa cara sederhana dapat dilakukan. Salah satunya metode pengukuran proporsional dengan menggunakan garis diagonal untuk membagi bentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang (5 dan 6). Setiap bidang empat persegi dapat dibagi sama bagian pada pertemuan dua garis diagonal. Pertemuan tersebut dihasilkan dari dua garis yang ditarik dari salah satu sudut ke sudut lainnya yang saling berhadapan, dan menunjukan lokasi tepat pada tengah-tengah bidang tersebut. Cara ini merupakan prinsip dasar pembagian ukuran pada sebuah objek dan dapat digunakan pada semua metode perspektif (satu, dua dan tiga titik hilang). Penggunaan diagonal juga pada penambahan, pemanjangan dan menduplikat gambar kotak pada perspektif (7 dan 8).

Bentuk lingkaran dan kurva tergambarkan elips pada gambar perspektif. Mengerti tentang elips dan bagaimana cara menggambarnya dapat membantu untuk membuat gambar perspektif terlihat sangat alami.

Bentuk kubus dalam gambar perspektif adalah cara yang paling efektif dalam menggambar menggunakan sistem kerja tebak yang sederhana. Dimulai dengan menggambar bentuk kubus yang sederhana dan menambahkan garis-garis diagonal untuk membagi jarak, akan mempermudah para mahasiswa untuk menggambar perspektif sistem kerja tebak.

MENENTUKAN SUDUT PANDANG

DAN TITIK HILANG

Hal yang sangat penting dalam penggambaran konstruksi perspektif adalah penentuan jarak titik pandang pengamat dari bidang gambar. Karena apabila titik pandang terlalu dekat dengan bidang gambar maka terjadilah gambar perspektif dengan kedalaman yang berlebihan (distorsi).

Kalau terjadi sebaliknya (titik pandang terlalu jauh dari bidang gambar), gambar akan terlihat seperti didatarkan. Untuk itu perlu diperhatikan batas sudut pandang atau kerucut pandang manusia, yaitu minimal 30o dan maksimal 60o untuk konstruksi perspektif. Sehingga kita bisa mengambil keputusan menggunakan sudut optimal 45o.

Kadang kita menemui gambar perspektif yang terlihat tidak seimbang atau beberapa furniturnya terpotong. Permasalahan ini dapat di atasi dengan cara:

- Garis cakrawala dapat diturunkan atau dinaikkan sehingga bagian objek dapat terjangkau oleh sudut pandang pengamat.

- Kedudukan pengamat dimundurkan lebih jauh dari bidang gambar sehingga seluruh bagian objek dapat terjangkau oleh sudut pandang pengamat.

Untuk menentukan titik hilang dapat dengan cara menentukan terlebih dahulu bagian ruang yang akan ditampilkan secara maksimal. Pada perspektif satu titik, bila bagian ruang yang akan ditampilkan adalah bagian kanan, maka titik hilang cenderung berada di sebelah kiri menjauhi garis normal dan bagian kanan ruang pada gambar. Cara ini berlaku untuk bagian ruang lainnya (kiri, atas dan bawah). Sedangkan pada perspektif dua titik, bila bagian ruang yang akan ditampilkan adalah bagian kanan, maka titik hilang sebelah kiri akan menjauhi dan titik hilang kanan akan mendekati bagian kanan ruang pada gambar.

MENGGAMBAR PERSPEKTIF

DENGAN SISTEM KERJA TEBAK

Banyak sekali metode menggambar perspektif secara terukur yang berhasil membuat gambar perspektif dengan akurat dan indah. Namun, perlu dicatat, kesemua metode menggambar perspektif terukur memakan waktu yang sangat lama, sekitar 1 jam sampai 8 jam bahkan lebih. Cara ini mungkin dapat digunakan pada presentasi akhir desain, tetapi keterbatasan waktu dalam proses desain mengharuskan para desainer menggunakan teknik menggambar cepat untuk tahap pengembangan desain. Kebanyakan dari teknik menggambar perspektif terukur membutuhkan denah dengan ukuran yang lengkap. Teknik ini dapat digunakan dalam presentasi akhir desain, tetapi kurang membantu dalam proses desain.

Cara termudah dari teknik cepat menggambar perspektif interior adalah dengan sistem kerja tebak menggunakan bentuk dasar kubus seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya. Diawali dengan menggambar sebuah garis horisontal yang berfungsi sebagai garis cakrawala; garis ini adalah (biasanya) garis yang berada tepat pada ketinggian mata dari pengamat.

A. Sistem Kerja Tebak Perspektif Satu Titik Hilang

1. Gambarkan sebuah segi empat sama sisi berukuran 3 m x 3 m dengan skala.


2. Bagilah segi empat tersebut dengan garis diagonal. Gambarkan sebuah garis horisontal memotong di tengah kotak, ini adalah garis cakrawala, tingginya kira-kira setinggi mata manusia rata-rata atau sekitar 150 cm. Letakkan sebuah titik hilang pada garis cakrawala di sebelah kiri, kanan atau tengah-tengah.

3. Gambarkan garis-garis perspektif dari titik hilang melewati sudut-sudut pada segi empat tersebut, membentuk lantai, dinding dan langit-langit. Sekarang perkirakan kedalaman ruangan tersebut; buat agar terlihat seperi segi empat sama sisi.

4. Gunakan garis diagonal untuk membagi kotak yang pertama, yang sekarang menjadi dinding belakang. Dengan membagi kotak tersebut menjadi empat, anda akan membuat empat bagian setinggi 75 cm.


5. Gunakan diagonal untuk membagi ukuran pada dinding samping, lantai dan langit-langit. Pada dinding samping, garis vertikal diletakkan pada perpotongan garis diagonal dengan garis perspektif yang melewati empat bagian pada dinding belakang.

6. Gunakan pembagian ukuran pada dinding belakang (pada langkah ke-4) atau menggunakan grid untuk meletakkan sebuah objek dan elemen interior lainnya.

7. Lakukan sentuhan akhir dengan menghilangkan garis-garis bantu (garis perspektif, grid dan diagonal).

Sistem Kerja Tebak Perspektif Dua Titik Hilang

1. Gambarkan sebuah garis vertikal untuk membuat skala ukuran vertikal. Bagi garis tersebut menjadi empat bagian yang sama. Pada titik paling tengah gambarkan sebuah garis horisontal; ini adalah garis cakrawala.

2. Letakkan dua titik hilang pada garis cakrawala, yang satu di sebelah kanan dan yang satu lagi di sebelah kiri. Tarik garis dari dua titik hilang tersebut melewati titik tertinggi dan terendah pada garis skala vertikal. Dengan ini akan membentuk lantai, dinding dan langit-langit. Sekarang perkirakan kedalaman, buatlah terlihat menjadi segi empat sama sisi.

3. Tarik garis melewati semua bagian pada garis skala vertikal; dengan ini akan perkiraan ukuran ketinggian pada dinding-dinding.

4. Untuk membuat grid, gambarkan garis diagonal pada dinding-dinding. Pada perpotongan garis diagonal dan garis perspektif yang melewati garis skala vertikal, gambarkan garis vertikal.

5. Gunakan grid untuk meletakkan objek dan elemen interior lainnya.

6. Lakukan sentuhan akhir dengan menghilangkan garis bantu.

Berikut beberapa contoh dari gambar perspektif dengan menggunakan sistem kerja tebak


Kunci dari teknik menggambar sistem kerja tebak adalah kemampuan untuk memperkirakan kedalaman dari ruangan berbentuk kubus. Kedalaman tersebut harus diperkirakan agar ruangan pada gambar benar-benar terlihat berbentuk kubus.

Namun kebanyakan ruangan tidak benar-benar berbentuk kubus, sehingga teknik ini hanya sebagai permulaan untuk ruangan dengan macam-macam bentuk. Mengurangi dan menambahkan dimensi ruangan menggunakan garis diagonal dapat membantu menggambar ruangan dengan bentuk yang bervariasi.

Dalam menggambar perspektif menggunakan sistem kerja tebak, elemen-elemen interior akan lebih mudah digambar bila diletakkan menempel pada dinding. Pada gambar perspektif satu titik, objek yang diletakkan terlalu jauh dari titik hilang akan terlihat terdistorsi. Sedangkan pada perspektif dua titik, objek yang terlihat distorsi dapat disebabkan oleh letak objek yang sangat berdekatan dengan salah satu titik hilang, atau jarak kedua titik hilangnya terlalu berdekatan. Karenanya, posisi dari titik hilang sangat menentukan kualitas dari sebuah gambar perspektif. Maka itu, dianjurkan untuk membuat sketsa kecil sebelum mengerjakan gambar perspektif yang sebenarnya.

Menggambar perspektif dengan menggunakan metode satu titik hilang sangat membantu dalam proses desain dan juga sangat mudah untuk dibuat, namun sangat jarang penggunaannya, dikarenakan keterbatasannya yang seringkali menimbulkan distorsi. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk mempelajari metode menggambar perspektif dua titik dengan sistem kerja tebak.

Dalam pelaksanaannya, menggambar perspektif dengan sistem kerja tebak berdasarkan perkiran-perkiraan yang kasar, namun sangat membantu para Desainer Interior menggambarkan ruangan sesuai dengan apa yang mereka rancang dalam tahap pengembangan desain.

Kemampuan dalam menggambar perspektif yang baik dengan menggunakan sistem kerja tebak merupakan langkah awal untuk mempelajari teknik menggambar perspektif terukur. Dan sebaliknya, bila kita sudah lancar menggambar perspektif dengan teknik terukur, maka akan sangat mudah bagi kita untuk menggambar perspektif dengan sistem kerja tebak.



RENDERING PADA GAMBAR PERSPEKTIF

Rendering gambar perspektif digunakan untuk memperjelas kedalaman dan membuat permukaan datar pada gambar terlihat lebih nyata agar lebih mudah dimengerti oleh klien (bahasan mengenai rendering dapat dilihat pada bab tambahan di halaman akhir). Namun, seperti juga dalam menggambar perspektif, keterbatasan waktu tidak memungkinkan melakukan rendering dengan detail. Maka dari itu dibutuhkan suatu teknik rendering yang cepat.

Dari rendering akan muncul dua karakter: pencahayaan dan bahan atau tekstur objek.

Pencahayaan

Semua teknik rendering memunculkan pencahayaan dan pengaruhnya pada keadaan sekitar pada gambar. Setiap goresan yang dibentuk oleh pensil atau pena merupakan hasil pertemuan antara cahaya dan sebuah objek. Kubus, silinder, bola dan kerucut adalah bentuk-bentuk dasar yang dapat ditemukan pada objek-objek yang lebih rumit. Mempelajari cara-cara rendering pada bentuk-bentuk dasar ini dengan media hitam putih sangat penting sebagai awal untuk mewarnai warna dan material yang sebenarnya. Bentuk-bentuk dasar ini sangat mudah untuk diberi efek pencahayaan dan bayangan. Cara paling sederhana yaitu dengan memberi garis tebal pada tempat yang tidak terkena cahaya.


MEMBUAT BAYANGAN PADA GAMBAR PERSPEKTIF

Ada beberapa macam konstruksi bayangan, kebanyakan sangat rumit dan sangat teknis. Hal yang perlu diingat tentang bayangan pada perspektif adalah bahwa bayangan sangat mutlak ada, khususnya pada permukaan lantai. Walaupun bayangan sangat penting, tapi dapat disederhanakan untuk mempermudah rendering.

Metode yang paling mudah dari konstruksi bayangan adalah dengan menggunakan garis paralel yang memiliki bentuk dasar segi tiga. Bayangan terkonstruksi dengan menentukan sudut yang terbentuk dari sumber cahaya dan menggunakan sudut ini untuk membuat segitiga dari tiap sudut objek. Sisi bawah pada segitiga tersebut kemudian dihubungakan dengan sisi bawah segitiga yang lain untuk membentuk bayangan.

Bayangan yang lebih didramatisir dapat dibentuk dengan menggunakan titik hilang bayangan. Metode ini membutuhkan sumber cahaya yang diletakkan di suatu tempat di atas garis cakrawala. Kemudian dari titik hilang bayangan ditarik garis menyinggung sudut objek yang paling atas, dan memanjang menuju permukaan lantai. Dan bila titik-titik hasil pemanjangan garis itu dihubungkan, maka bayangan yang lebih akurat akan terbentuk.

Nama : Tia Agustianti
Kelas : XI IPA 1