Cari di Blog Ini

Showing posts with label Rnungan. Show all posts
Showing posts with label Rnungan. Show all posts

Thursday, June 2, 2011

JADILAH YANG BERBEDA

AIR MATA MUTIARA

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".

Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu, cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga...

Untukmu Anak-ku tercinta

KASIH SAYANG YANG MUNGKIN TERLUPAKAN

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia  keluar rumah.

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan aku bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.

Monday, January 10, 2011

RENUNGAN


Renungan bersama

Kisah untuk renungan bersama...Katakan sekarang...jangan tunggu sampai esok...

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Apabila dia menyadari akan kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata,"Tidak apa-apa, besok kan boleh." Sesudah besar, dia amat suka kesekolah. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaik dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan boleh."

Ketika meningkat remaja, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Baginya itu bukanlah masalah, kerana dia masih punyai ramai teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, jalan-jalan dan macam2 lagi. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatkannya menjadi sibuk. Dia bertemu seorang gadis yang sangat cantik dan baik. Gadis itu kemudian menjadi teman wanitanya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, kerana dia ingin di naikkan pangkat ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan selalu lewat menelefon mereka. Dia selalu berkata, "Ah, aku penat, besok saja aku hubungi mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia kerana dia punyai teman-teman sekerja selalu mau apabila diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelefon teman-temannya. Setelah dia berkahwin dan mempunyai anak, dia bekerja lebih kuat untuk memberi kebahagiaan pada keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk isterinya, atau pun mengingati hari lahir isterinya dan juga hari perkahwinan mereka. Itu tidak mendatangkan masalah baginya, kerana isterinya selalu mengerti, dan tidak pernah
menyalahkannya.

Kadang-kadang dia merasa bersalah dan ingin punyai kesempatan untuk mengatakan pada isterinya "Aku cinta pada mu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok saya akan mengatakannya."

Dia tidak pernah bersama di acara hari jadi anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan mempengaruhi anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhkan diri darinya, dan tidak pernah menghabiskan waktu mereka bersama dengan ayahnya.

Suatu hari, isterinya ditimpa kemalangan, isterinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu, dia sedang ada mesyuarat. Kemalangan itu adalah serius dan dia tidak sadar bahwa kemalangan itu bakal menjemput isterinya menemui yg maha mencipta. Belum sempat dia berkata "Aku cinta pada mu", isterinya telah meninggal dunia. Remuk hatinya apabila ini berlaku dan dia cuba menghiburkan diri bersama anak-anaknya setelah kematian isterinya.

Tapi, dia baru sedar bahawa anak-anaknya tidak mahu berkomunikasi dengannya. Apabila anak-anaknya dewasa dan membina keluarga masing-masing. Tidak ada yang peduli pada orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Waktu berjalan begitu cepat, orang tua ini tinggal di rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang disimpannya dari dulu untuk perayaan ulang tahun perkawinan ke 50, 60, dan 70. Maksud dia menabung adalah untuk nanti digunakan pergi berlibur ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama isterinya, tapi kini terpaksa digunakan untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut. Sejak dari itu sehinggalah dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan penjaga yang merawatnya. Dia merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Semasa dia hendak meninggal, dia memanggil seorang penjaga dan berkata kepadanya, "Ah, jika aku menyedari perkara ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan nafas terakhir. Dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya.

=========================================================

Apa yang saya ingin katakan pada kawan-kawan dan juga pada diri saya sendiri, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyedari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika anda pernah bertengkar, segera berbaik antara satu sama lain!

Jika anda merasa ingin mendengar suara teman anda, jangan ragu-ragu untuk menelponnya segera.

Akhir sekali, tapi yang paling penting, jika anda merasa ingin mengatakan pada seseorang bahwa anda sangat sayang pada dia, jangan tunggu sampai terlewat. Jika anda terus berfikir bahawa masih ada lain hari baru anda akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika anda selalu pikir bahawa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepat hingga anda baru sedar bahawa waktu telah , meninggalkan anda.

Kirimkanlah email ini kepada sahabat-sahabat anda..... Atau.... anda masih mau menunggu adanya hari esok.......