Cari di Blog Ini

Showing posts with label PERSPEKTIF XI IPA 3. Show all posts
Showing posts with label PERSPEKTIF XI IPA 3. Show all posts

Monday, December 14, 2009

PRESPEKTIF ASTRI XI IPA 3

METODE PENGGAMBARAN PERSPEKTIF<>

Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat. Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan ukuran yang pasti dan tepat.

1. Perspektif Satu Titik Hilang

Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.

<>
Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap garis normal/cakrawala).

Perspektif satu titik hilang menggambarkan sebuah objek dengan satu titik pedoman yang menghubungkan dengan bidang gambar. Metode ini menggunakan hanya satu titik hilang di mana semua garis perspektif tersebut akan tertuju, serta satu titik ukur yang berperan pula sebagai titik diagonal (lihat gambar).
Gambar perspektif satu titik hilang sangat membantu dalam proses awal dan pengembangan gagasan sebuah desain, namun jarang sekali digunakan para desainer untuk presentasi akhir sebuah desain.
Perspektif Satu Titik Metode Garis Tanah
Metode garis tanah banyak digunakan karena relatif paling praktis dan garis-garis konstruksinya sederhana. Akan tetapi metode ini terbatas penggunaannya untuk ruangan geometris sederhana berbentuk kotak dengan arah pandangan harus selalu frontal (tegak lurus) terhadap salah satu bidang dinding datar dalam ruangan
Metode ini menggunakan perpanjangan garis tanah sebagai garis ukur untuk menerapkan ukuran-ukuran sebenarnya yang sejajar dengan garis sumbu pandangan.
Bidang A.B.B1.A1 (salah satu dinding ruangan) yang mendasari gambar perspektif ruangan.
Pada perpanjangan garis tanah (ke kiri maupun ke kanan) garis BD diukurkan (dalam gambar = B’D1).
Dari titik D1 ditarik garis yang tgak lurus terhadap garis B’D’ dan perpanjangan garis ini memotong garis horison pada titik TU yang berfungsi sebagai titik ukur bagi semua ukuran kedalaman lainnya.
2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik hilang.
Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat. Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o, semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat miring menuju ke dua titik hilang.
Hanya ada satu garis horisontal dan vertikal yang digunakan sebagai skala pengukuran, yaitu garis horisontal dan vertikal pada sudut terdekat atau terjauh dari objek tersebut (dianjurkan menggunakan garis pada sudut terjauh dari objek tersebut).
Perspektif dua titik hilang sangat sulit untuk digambar secara terukur. Bagaimanapun, perspektif dua titik hilang menampilkan gambar yang terlihat lebih alami dengan sedikit distorsi dibanding metode perspektif yang lainnya.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Titik Ukur
Garis AB merupakan garis batas pandangan terhadap ruangan yang akan digambar. Letak dan posisinya ditentukan sendiri sesuai dengan kebutuhan.
Titik mata M dan tinggi cakrawala diatas garis tanah juga ditentukan sendiri. Dari titik M ditarik dua garis lurus yang membentuk sudut siku-siku (saling tegak lurus), kedua garis memotong garis cakrawala pada dua titik hilang (H3 dan H4) dengan letak yang juga ditentukan sendiri. Titik U1 dan U2 berfungsi sebagai titik ukur.
Pada garis A1.A atau B1.B diukurkan tinggi langit-langit ruangan, tinggi pintu dan semua ukuran lain ke arah vertikal yang diperlukan.
Dengan mengukurkan potongan garis p1, p2, p3 dan p4 pada garis A1-B1 dan menghubungkannya dengan titik ukur yang sesuai (U1 atau U2) maka titik-titik yang diinginkan akan ditemukan dan gambar perspektif ruangan dapat digambarkan dalam kerangka bidang A1.B1.TL.C.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Garis Ukur
Seperti halnya pada metode titik ukur, pada metode ini letak garis AB, tinggi cakrawala dan letak titik hilang ditetapkan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip metode ini:
Dari titik yang ingin ditemukan dalam perspektif ditarik dua garis yang masing-masing sejajar dengan dua dinding ruangan yang tergambar pada denah. Kemudian titik-titik potong yang terjadi dengan garis AB diproyeksikan ke garis tanah dan diteruskan ke titik hilang yang sesuai. Titik potong kedua garis proyeksi ini adalah titik yang dicari dalam gambar perspektif. Contoh: lihat konstruksi garis untuk menemukan titik C pada gambar perspektif (=C1).
Titik L adalah ketinggian langit-langit ruangan, sedangkan titik P adalah ketinggian pintu. Kedua ukuran ini dan ukuran lain ke arah vertikal dapat diukurkan pada garis B1.L atau garis A1.A2.
Bidang A1.B1.L.A2 adalah bidang batas pandangan perspektif terhadap ruangan yang digambar.
3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang memiliki sudut yang sama, yaitu 60o (lihat gambar).

Penggunaan metode tiga titik hilang dapat menyebabkan distorsi yang berlebihan karena hampir semua garis tertuju pada titik hilang-titik hilang. Ini berarti dalam menggambarkan perspektif tiga titik hilang membutuhkan kemampuan visualisasi yang sangat baik. Walaupun begitu, perspektif tiga titik hilang masih dapat diukur, yaitu dengan menggunakan titik diagonal yang berjumlah tiga buah yang terletak di antara ketiga titik hilang (lihat gambar).
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.




NAMA : ASTRI.A
KLS : XI IPA 3

Wednesday, October 28, 2009

perspektif (Erni sri Apriani {IX IPA 3} )

PENGERTIAN PERSPEKTIFKonstruksi perspektif adalah sebuah dasar pendidikan seni dan besar artinya untuk lingkup penggunaan yang sangat luas seperti arsitek, orang-orang teknik mesin, dan para desainer. Menurut Leonardo da Vinci, perspektif adalah sesuatu yang alami yang menampilkan yang datar menjadi relief dan yang relief menjadi datar. Perspektif adalah suatu sistem matematikal untuk memproyeksikan bidang tiga dimensional ke dalam bidang dua dimensional, seperti kertas atau kanvas. Kata “Perspektif” berasal dari kata bahasa Itali “Prospettiva” yang berarti “gambar pandangan”.Konstruksi perspektif memungkinkan kita untuk menggambarkan sebuah benda atau ruang secara nyata di atas sebuah bidang datar (bidang gambar), atau untuk memperjelas sebuah rencana yang telah digambarkan secara proyeksi geometri (tampak atas, depan dan samping).SEJARAH PERSPEKTIFSejak para seniman mencoba untuk mengekspresikan bentuk tiga-dimensional ke dalam bidang dua-dimensional, dengan sadar ataupun tidak sadar mereka telah terlibat dengan semacam ‘perspektif’. Aliran realis pertama-tama diperkenalkan ke dalam gambar atau lukisan dengan penggunaan bayangan pada zaman Pericles. Pemendekan garis perspektif dan pemancaran sinar, sebagian telah diketahui sekitar abad 4 SM dan fragmen-fragmen karya ini tidak turut musnah dengan kehancuran Pompeii (tahun 79 M).Perkembangan perspektif sebagai ilmu pengetahuan dimulai pada zaman Renaissance. Paolo Uccello (1397-1475) telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempelajarinya. Pekerjaannya kemudiaan diikuti oleh yang lain. Dipelopori oleh Fillipo Brunelleschi (1379-1446) seorang ahli bangunan, dilanjutkan lebih jauh oleh Leona Battista Alberti (1404-1472) seorang arsitek.Piero degli Franceschi (1420-1492) seorang pelukis dan ahli matematika, telah menulis buku pelajaran pertama mengenai perspektif. Barozzio da Vignolia (1507-1573) dan Andrea Mantegna (1431-1516) menggunakan teknik perspektif dalam figur lukisan. Penggunaan konstruksi perspektif ini menyebar cepat dengan adanya penemuan mesin cetak dan pekerjaan pemahat-pemahat seperti Albrecht Durer (1472-1528).Sebelum tahun 1500, konstruksi perspektif telah dicoba dan diuji kemungkinan-kemungkinannya. Leonardo da Vinci memasukkan diagram-diagram dan keterangan-keterangan mengenai perspektif dalam buku-buku catatannya. Pada tahun 1499 ia membuat diagram-diagram untuk buku karangan temannya, ahli matematika Fra Luca Pacioli yang berjudul “De Devina Proportione”. Lukisan-lukisan perspektif dan buku-buku mengenai teori perspektif bermunculan pada jaman Barok. Pada tahun 1715 muncul sebuah teori perspektif dari Taylor, yang kemudian dikembangakan sampai sekarang. Pada jaman Barok, Eropa untuk pertama kalinya mengenal lebih dekat lukisan-lukisan Tiongkok. Lukisan-lukisan ini masih ada kekurangannya, yaitu keaslian menurut alamiahnya dan aturan perspektif atau kebenaran perspektifnya. Gambar dari Tiongkok dapat disejajarkan dengan gambar pada jaman Rokoko di Eropa, yaitu gambar perspektif dengan banyak titik hilang. Manusia abad ke-19 berpendapat sistem ini terlalu dibuat-buat, terlalu berbelit-belit dan juga tidak cukup tepat. Maka mereka mengembangkan fotografi.Sejak jaman Renaissans, para seniman telah memperbaharui teknik-teknik perspektif. Thomas Eakins (1844-1916) membuat sebuah gambar lanskap dengan bayangan yang sangat akurat. Beberapa kritikus berpendapat bahwa gambar dengan teknik perspektif ‘dihancurkan’ oleh para seniman modern, seperti Pablo Picasso di awal abad ke-20. Namun beberapa seniman modern tidak benar-benar meninggalkan teknik perspektif; mereka meminjam tekniknya, mengelaborasikannya dengan karya mereka dan memperbaiki teknik-tekniknya, yang menjadikan gambar perspektif sebagai sebuah karya seni sekaligus ilmu pasti.PRINSIP DASAR PERSPEKTIFPeraturan-peraturan perspektif yang berbeda-beda (bermacam-macam), pada dasarnya semua mengikuti keadaan alam. Dan hal ini dapat dengan baik diperhatikan pada alam sekitar kita. Mata manusia sudah terbiasa untuk melihat benda-benda sekeliling dalam bentuk perspektif. Maka orang akan lebih cepat menangkap maksud sebuah gambar perspektif daripada proyeksi ortogonal.Seperti diketahui, mata manusia hanya mampu melihat keadaan sekeliling dengan sudut pandang tertentu yang relatif dan terbatas. Kemampuan manusia memandang ini tidak dapat dipaksakan untuk melihat (memandang) obyek sekeliling dengan sudut pandang yang lebih besar.Dalam penggambaran perspektif terkonstruksi, diumpamakan bahwa pengamatan obyek berasal dari satu titik pandang. Yaitu titik tempat pengamat berdiri memandang obyek. Sudut dipersempit secara relatif, dan dengan cara ini garis-garis lurus akan tetap lurus dan menghasilkan gambar perspektif yang tidak terdistorsi.TERBENTUKNYA GAMBAR PERSPEKTIFHampir semua orang yang bekerja menggunakan gambar perspektif, sebelumnya pernah menggunakan peralatan fotografi. Alat fotografi yang kita kenal sekarang, adalah suatu perkembangan lanjut dari kamera Obscura.Yohan Baptist Porta (1560) pernah menulis tentang alat ini. Prinsipnya mungkin sudah dipergunakan sejak zaman babilon. Sinar masuk melalui lubang kecil pada sisi depan kotak yang tertutup. Berkas sinar ini akan membentuk sebuah gambar samar-samar terbalik pada dinding belakang yang datar. Dalam pesawat foto, lubang ini dibesarkan untuk mempertajam gambar dilengkapi dengan lensa.Benda yang disinari akan memantulkan sinar ke semua penjuru. Tanpa adanya cahaya yang menyinari objek, tidak akan mungkin objek itu terlihat oleh mata manusia atau tertangkap oleh kamera. Sinar-sinar pantulan yang mengenai mata dinamakan sinar-sinar pandang. Sinar-sinar ini memproyeksikan sebuah gambar benda pada selaput jala.Hal ini juga terjadi dalam dunia fotografi. Hanya bedanya, sinar-sinar pandang ini diproyeksikan ke atas bidang yang sensitif terhadap cahaya, yaitu lembaran film. Karena sinar-sinar proyeksi ini melalui suatu titik pusat, maka gambar yang dihasilkan dinamakan gambar proyeksi pusat. Semua gambar yang dihasilkan oleh kamera foto dinamakan juga gambar proyeksi pusat atau gambar perspektif.ISTILAH DALAM KONSTRUKSI PERSPEKTIFa. ObjekObjek yang berbentuk garis lurus, siku dan teratur, sangat mudah digambar. Sisi objek yang semakin hidup atau berbentuk tidak teratur, semakin sulit untuk digambar. Kesulitannya pada ketidakaturan objek tersebut. Untuk penggambarannya dibutuhkan ketepatan dalam gambar tampak atas, muka dan samping.Sering dijumpai gambar perspektif dengan satu sisi vertikal atau satu rusuk vertikal objek menempel pada bidang gambar; dengan demikian didapatkan garis vertikal pada gambar perspektif, yang menjadi pedoman langsung bagi ukuran sebenarnya.b. Titik pandangTitik pandang merupakan tempat pengamat berada. Dari titik tersebut pengamat memandang objek dengan sudut pandang tertentu. Semakin jauh pengamat berada dari objek, semakin luas pula areal yang mampu dipandang pengamat. Biasanya areal pandangan dalam fokus yang tajam pada manusia adalah relatif kecil.Contoh kasus: Kebanyakan orang hanya mampu untuk membaca beberapa kata sekaligus dari sebuah tulisan. Untuk menghilangkan atau mengurangi keterbatasan itu, tulisan dimundurkan dari mata pengamat.Konsentrasi pada detail yang tajam dengan areal pandang yang lebar, mungkin menyebabkan distorsi pada sekitar gambar itu. Distorsi ini sering terjadi karena mata pengamat lebih banyak memperlihatkan bagian gambar daripada yang mungkin dilihat dalam sekilas. Ini dapat dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan gambar yang lebih terbatas atau dengan alternatif lain: memindahkan pengamat lebih jauh dari objek.c. Bidang gambarBidang Gambar adalah bidang khayal yang tembus pandang untuk melihat ke daerah yang akan digambar. Bidang gambar dapat divisualisasikan sebagai kaca raksasa yang berdiri tegak antara pengamat dan daerah yang akan digambar. Ketika proses menggambar dimulai, permukaan kertas gambar akan merepresentasikan bidang gambar ini. Kita tidak bisa membuat gambar perspektif yang baik tanpa pertama-tama memvisualisasikan bidang gambar dan hubungannya dengan pokok-pokok yang akan digambar di atas bidang kertas. Bidang gambar dapat diletakkan di sembarang tempat pada objek (di depan, di belakang atau memotong objek), tegak lurus terhadap sumbu pandang.Gambar perspektif terbentuk oleh sinar-sinar pandang dari sudut objek ke titik pandang yang memotong bidang gambar. Jika bidang gambar ditempatkan di depan objek, sinar-sinar pandang ke pengamat memperkecil ukuran imajinasi dan jika ditempatkan di belakang objek, sinar-sinar ini akan memperbesar ukuran imajinasi gambar perspektif.d. Kerucut pandang dan sumbu pandangUntuk menghindari distorsi gambar, jarak antara pengamat dan objek diatur oleh sudut pandang, yaitu sudut pada titik pandang yang dibentuk oleh sinar-sinar dari pinggir objek. Jika sudut pandang ini terlalu besar, kedalaman gambar perspektif seperti dilebih-lebihkan (menimbulkan gambar yang tidak normal/distorsi). Dan apabila sudut pandang terlalu kecil, gambar perspektif itu akan kelihatan didatarkan.Sebagai pedoman; dengan posisi kepala diam, mata manusia dapat melihat keadaan sekitarnya dengan sudut pandang mencapai 180o. Namun yang teridentifikasi hanya objek-objek yang berada pada sudut pandang antara 60o - 90o, objek-objek di luar sudut pandang tersebut akan sulit untuk diidentifikasi, objek-objek menjadi buram dan tidak jelas bentuknya. Bila mata manusia lebih difokuskan lagi, maka yang terlihat hanya objek-objek yang berada pada sudut padang antara 30o - 60o.Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sudut pandang 90o merupakan sumbu pandang pada gambar perspektif, dan sudut pandang antara 30o-60o merupakan kerucut pandangnya.e. Garis cakrawala atau garis horisonYang dimaksud bidang cakrawala dalam gambar perspektif adalah bidang khayalan, kedudukannya selalu setinggi mata pengamat dan sejajar dengan bidang dasar. Berupa garis mendatar, dengan ketinggian mata pengamat dan memisahkan gambar yang di atas dan di bawah mata. Tinggi cakrawala bervariasi menurut tinggi mata si pengamat. Sikap pengamat (duduk/berdiri) menentukan tinggi cakrawala.f. Titik hilangTitik hilang adalah titik dalam gambar perspektif di mana garis-garis yang sesungguhnya dalam keadaan sejajar akan menghilang menuju titik ini. Objek-objek yang pada kenyataannya sama besar, bila posisinya menjauhi pengamat akan tergambarkan lebih kecil daripada objek yang lebih dekat dengan pengamat. Letak titik hilang segaris lurus dengan garis cakrawala (untuk perspektif satu titik hilang dan dua titik hilang)g. Titik ukur dan titik diagonalTitik ukur dalam konstruksi perspektif berfungsi untuk mengukuhkan kedalaman suatu objek dengan akurat. Dengan adanya titik ukur, maka penggambaran perspektif akan lebih akurat.Titik diagonal berfungsi untuk menarik garis yang dalam keadaan normal memiliki sudut 45o, ke dalam gambar perspektif. Biasanya digunakan pada perspektif yang menggunakan bujur sangkar (segi empat sama sisi) sebagai tolok ukurnya.Titik ukur dan titik diagonal pada perspektif satu dan dua titik terletak pada garis cakrawala dan hanya dapat digunakan untuk mengukur bidang-bidang horisontal pada gambar perspektif. Pada perspektif satu titik hilang, titik ukur dan titik diagonal terletak pada satu titik yang sama, yang jaraknya tergantung pada jarak pengamat terhadap objek paling jauh. Pada perspektif dua titik hilang titik diagonal terletak tepat di tengah diantara dua titik hilangKonstruksi perspektif terukur dapat pula digambarkan dengan tanpa pertolongan titik ukur, yaitu dengan memproyeksikan sudut-sudut obyek pada bidang gambar. Tapi ini kurang praktis, karena dibutuhkan gambar pandangan atas dan samping yang lengkap dan berskala tepat.

nama : Erni Sri Apriani
kelas : IX IPA 3

Sunday, October 25, 2009

PERSPEKTIF XI IPA 3

Mengombinasi Tiga Perspektif Menjadi Beberapa Teori

Scott mendefinisikan organisasi sebagai struktur sosial yang dibentuk oleh individu-individu untuk mendukung mencapai tujuan khusus bersama. Ia menjelaskan tiga bentuk organisasi yang saling bertentangan sekaligus saling melengkapi itu menjadi tiga perspektif yaitu rasional, natural, dan sistem terbuka. Meskipun ada perbedaan, ketiga perspektif memiliki satu kesamaan yaitu organisasi harus mendorong partisipasi (waktu dan energi) supaya organisasi itu bisa bertahan.

Di Bab 5 ini Scott menjelaskan tiga upaya mengombinasikan dan menyocokkan tiga perspektif ini. Ada tiga upaya mengombinasikan tiga perspektif yaitu model strukturalis dari Etzioni, model kontigensi dari Lawrence dan Lorsch, dan model bertingkat dari Thompson.

Selain ketiga model itu, Scott juga memperkenalkan pengklasifikasian silang dari tiga perspektif itu. Scott menjelaskan empat tipe hasil klasifikasi persilangan itu. Tipe I adalah model sistem rasional tertutup, tipe II adalah model sistem natural tertutup, tipe III adalah model sistem rasional terbuka, dan tipe IV adalah model sistem natural terbuka.

Perspektif rasional, natural, sistem terbuka

Perspektif rasional melihat organisasi sebagai alat mencapai tujuan. Organisasi fokus bagaimana mencapai tujuan yang spesifik. Tujuan spesifik dan ditentukan dengan jelas. Organisasi bersifat rasional memiliki formalitas yang tinggi. Organisasi ini berstruktur formal di mana peraturan menentukan perilaku. Peraturan dengan sengaja ditentukan secara eksplisit. Struktur yang formal ini berarti peran dan hubungan anggota organisasi ditetapkan secara independen sesuai dengan posisi di struktur organisasi.

Jadi definisi perspektif sistem rasional adalah “organisasi memiliki tujuan bersama-sama yang spesifik dan untuk mencapai tujuan itu dibentuklah struktur yang sangat formal.”

Dalam perspektif sistem rasional karakteristik paling penting dari sebuah organisasi adalah mencapai tujuan atau gol utuh spesifik dengan mengikuti aturan tertulis dan peran-peran formal yang telah membantu menentukan tujuan optimum.

Contohnya Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi kewartawanan yang muncul setelah majalah berita mingguan Tempo dibreidel. AJI dibentuk dengan satu tujuan utama adalah membantu mengembangkan jurnalisme yang lebih beretika di tengah etika jurnalis yang sedang merosot karena sering menerima amplop. Untuk mencapai tujuan itu, AJI membentuk strukturnya yaitu ada AJI Pusat dan AJI kota atau cabang AJI di berbagai kota di Indonesia. Struktur dengan peran-peran sangat format (seperti Ketua Umum AJI, Sekretaris AJI Kota) dan aturan mainnya tertulis bertujuan untuk lebih mudah mencapai tujuan AJI itu.

Perspektif sistem natural menurut Scott adalah “organisasi bersifat kolektif di mana anggotanya ingin memiliki banyak interes yang tidak sama dan interes umum, tetapi mengakui nilai dari organisasi terus-menerus sebagai sumber penting.” Perilaku anggota organisasi dengan sistem natural tidak dipandu oleh peran-peran formal dan peraturan tertulis, meskipun anggotanya menilai organisasi bisa membantu memenuhi kebutuhan dan interes mereka. Struktur hubungan anggota organisasi dengan sistem natural informal yang terbentuk dari hasil kesepakatan bersama. Bahkan sejumlah organisasi mencoba menghilangkan formalitas dan menghindari penentuan tujuan.

Open system atau sistem terbuka awalnya diperkenalkan oleh seorang ahli biologi bernama Ludwig von Bertanlanffy. Sistem biologi ini kemudian diterapkan di berbagai disiplin. Bertanlanffy menjelaskan konsep dari sebuah sistem di mana semua sistem terbentuk melalui kombinasi dari bagian-bagian yang saling berhubungan sehingga membentuk saling ketergantungan.

Ketika sistem terbuka diterapkan dalam bentuk organisasi menjadi rumit. Organisasi tidak stabil dan tidak mudah ditentukan, tetapi terbentuk dan mudah terpengaruhi lingkungan sekelilingnya. Lingkungan bisa membentuk, mendukung, dan menginfiltrasi organisasi. Anggota organisasi tidak selalu memiliki tujuan bersama atau berupaya mencapai keberlanjutan organisasi.

Mengombinasi tiga perspektif

1. Model Struktural Etzioni

Etzioni mengajukan pendekatan struktural sebagai sintesis dari pemikiran klasik rasional dan pemikiran natural (hubungan antar-manusia). Ia tidak mengganggap pemikiran Weber dan Marx membentuk dasar bagi model struktural ini. Weber dan Marx tanpa mempedulikan upaya kuat manajer dan pekerja, interes sosial dan ekonomi mereka tidak bisa dihindari selalu dalam konflik. Keduanya berkeyakinan siapa pun yang memiliki sarana produksi bisa mengendalikan pemanfaatannya.

Marx melihat pekerja pabrik teralienasi dari sarana produksi dan pekerjaan mereka. Weber menggunakan contoh organisasi tentara modern di mana pasukan tidak memiliki senjata dan institusi riset di mana peneliti tidakmemiliki sendiri peralatan dan bahan-bahan penelitian.

Bagi Etzioni kontrol menjadi isu mendasar dalam memahami organisasi, dan para pemikir rasional maupun natural, memiliki hal penting dan berbeda mengenai sistem kontrol dalam organisasi. Pemikiran sistem rasional menyumbangkan analisis kontrol dengan fokus pada pembagian wewenang atau kuasa di antara posisi dalam organisasi. Pemikiran natural berkeras kekuasaan diberikan dengan syarat kekuasaan bisa diterima oleh bawahan di dalam hubungan kekuasaan agar kontrol bisa efektif.

Etzioni juga berpendapat model strukturalnya ini memberikan tekanan yang samapada struktur formal dan informal, penghargaan sosial dan material, dan interaksi antara organisasi dan lingkungannya. Meskipun, organisasi model struktural tetap mengakui adanya tegangan antara manajemen dan pekerja, kebutuhan personal dan perusahaan, rasionalitas dan non-rasionalitas.

Keseluruhan, strukturalis melihat sistem natural dan rasional memiliki dua sisi kebenaran yang sama. Kedua sistem ini berbeda karena elemen yang mereka uraikan berkonflik.

2. Model Kontigensi Lawrence dan Lorsch

Lawrence dan Lorsch mencoba menyelaraskan perspektif rasional dan natural. Mereka berargumen jika perspektif terbuka diterapkan (sehingga setiap organisasi dilihat tidak terisolasi tetapi berhubungan dengan lingkungannya) maka perspektif sistem rasional dan natural bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi berbagai bentuk organisasi yang berbeda karena mereka akan berada di lingkungan yang berbeda-beda pula.

Perspektif sistem rasional dan natural memiliki varians. Di salah satu ekstrem sejumlah organisasi sangatlah formal, sentralistik, dan memiliki tujuan spesifik yang ingin dicapai. Di sisi ekstrem lainnya sejumlah organisasi kurang formal, tergantung pada kualitas keterlibatan anggotanya, dan minimnya konsensus menentukan tujuan.

Dua model ekstrem ini tidak boleh dilihat sebagai aspek yang membedakan dari organisasi yang sama tetapi sebagai bentuk organisasi yang berbeda pada organisasi yang sama. Berdasarkan perspektif sistem terbuka, bentuk natural harus diletakkan dalam konteks lingkungan berbeda. Semakin homogen dan stabil lingkungannya, lebih memungkinkan bentuk organisasi yang lebih formal dan hirarkis. Jika lingkungan lebih beragam dan berubah-ubah, bentuk lebih tepat adalah organisasi yang kurang formal dan lebih organik.

Jadi model kontigensi melihat tidak ada satu bentuk organisasi yang terbaik tetapi ada beberapa bentuk dan kesesuaiannya ditentukan oleh kecocokan antara bentuk organisasi dan tuntutan lingkungannya. Satu model bisa cocok atau tidak cocok di lingkungan yang berbeda-beda.

Berdasarkan argumen ini, Lawrence dan Lorsch bisa menghasilkan berbagai bentuk organisasi berbeda dan untuk perspektif teoritis berbeda yang dikembangkan untuk mencirikannya.

Menggunakan pandangan mereka juga bisa dijelaskan mengapa perspektif sistem rasional muncul mendahului perspektif sistem natural karena lingkungan organisasi pada masa lalu itu lebih stabil dan kemudian berkembang menjadi tidak stabil dan berubah cepat.

Perspektif sistem terbuka bagi Lawrence dan Lorsch adalah kerangka yang lebih komprehensif di mana perspektif sistem rasional dan sistem natural bisa berada.

3. Model Level Thompson

James D Thompson mengembangkan pemikiran yang mencoba memasukkan tiga perspektif seperti diuraikan dalam bukunya “Organizations in Action” tahun 1967. Thompson berargumen para analis secara mental harus cukup fleksibel mengakui kemungkinan ketiga perspektif mengandung kebenaran dan bisa diterapkan pada semua organisasi. Meskipun ketiganya tidak bisa diterapkan kepada semua lingkungan.

Ia meminjam tingkatan analisisnya Parson yaitu tingkat teknis, manajerial, dan institusi. Ia mengklaim perspektif rasional lebih cocok untuk tingkat analisis teknikal, perspektif natural lebih cocok untuk tingkat analisis manajerial, dan perspektif sistem terbuka lebih pas untuk tingkat analisis institusi.

Ia berpendapat organisasi-organisasi selalu berupaya menjadi rasional meskipun organisasi-organisasi itu menganut sistem natural dan terbuka. Hasrat rasional menjadi efektif dan efisien bisa dianggap sebuah sistem tertutup. Organisasi-organisasi berupaya semaksimal mungkin menghindari ketidakpastian eksternal mempengaruhi aspek teknis. Pada tingkatan institusi, organisasi terbuka pada lingkungan dan harus beradaptasi pada perubahan lingkungan. Di tingkat manajerial, manajer memediasi antara keterbukaan tingkat institusi dan ketertutupan tingkat teknis dan membutuhkan kelenturan struktur informal yang disyaratkan dalam perspektif sistem natural untuk memastikan keberlanjutan organisasi.

Empat Perspektif Klasifikasi Silang

Scott mengajukan empat tipe perspektif klasifikasi silang dari perspektif terbuka/tertutup dan rasional/natural.

Tipe I: Model Sistem Rasional Tertutup

Para pemikir teori Model Sistem Rasional Tertutup (Taylor, Fayol, Weber, dan Simon di awal-awal pemikirannya) menggambarkan organisasi sebagai “piranti untuk mencapai akhir yang sudah ditentukan” (“tools to achieve preset ends”) dan mengabaikan dampak dari lingkungan.

Tipe II: Model Sistem Natural Tertutup

Kebanyakan pemikir teori ini berasal dari kelompok hubungan manusia dan tetap memfokuskan pada aksi atau langkah-langkah di dalam organisasi. Para penganut model ini antara lain Mayo, Dalton, Barnard, Rou, dan Whyte.

Tipe III: Model Sistem Rasional Terbuka

Ketika pendekatan sistem terbuka diperkenalkan oleh Simon tahun 1940, dengan segera memunculkan banyak teori yang berlatar belakang ekonomi, psikologi, dan sosial. Teori-teori itu antara lain rasionalitas terikat (bounded rationality), teori agensi, teori kontigensi, analisis perbandingan struktural, dan analisis biaya transaksi (transaction cost analysis).

Tipe IV: Model Sistem Natural Terbuka

Model rasional terbuka telah mendominasi banyak pemikiran di tahun 1960-an. Kemudian model rasional terbuka ini digantikan oleh pemikiran natural terbuka. Teori dengan banyak penganut ini menantang pendapat bahwa organisasi berperilaku rasional. Beberapa bentuk model sistem natural terbuka antara lain teori pengorganisasian Weick, negotiated order, organizational learning, sistem sosio-teknikal, kontigensi strategis, ekologi populasi, ketergangungan sumber daya, teori Marxist, teori institusional, dan posmodernisme.

ADE HAERUMAN WIGUNA

XI IPA 3