Cari di Blog Ini
Tuesday, November 29, 2011
Wednesday, December 2, 2009
XII IPS 3
== Ringkasan ==
Batik Lasem dikenal karena warna merahnya yang khas. Di Lasem (Jawa Timur) sendiri, pengrajin batik sudah sangat berkurang. Beberapa kolektor menyebut Batik Lasem adalah batik yang tercantik diantara yang lain. Batik ini juga menjadi penanda pencampuran dua budaya, Jawa dan Cina.
ARTIKEL
XII IPS 1
UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani pendidikan, sains, dan kebudayaan, akan segera menetapkan batik tulis Indonesia sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Menurut keterangan Departeman Kebudayaan dan Pariwisata, penetapan akan dilakukan pada tanggal 28 September 2009. Sementara itu, pengukuhannya baru akan dilakukan pada tanggal 2 Oktober 2009.
Batik tulis adalah batik yang dibuat dengan tangan (menggunakan canting), bukan dengan cara dicap atau di-printing. Oleh karena itu, batik tulis terkenal unik dan mewah. Agar batik tulis diakui oleh dunia internasional, pemerintah mengajukan usul ke UNESCO. Komunitas dan ahli batik lokal mendukung dengan cara memberikan pernyataan serta dokumentasi mengenai keberadaan batik tulis. Bersamaan dengan itu, pemerintah, para ahli, organisasi/lembaga-lembaga, pengrajin, serta anggota masyarakat berusaha lebih aktif mengembangkannya. Hasilnya, batik tulis lolos dari kajian dan verifikasi yang dilakukan selama 3 tahun, oleh negara-negara perwakilan UNESCO.
Sekadar tahu, wayang dan keris telah mendapatkan pengakuan dari dunia internasional, beberapa waktu lalu. Kini, Indonesia sedang memperjuangkan agar gamelan dan angklung dapat mengikuti jejak yang sama.
Semoga kebudayaan Indonesia bisa lebih dikenal dan mendunia. Kita juga berharap, pengakuan dunia internasional ini dapat lebih menyejahterakan para pengrajin di Tanah Air. Secara konkret, kita (khususnya generasi muda) harus terus melestarikan, mengembangkan, dan memupuk rasa cinta kita pada produk-produk budaya asli negeri sendiri.
Tuesday, December 1, 2009
BATIK TRADISIONAL
SULASTRI
XII IPS 1
Pekojan
Daerah ini adalah tempat hunian orang-orang keturunan Arab, Parsi, dan Gujarat yang bisa disebut Orang Koja di sekitar Pasar Johar. Motif menggambarkan aktivitas di wilayah itu pada zaman dahulu.
Gedongsongo
Ini salah satu candi Hindu yang jadi kunjungan wisata bagus di daerah sekitar Sumowono, Kabupaten Semarang. Ada sembilan candi yang letaknya bersebaran, dalam motif ini kesembilan candi digambarkan berjajar-jajar.
BATIK TRADISIONAL
INDIRA PANCA DJ
XII IPS 1Motif Batik Semarang 16
MOTIF-MOTIF KULINER
Mina Cinangkingan
Bandeng presto adalah salah satu jenis makanan khas Semarang yang sering dijadikan buah tangan. Dalam motif ini, ikan bandeng digambarkan sedang bebas berenangan di antara Tugu Muda. Mina Cinangkingan yang jadi nama motif ini diartikan sebagai ikan cangkingan atau buah tangan.
Tahu Sinusuran Sayur
Motif kuliner tahu susur ini tak langsung menggambarkan bentuk tahu dengan isi sayuran (tahu sinusuruan sayuran). Yang digambarkan adalah beberapa bahan atau material pembuat tahu susur seperti dedaunan yang melambangkan sayuran, rempah-rempah, dan potongan tahu berbentuk kubus dan segitiga.
Ganjel Rel
Penganan khas Semarang ini semakin langka. Bentuknya mirip roti baguette dari Prancis tapi keras. Dalam motif ini, kue tersebut dibuat dalam bentuk stilisasi yang mirip irisan roti. Isen-isennya mengambil pola ceplok yang memenuhi semua bidang kain.
Pari Hayam
Motif pari hayam ini ditampilkan dengan ragam hias berupa potongan ayam dalam bentuk paha dan cakar, serta dilengkapi dengan rempah-rempah sebagai bumbunya untuk menunjukkan hidangan nasi ayam. Motif berstilisasi menarik ini menyimbolkan kemakmuran.
Eseming Semar Mendem
Makanan ini mulai jarang dijumpai. Terbuat dari tape terbalut tepung dan digoreng, penganan ini dulu sangat disukai ketika orang bersantai sembari minum teh atau kopi. Tape yang jadi bahan utama terbuat dari ubi kayu yang dalam motif ini ditampilkan dengan ragam daun-daunnya.
Urang Jinejer Tahu
Urang Jinejer Tahu adalah nama untuk motif kuliner tahu gimbal. Penganan itu merupakan paduan antara tahu dengan udang bungkus tepung yang dibumbui pedas dan kecap. Dalam motif ini, dengan jelas ditampilkan tahu dan udang, serta sebentuk stilisasi yang merepresentasikan wadah kecap.
Wingko Babat
Salah satu makanan khas Semarang yang selalu dijadikan oleh-oleh hingga sekarang adalah wingko babat. Dalam motif ini, selain bahan-bahan pembuat wingko seperti kelapa (yang ditampilkan dalam bentuk daunnya), juga potongan kue wingko itu sendiri.
Mina Kekareman
Meskipun dijumpai juga di beberapa daerah lain, ikan mangut sangat digemari orang Semarang sebagai lauk. Isinya berupa ikan panggang yang diberi kuah santan dengan rasa pedas. Dalam motif ini, ditampilkan kepala ikan dengan isen-isen pelengkap seperti cabe dan potongan kelapa yang menjadi bahan pembuat kuah lauk tersebut. Mina kekareman bisa diartikan sebagai ikan yang sangat disukai sebagai lauk.
Moci
Jenis penganan ini memang tak hanya ada di Semarang, misalnya di Cianjur, tapi moci atau disebut juga moaci khas Semarang ini unik karena dibalut wijen. Popularitasnya menjadikan kue ini jadi barang oleh-oleh. Kue yang bulat kecil dan kenyal ini distilisasi coraknya dan polanya agak mirip motif kawung.
Lunpia
Penganan yang berasal dari tradisi kuliner Tionghoa ini bisa disebut sebagai trademark Semarang. Ciri khasnya adalah bung atau bambu muda sebagai isi, selain beberapa jenis lainnya seperti kepiting atau daging. Pada motif digambarkan stilisasi bahan-bahan pembuat lunpia.
Mi Kopyok
Ini juga sebenarnya penganan yang umum dijumpai di banyak tempat. Namun, keistimewaannya, orang Semarang sangat menyukai jenis penganan ini. Penanda motifnya bisa dilihat pada stilisasi bentuk botol kecap dan mi yang digulung-gulung.
Sentiling
Meskipun agak langka, penganan ini masih dibuat orang dan dijual di beberapa sentra makanan, seperti kios kaki lima di Simpanglima Semarang. Motif menggambarkan beberapa bahan pembuat penganan itu, misalnya singkong yang ditunjukkan dengan daun tanaman tersebut.
MOTIF-MOTIF LEGENDA
Sendangmulyo
Ini sebuah wilayah di Semarang yang asri di wilayah pebukitan. Berdasarkan cerita rakyat, daerah itu dulu memiliki sendang atau telaga kecil yang ditumbuhi tetanaman rimbun. Motif batik ini dengan jelas menggambarkan alam yang hijau dan segar seperti yang ditunjukkan oleh pohon dan air telaga.
Meteseh
Ini daerah yang dulunya sangat penting bagi orang Belanda. Sekarang tempat itu dijadikan sebagai medan latihan untuk kalangan militer dari Kodam IV Diponegoro. Motif batik ini secara jelas menggambarkan aktivitas latihan perang.
Pasar Johar
Kelegendarisan Pasar Johar sudah sangat dikenal tak hanya oleh orang Semarang. Pasar tradisional itu tetap hidup hingga kini meskipun sudah banyak pasar modern. Motif menggambarkan kondisi Pasar Johar pada zaman dahulu di mana masih dapat dijumpai kerimbunan pepohonan yang di bawahnya jadi tempat mangkal para pedagang.
Banyumanik
Nama tempat ini memiliki kaitan dengan kisah legendaris mengenai perjalanan Ki Ageng Pandanaran dan istrinya dari Semarang ke Bayat di Klaten. Di tempat yang bernama Banyumanik sekarang itu mereka dirampok. Air mata Ki Ageng Pandanaran yang sangat sedih kerana perampokan itu begitu bening dan menetes-netes ke tanah menjadi sumber air yang seperti manik-manik. Motif menggambarkan mata dan air mata yang memiliki komposisi menarik.
Legenda Watugong
Tempat ini ada kaitannya dengan kisah perjalanan Ki Ageng Pandanaran. Sewaktu istirahat, dia mendengar bunyi gamelan dan ketika didatangi hanya ada sebuah gong. Dia mengutuk gong itu jadi batu sehingga dikenal dengan nama Watugong. Motif menggambarkan gong yang tengkurap.
Jembatan Mberok
Jembatan ini punya nilai historis yang tinggi. Aliran sungai di bawahnya pada zaman Belanda sangat bening dan mengalir lancar dan menjadi tempat pelesir bersampan noni dan sinyo Belanda. Suasananya agak mirip dengan Venezia di Italia sehingga daerah itu pernah populer disebut Venesia van Oost (Venezia dri Timur).
Bukit Gombel
Bukit yang ada di Kota Atas Semarang ini mempunyai kisah mistis. Yakni, penampakan wewe gombel di bukit itu yang konon sering dilihat orang. Motif dengan jelas menggambarkan sosok yang mirip gambaran hantu-hantu.
Gua Kreo
Ini salah satu tempat wisata yang banyak dihuni kera. Kisahnya berhubungan dengan Sunan Kalijaga yang hendak menjadi pohon jati untuk sakaguru Masjid Demak. Sebuah pohon jati yang dimaksud ada di tempat yang sulit. Akhirnya sang Sunan dibantu empat kera mendapatkan pohon jati itu. Penghormatan usaha kera tersebut hingga ini masih dilakukan dengan Ritual Rewanda oleh masyarakat sekitar.
Pleburan
Konon wilayah ini sudah ada sejak zaman Ki Ageng Pandanaran. Namanya diambil dari kisah sebuah keluarga yang ingin selalu bersatu atau melebur, sampai mati pun dikubur di tempat yang sama. Motif ini menggambarkan semangat kekeluargaan dan persatuan.
Jatingaleh
Friday, November 27, 2009
Wednesday, November 25, 2009
Tuesday, November 3, 2009
Sejarah Teknik batik
Kelas : XII IPS 2

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4]
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
BATIK
Nama : Abee Purbaya
Kelas : XII IPS 2
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Corak batik
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memilikiMonday, November 2, 2009
DANI ANDRIANI XII IPS 3 : BATIK
Pangeran Djatikusumah melakukan penelusuran batik Paseban yang dianggap punah lewat pendalaman jiwa seninya yang ditemukan melalui ukir dan relief pada Gedung Paseban.
Jika dicermati batik Paseban memiliki karakter yang berbeda dengan batik yang telah ada di Jawa Barat, khususnya Garut dan Cirebon yang terkenal dengan motif Wadasan.
Menurut dia, setelah menggali dan mengeksplorasi motiv dari relief terkumpul sebanyak 200 motif batik Paseban. Motif-motif yang telah direproduksi dari hasil penggaliannya diantaranya, Mayang Segara, Geger Sunten, Oyod Minggang, Aduh Manis,Rereng Pwah Aci, Sekar Galuh dan Rereng Kujang. Motif relung dan gambar daun nampak dominan dalam karyanya tersebut.
Kini motif batik temuannya itu sudah mulai diminati wisatawan manca negara, bahkan banyak pula yang ingin belajar membatik seperti dari Papua. Batik Paseban juga beberapa kali ikut pameran dan mendapatkan apresiasi yang baik.
Djatikusumah yakin bahwa batik sebagai warisan budaya, keberadaannya sangat strategis dalam menyerap tenaga kerja dan bisa menjadi industri penting nasional.
"Pada sisi lain batik mempuyai nilai historis yang tolok ukurnya pada rasa kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki nilai budaya yang adiluhung. Sebagai milik bangsa batik tentunya memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat kita," katanya.
Nilai budaya serta kesakralan saat orang memakai busana motif batik menaikan citra tersendiri. Batik Paseban setahap demi setahap sampai pada tujuan akhirnya yaitu meramaikan perbatikan Nasional.
Terlebih dengan kemunculan di Cikeas-Bogor dalam acara Pameran Pengrajin yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono beberapa waktu yang lalu. Batik Paseban telah mewarnai peta perbatikan di tanah air.
Thursday, October 29, 2009
Singgi Maulana XII IPS 1: Batik Kuningan
Batik Paseban Cigugur Kuningan, keberadaannya semakin menampakan jati dirinya. Selama enam tahun sebuah penelusuran yang panjang dilakukan oleh P.Djatikusumah untuk menghidupkan kembali warisan leluhurnya.
Pangeran Djatikusumah melakukan penelusuran batik Paseban yang dianggap punah. lewat pendalaman jiwa seninya yang ditemukan melalui ukir dan relief . Jika dicermati batik Paseban memiliki karakter yang berbeda dengan batik yang telah ada di Jawa Barat, khususnya Garut dan Cirebon yang terkenal dengan motif Wadasan.
Dia memprakarsai penelusuran ini karena panggilan jiwa seninya dan tanggungjawab terhadap warisan budaya batik yang telah menjadi kebanggaan dunia.
“Kami selain menjaga dan melestarikan milik leluhur, juga menjaga asset bangsa ini, agar anak-anak kita paham kalau kita memiliki kekayaan budaya,”
Menurut dia, proses ini dilakukan sejak tahun 2003 dengan menggali dan meng-eksplorasi batik-batik itu dan terkumpul sebanyak 200 motif batik Paseban.
Motif-moif yang telah direproduksi dari hasil penggaliannya diantaranya, Mayang Segara, Geger Sunten, Oyod Minggang, Aduh Manis,Rereng Pwah Aci, Sekar Galuh dan Rereng Kujang.
Dikatakan, batik masih mendapat tempat di hati masyarakat, terlebih wisatawan mancanegara maupun domestik dan pemerhati batik merasa tertarik dengan batik Paseban. Hal itu setelah beberapa kali mengadakan promosi seperti pameran-pameran.
“Promosi kami bukan seperti pengusaha batik yang mapan kang, tapi kami yakin, bahwa ini adalah warisan budaya bangsa yang perlu untuk diperkenalkan kembali khususnya kepada masyarakat Kuningan,” tutur Tati, salah seorang putri P. Djatikusumah.
Walau dalam skala kecil, batik Paseban memiliki prospek usaha yang signifikan, hal ini ditunjang oleh pengrajin kaum ibu serta masyarakat. Bahkan ada yang dikerjakan di rumah masing-masing.
Pengerjaan batik berawal dari merancang desain, kemudian melukiskannya pada selembar kain putih baik Prima Sima maupun Primis Sima, kemudian dilakukan merengreng atau melukis dengan malam di atas kain.
Tahap berikutnya menutup atau nembok, proses ini berkaitan dengan pewarnaan. Setelah proses ini, kemudian dilanjutkan pencelupan kain yang telah tertutup malam secara keseluruhan.
“Tahap demi tahap yang rumit ini jika tidak dilakukan dengan cermat dan teliti, akan menemukan ketidak sempurnaan pada hasil akhir dari proses pembatikan yang dilakukan secara manual (tradisional). Memang di sanalah keindahan sebuah batik tulis,” papar Tati.
Batik sebagai warisan budaya, keberadaannya sangat strategis karena berkaitan dengan industri kain, juga tata busana. Sebagai hasil industri, batik memliki nilai startegis karena mampu menyerap tenaga kerja.
“Pada sisi lain batik mempuyai nilai historis yang tolok ukurnya pada rasa kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki nilai budaya yang adiluhung. Sebagai milik bangsa batik tentunya memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat kita,” kata Tati..
Nilai budaya serta kesakralan saat orang memakai busana motif batik menaikan citra tersendiri. Batik Paseban setahap demi setahap sampai pada tujuan akhirnya yaitu meramaikan perbatikan Nasional.
Terlebih dengan kemunculan di Cikeas-Bogor dalam acara Pameran Pengrajin yang dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono beberapa waktu yang lalu. Batik Paseban telah mewarnai peta perbatikan di tanah air.
Wednesday, October 28, 2009
Novi Sugihart XII IPS 2 Perbedaan Batik Tulis dan Batik Cap
Perbedaan Batik Tulis dan Batik Cap
Perkembangan batik pada masa sekarang cukup menggembirakan, hal ini berdampak positif bagi produsen batik-batik di berbagai daerah. Permintaan batik tulis maupun batik cap sangat tinggi sekali, walaupun kebutuhan pasar batik tersebut sebagian sudah dipenuhi dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan tekstil yang bermodal besar. Beberapa pengrajin batik menghendaki untuk pembayaran di muka agar produksinya bisa lancar dan pembeli akan segera menerima pesanan yang diminta, hal ini mengingatkan pada masa tahun 70-an dimana pada waktu itu batik juga mengalami permintaan yang cukup lumayan jumlahnya.
Perbedaan batik tulis dan batik cap bisa dilihat dari beberapa hal sbb:
Batik Tulis
- Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.
- Bentuk gambar/desain pada batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak bisa lebih luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan batik cap.
- Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain nampak lebih rata (tembus bolak-balik) khusus bagi batik tulis yang halus.
- Warna dasar kain biasanya lebih muda dibandingkan dengan warna pada goresan motif (batik tulis putihan/tembokan).
- Setiap potongan gambar (ragam hias) yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Berbeda dengan batik cap yang kemungkinannya bisa sama persis antara gambar yang satu dengan gambar lainnya.
- Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan batik tulis relatif lebih lama (2 atau 3 kali lebih lama) dibandingkan dengan pembuatan batik cap. Pengerjaan batik tulis yang halus bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan lamanya.
- Alat kerja berupa canting harganya relatif lebih murah berkisar Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,-/pcs.
- Harga jual batik tulis relatif lebih mahal, dikarenakan dari sisi kualitas biasanya lebih bagus, mewah dan unik.
Batik Cap
- Dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.
- Bentuk gambar/desain pada batik cap selalu ada pengulangan yang jelas, sehingga gambar nampak berulang dengan bentuk yang sama, dengan ukuran garis motif relatif lebih besar dibandingkan dengan batik tulis.
- Gambar batik cap biasanya tidak tembus pada kedua sisi kain.
- Warna dasar kain biasanya lebih tua dibandingkan dengan warna pada goresan motifnya. Hal ini disebabkan batik cap tidak melakukan penutupan pada bagian dasar motif yang lebih rumit seperti halnya yang biasa dilakukan pada proses batik tulis. Korelasinya yaitu dengan mengejar harga jual yang lebih murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk sehelai kain batik cap berkisar 1 hingga 3 minggu.
- Untuk membuat batik cap yang beragam motif, maka diperlukan banyak cap. Sementara harga cap batik relatif lebih mahal dari canting. Untuk harga cap batik pada kondisi sekarang dengan ukuran 20 cm X 20 cm berkisar Rp. 350.000,- hingga Rp. 700.000,-/motif. Sehingga dari sisi modal awal batik cap relatif lebih mahal.
- Jangka waktu pemakaian cap batik dalam kondisi yang baik bisa mencapai 5 tahun hingga 10 tahun, dengan catatan tidak rusak. Pengulangan cap batik tembaga untuk pemakainnya hampir tidak terbatas.
- Harga jual batik cap relatif lebih murah dibandingkan dengan batik tulis, dikarenakan biasanya jumlahnya banyak dan miliki kesamaan satu dan lainnya tidak unik, tidak istimewa dan kurang eksklusif.
Disamping adanya perbedaan dari sisi visual antara batik tulis dan batik cap, namun dari sisi produksi ada beberapa kesamaan yang harus dilalui dalam pengerjaan keduanya. Diantaranya adalah sbb:
- Keduanya sama-sama bisa dikatakan kain batik, dikarenakan dikerjakan dengan menggunakan bahan lilin sebagai media perintang warna.
- Dikerjakan hampir oleh tangan manusia untuk membuat gambar dan proses pengerjaan buka tutup warnanya.
- Bahan yang digunakannya juga sama berupa bahan dasar kain yang berwarna putih, dan tidak harus dibedakan jenis bahan dasar benangnya (katun atau sutra) atau bentuk tenunannya.
- Penggunaan bahan-bahan pewarna serta memproses warnanya sama, tidak ada perbedaan anatara batik tulis dan batik cap.
- Cara menentukan lay-out atau patron dan juga bentuk-bentuk motif boleh sama diantara keduanya. Sehingga ketika keduanya dijahit untuk dibuat busana tidak ada perbedaan bagi perancang busana atau penjahitnya. Yang membedakan hanya kualitas gambarnya saja.
- Cara merawat kain batik (menyimpan, menyuci dan menggunakannya) sama sekali tidak ada perbedaan.
- Untuk membuat keduanya diperlukan gambar awal atau sket dasar untuk memudahkan dan mengetahui bentuk motif yang akan terjadi.
TRIA SLAMETRIADI XII IPS 2 BATIK

Proses pembuatan Batik Pesisir bervariasi, berkisar antara 1 sampai 6 bulan, tergantung pada tingkat kesulitan dan kompleksnya komposisi warna. Hargapun bervariasi antara Rp 1 juta sampai Rp 6 Juta.
Atas kebaikan sdr Taufik Hidayat, Koordinator Pemasaran batik dari Toko/Butik Batik “Failasuf”, saya mengunjungi sentra pengrajin Batik Pesisir didesa-Kemplong.
Proses pembuatan batik dimulai dengan bahan baku. Bahan baku yang dipergunakan untuk membuat Batik Pesisir ada 2, yaitu: Mori Katun - Rayon (Polyester) - Sutra.
Bahan baku ini dicuci dengan memasukkan bahan-bahan tersebut kedalam tungku air panas, untuk menghilangkan bahan-bahan kimia (auxillaries) yang dipergunakan oleh pabrik pembuat bahan tersebut.
[navigasi.net] Kerajinan - Batik Pesisir - Pekalongan
Setelah proses ini dilakukan pengeringan dan pelurusan, bahan ini dikirim kebagian pola, untuk digambarkan pola/designnya.
Setelah diberikan pola/design sesuai dengan rencana produksi, maka bahan Batik Pesisir yang telah berdesign itu dikirimkan kebagian pengrajin batik tulis.
Proses pembuatan batik memang rumit, dengan beberapa kali proses pewarnaan pola/design, dimana setiap pemberian warna tertentu, bagian lainnya harus ditutup dengan wax (malam) supaya tidak terwarnai. Proses pewarnaan ini bisa sampai sepuluh kali, bahkan lebih, sesuai dengan tingkat kesulitan maupun pola/design warnanya.
[navigasi.net] Kerajinan - Batik Pesisir - Pekalongan
Dapat dilihat pada gambar diatas, proses pewarnaan dan cara memegang “canting” yang bervariasi, sebagaimana setiap orang berbeda dalam hal menulis dengan tangan.
Proses canting ini juga unik, dimana setiap memulai “penulisan” pada pola/design dengan menggunakan wax (malam), ujung canting harus ditiup untuk mendorong “buble” udara yang bisa memblok alur/jalannya wax melalui ujung canting tersebut.
Disamping design yang tradisional, batik Pesisir mempunyai beberapa design yang disukai sejak dulu, yaitu design Belanda, Cina dan Jepang.
Para pengrajin mendapatkan penghasilan rata-rata sebesar Rp 9.000.- per hari dan banyak diantara mereka yang “drop-out” SMP. Meski demikian, mereka nampaknya gembira dan senyum selalu.
Memang Tuhan itu Maha Adil.
DEA.M.R XII IPS 1: Sejarah teknik batik
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4]
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
Monday, October 26, 2009
batik palembang
Songket Kain Tenun Khas Melayu PDF Cetak E-mail
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(23 votes)
Songket Palembang sudah tersohor keindahannya. Kain hasil tenunan halus ini memiliki ciri khas berupa motif benang emas dan perak yang variatif serta warna yang indah. Siapapun gadis Palembang yang mengenakannya, terlihat bertambah cantik.
Sejak dulu Palembang ramai didatangi oleh para pedagang dari berbagai penjuru dunia untuk berniaga. Para pedagang dari Tiongkok misalnya, datang membawa kain sutera sedangkan pedagang India membawa benang emas dan perak. Kedua bahan itu kemudian digabungkan oleh tangan-tangan terampil para gadis Palembang. Mereka menenunnya di pedesaan hingga menghasilkan kain tenun yang mencirikan kebudayaaan Melayu. Kain itu kemudian dikenal dengan nama Songket yang menjadi kain khas Palembang yang tersohor di Pulau Sumatera, Semenanjung Malaka hingga pelosok tanah air bahkan mancanegara. Selanjutnya, Songket bukan cuma menjadi kain tenun khas Palembang melainkan juga kain tenun khas Melayu.Menurut Yeni (26 thn), salah satu pengelola Tujuh Saudara, perusahaan yang bergerak dibidang produksi kain khas Palembang, pembuatan kain tenun Songket ini menggunakan seperangkat alat tenun yang disebut Dayan melalui tahapan yang rumit. Sebelum ditenun, benang sutra yang awalnya berwarna putih dilakukan proses pewarnaan terlebih dahulu.
Kemudian dilanjutkan dengan tahap pencukitan yang mirip dengan proses streamin dalam penyulaman sesuai pola corak dan motif yang sudah didesain. Baru kemudian penenunan dimulai. Seluruh proses dapat memakan waktu hingga tiga bulan untuk mendapatkan kain songket yang halus. "Kalau kain tenun yang agak kasar hiasanya hanya sekitar satu bulan," jelas Yeni.
Alat tenunnya yang berbahan dasar kayu ada berbagai macam. Masing-masing memiliki nama dan fungsi tersendiri seperti dayan, beliro, pelipir, penyincing, tuju bilang, chacha, suri (sisir) buluh bambu, apit, dan pur.Tak hanya perangkat peralatan dan tahapan pembuatannya yang rumit, dalam pola corak warna dan motif benang emasnya pun juga banyak macamnya. Setiap bentang kain ada 4 bagian yaitu pinggiran, tumpal, tengah, dan tretes untuk ujung siku kain. Setiap bagiannya itu motifnya berbeda. "Bahkan di bagian Tumpal terdapat 4 jenis motif yaitu ombak, rumpak, carebung, dan tawur. Begitu juga di bagian tengah ada beberapa macam, seperti lepus, tabor, limar, dan bungo Cino," ungkap Lia (20 thn), adik Yeni.
Bagi sebagian orang memiliki Songket mempunyai gengsi tersendiri, sebab bisa menunjukkan martabat pemakainya. Oleh karena itu kain ini oleh pemiliknya tetap dijaga dengan baik bahkan dijadikan koleksi hingga kemudian diwariskan ke anak-cucu. Semakin tua umur Songket Palembang, semakin mahal harganya.
Kain Songket biasanya digunakan oleh pria dan wanita pada acara-acara pernikahan yang tidak hanya berasal dari adat Palembang tetapi juga daerah-daerah lain. Atau pada resepsi resmi dan acara-acara adat. Hasil industri rumah tangga ini seringkali dijadikan
cenderamata wisatawan saat bertandang ke Palembang atau kota lain di Sumatera Selatan.
Di pasaran Kota Palembang, harga songket bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Perawatannya mudah, kain atau selendang songket digulung lalu dimasukkan ke dalam kotak atau kantong dan diberi sedikit merica agar tidak dimakan rayap.
Tips :
Di Palembang banyak toko souvenir yang menjual kain tenun Songket Palembang. Selain songket, ada lagi hasil industri rumah tangga lainnya yakni kain tajung dan gebeng yang ditenun dari benang sutera, batik Palembang, pelangi (sewet jumputan), pradan (prado) yakni kain ukiran yang diberi cat perado, ukiran kayu, dan perabot/hiasan dari kayu lak. Berikut tempat-tempat membeli kerajinan khas Palembang :
1. Pengrajin Tenun Songket dan cindera mata tradisional Palembang, Hj. Asmi Astari Songket, Jl. TI. Kerangga Wirosentiko No.273 Palembang.
2. Mir Senen Galery, AKBP H.M.Amin No.43 Palembang.
3. Serengam Setia, tempat menjual kain songket, Jl. Ki Gede Ing Suro No.164 Palembang.
4. Rumah Lima Aziz (handycraft), Jl. Demang Lebar Daun No.51 Palembang
Thursday, October 22, 2009
BATIK KEBUMEN
BELAKANGAN ini batik tradisonal Kebumen mulai bangkit. Terlebih setelah Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemkab menggalakkan pemakaian seragam batik. Para perajin pun kembali menekuni usaha yang hampir tenggelam itu. Pusat batik tradisional ada di Kampung Watubarut dan Tanuraksan, Kecamatan Kebumen, kemudian di Desa Karangpoh, Kecamatan Pejagoan, dan Desa Seliling, Kecamatan Alian. Namun desa batik itu nyaris tinggal kenangan. Ada kendala yang membuat batik khas Kebumen seperti mati suri. Pertama, motif batik daerah ini terlalu tradisional dan terkesan ketinggalan. Kedua, warna batik khas (khususnya batik tulis) itu kusam dan kurang cerah.
Padahal, menilik harga batik tulis lokal, satu potong untuk baju kualitas sedang Rp 150.000. Yang berkualitas baik bisa mencapai Rp 250.000. Bedakan dengan batik cap, baju seharga Rp 50.000 sudah enak dilihat dan layak dipakai. Riadhie (35), seorang desainer asal Pejagoan yang lama berkecimpung di dunia mode di Yogyakarta, kembali tertantang menciptakan motif batik yang khas dan menarik. Motif burung lawet yang menjadi maskot Kebumen, ia padukan dengan motif kelapa genjah dan padi menjadi satu kesatuan yang indah.
Sentuhan Warna
Menurut dia, motif batik itu tidak lagi terpaku pada pola baku batik tradisional. Namun lebih berani dengan sentuhan warna yang cerah. Ada warna biru, merah muda, violet atau ungu. Tak heran motif batik yang dirancang Riadhie tak hanya untuk para orang tua, namun juga luwes dipakai anak muda. Bahkan, batik tersebut cocok untuk seragam kantor, seragam PNS, dan sebagai identitas pelajar serta anak sekolah.
Berbeda dari motif batik tradisinal yang dulu lebih banyak untuk kain jarik, kebaya dan selendang, batik yang digagas bapak dua anak yang punya workshop di Jalan Gelora 529 Pejagoan itu memang untuk busana, hem pendek ataupun panjang. Dipakai untuk kebaya semi formal pun terkesan enak dipandang. Tak heran, batik rancangan Riadhie itu juga enak untuk busana santai. ”Batik ini tidak kaku. Namun kami akui, bahannya bukan dari yang terbaik, karena kami perhitungkan dengan daya beli masyarakat,” ucap Riadhie yang pernah menggelar fashion show dan presentasi batik di Pendapa Kabupaten Kebumen.
Orisinal
Di mata Drs HM Khambali SH, salah seorang pemerhati batik tulis Kebumen, sebenarnya batik lokal daerahnya tidaklah kalah dari batik Pekalongan, Solo ataupun Yogyakarta.
Bahkan motif batik Kebumen lebih orisinal dan coraknya terkesan begitu lugu dan apa adanya. Itu menjadi salah satu keunggulannya. Namun justru karena itu, susah mencari motif asli batik Kebumen. Ada ciri khas yang mudah dikenali dari batik Kebumen, yakni warnanya kecoklatan dan kadang putih. Khambali mengaku masih menyimpan batik tulis untuk koleksi. Dia sendiri kini menekuni profesi sebagai dosen dan penasihat hukum.
Menuruut dia, sisa kejayaan batik Kebumen bisa dirunut dari aktivitas Koperasi Batik Kebumen, aset gedung dan juga sekolah. Batik tradisional itu mulai surut sejak tahun 1975 saat industri sablon mulai merebak. Apalagi proses membuat batik tulis sangat lama dan rumit. Bisa dua minggu sampai satu bulan untuk bahan pakaian. Mulai dari membuat pola, membatik, menyelup, memberi lilin hingga selesai, membutuhkan waktu lama. Berbeda dari sablon yang lebih cepat.
Khambali menyambut positif upaya menggairahkan batik tradisional dewasa ini, termasuk dengan mewajibkan PNS tiap Kamis memakai batik lokal. Namun lebih dari itu, perlu dihidupakn budaya membatik kepada para perajin. ”Saya kurang setuju menggairahkan batik semata-mata pertimbangan bisnis. Budaya membatik perlu dihidupkan lagi karena saat ini batik lokal makin punah,” tandas Khambali yang masih menjabat ketua Koperasi Batik Kebumen itu.
Dia mendukung upaya menghidupkan kembali batik lokal, namun harus didukung bahan baku dan pemasaran yang jelas. Dulu batik tradisional bisa mengalami kejayaan karena bahan baku dan pemasarannya diproteksi pemerintah. Tanpa proteksi, industri batik tetap sulit untuk bangkit.
NAMA : TRIYANI MEGA CESARIA
KELAS: XII IPS 1
E_MAIL: Mee_ghaa@yahoo.com
Batik Asli Kuningan Andri XII IPS 1
Jawa Barat sebagai salah satu penghasil ragam batik nusantara, kaya akan beberapa daerah penghasil batik, di antaranya Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, Kuningan, dan Indramayu. Di kawasan utara, selain Trusmi di Cirebon, tidak ada salahnya bila kita sejenak mengalihkan pandangan ke Kuningan. Di sana kita juga dapat menemukan beragam motif batik yang tidak kalah unik dan menarik.
Cigugur, salah satu kecamatan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Terletak di kaki Gunung Ciremai, berjarak sekitar 3 km dari Kota Kuningan, 35 km ke arah selatan Kota Cirebon, atau sekitar 170 km dari Kota Bandung. Di sanalah kita dapat menemui keunikan yang khas dari kearifan budaya lokal (Sunda) yang dituangkan dalam beragam motif batik Paseban Cigugur.
Usaha batik dan seni ukir Cigugur dikembangkan di Paseban Cigugur atas prakarsa Pangeran Djatikusumah. Tujuannya untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Cigugur. Selain merupakan simbolisasi nilai-nilai budaya lokal (Sunda) yang sudah tertanam sejak lama, motif batik Paseban Cigugur juga terilhami atau diambil dari relief lama dan seni ukir klasik yang terdapat pada ornamen gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Demikian penuturan Pak Kusnadi (seorang pensiunan Dinas Kepurbakalaan) yang bersama-sama dengan Pangeran Djatikusumah turut memelopori pengembangan dan menciptakan motif batik dan ukir di Cigugur sejak beberapa tahun lalu.
Tanggal 15 Oktober 2006 ditetapkan sebagai peresmian lahirnya batik Paseban Cigugur. Ciri khas batik Cigugur terletak pada tarikan garis yang kuat pada motifnya. Menurut penuturan Pak Kusnadi, sampai kini telah tercipta sekitar 250 macam motif batik yang akan diperkenalkan.
Beberapa motif batik yang telah diperkenalkan sesuai dengan uraian Ibu Tati (putri dari Pangeran Djatikusumah), di antaranya adalah "rereng pwahaci (pohaci)". Motif ini merupakan simbol atau gambaran sosok perempuan Sunda yang diyakini memiliki kedudukan penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, ataupun sosial masyarakat Sunda (pada masa pra-Islam, Sri Pohaci dikenal sebagai dewi padi). Motif lain adalah "mayang segara" yang merupakan gambaran tentang indah dan agungnya samudra luas ciptaan Tuhan. Motif ini mengandung arti hendaknya manusia mempunyai hati yang tulus seluas dan sedalam samudra.
Motif "adu manis" merupakan lambang bersatunya dua manusia yang selaras dan harmonis dalam berumah tangga, biasanya batik ini digunakan oleh pasangan pengantin pada saat upacara pernikahan. Motif "oyod mingmang" merupakan gambar rangkaian akar yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kekuatan dalam persatuan. Motif ini mengandung arti bahwa perbedaan yang ada hendaknya menjadi kekuatan untuk bersatu karena walaupun berbeda-beda, tetapi manusia berasal dari akar budaya dan memiliki adikodrati yang sama.
Motif "sekar galuh", sekar berarti bunga, sedangkan galuh berarti inti kehidupan. Secara filosofis sekar galuh mengandung makna bahwa manusia hendaknya melestarikan nilai-nilai adikodrati secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Motif "geger sunten" dapat diartikan sebagai benteng pertahanan yang mampu menahan serangan dari luar. Secara filosofis, motif ini mengandung makna bahwa manusia hendaknya mampu membentengi diri dari pengaruh-pengaruh buruk yang berasal dari luar. Pada motif "rereng kujang", kujang mengandung arti kukuh/setia pada janji. Secara filosofis, motif ini mengingatkan kita kembali pada janji yang harus kita kukuhkan kembali pada kesadaran diri sebagai manusia dan kesadaran diri sebagai bagian dari suatu bangsa.
Besarnya pengaruh budaya pada motif batik Paseban Cigugur merupakan salah satu bentuk transformasi budaya yang terjadi dalam masyarakat Cigugur. Transformasi budaya pada dasarnya merupakan upaya menemukan kembali secara lengkap wujud suatu budaya, sebagaimana saat budaya itu dibentuk. Edi S. Ekadjati (2001) berpendapat bahwa kebudayaan itu lahir seiring dengan kelahiran kehidupan manusia secara sosial karena kebudayaan adalah ciptaan atau hasil kreasi manusia sebagai makhluk sosial.
Para ilmuwan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi mempunyai hubungan timbal balik, layaknya dua sisi mata uang. Sebagaimana dinyatakan Edward T. Hall (1959), yakni culture is communication dan communication is culture. Budaya merupakan bagian dari perilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan, atau mewariskan budaya. Sejalan dengan itu, Geertz (1971) mengemukakan bahwa kebudayaan adalah suatu bentuk konseptual yang objektif yang merupakan perhubungan antara pemikiran dan kenyataan yang ada di luar diri manusia. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang saling terkait di antara keduanya secara dinamis dan dialektis, yang sifatnya sebagai suatu gerak tindakan yang dihidupkan oleh proses dorongan, kesadaran, persepsi, dan kognisi para pelaku dalam situasi yang saling berhubungan. Levy-Strauss (1970) memandang kebudayaan sebagai suatu sistem simbol yang merupakan kreasi akal kumulatif dan disalurkan melalui mitos, seni, hubungan kekeluargaan, dan bahasa.
Berkaitan dengan konsep kebudayaan inilah, melalui berbagai ragam motif batik yang mulai diperkenalkan kepada khalayak luas, masyarakat Cigugur mencoba untuk mengomunikasikan eksistensinya. Berbagai simbol yang terdapat pada motif batik Paseban Cigugur merupakan visualisasi atau wujud dari sistem nilai dan kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat Cigugur.
Seperti halnya komunikasi pada umumnya, seorang desainer atau pembuat batik sesungguhnya telah melakukan proses komunikasi yang ditujukan kepada target sasaran melalui karya cipta yang dihasilkannya. Segala sesuatu yang dapat dilihat dan dapat dipakai untuk menyampaikan arti, makna, atau pesan merupakan kekuatan utama dalam menyampaikan komunikasi visual.
Batik, dalam hal ini, menjadi media istimewa tempat suatu makna diproduksi. Setiap motif batik beroperasi sebagai simbol yang mengartikan atau merefleksikan makna yang ingin dikomunikasikan oleh pembuatnya.
Hadirnya batik Paseban Cigugur turut memperkaya khazanah batik nusantara. Tak hanya indah dan unik, tetapi juga kaya akan nilai filosofis kearifan budaya lokal yang terkandung di dalam setiap ragam motifnya. Menggali dan mempertahankan nilai-nilai luhur dalam budaya tradisional merupakan satu komitmen yang ditumbuhkembangkan masyarakat Cigugur. Seperti yang diutarakan Pangeran Djatikusumah, hal inilah yang membuat budaya lokal tetap eksis dalam kehidupan masyarakat Cigugur di tengah terpaan budaya-budaya lain yang hadir dalam era globalisasi sekarang ini. (Yuni Mogot-Prahoro, kolektor kain tradisional/mahasiswa S-3 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung)***
Wednesday, October 21, 2009
ARADEA XII IPS 2 BATIK

Batik memang sedang tren. Namun, bisa jadi belum banyak orang yang mengetahui cara merawat pakaian batik agar warnanya tetap awet. Berikut ini sejumlah cara alternatif merawat batik kesayangan.
1. Saat mencucinya, gunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang banyak dijual di pasaran.
2. Atau, cuci kain batik dengan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan shampo di air sampai tak ada bagian yang mengental. Lalu, celupkan kain batik.
3. Mencuci batik juga bisa dengan menggunakan buah lerak atau daun tanaman dilem yang sudah diredam air hangat. Caranya, remas-remas buah lerak atau daun dilem sampai mengeluarkan busa, lalu tambahkan air secukupnya, dan siap untuk mencuci batik. Aroma buah lerak mampu mencegah munculnya hewan kecil yang bisa merusak kain.
4. Saat mencuci batik, jangan pakai deterjen dan jangan digosok. Jika batik tak terlalu kotor, cukup rendam di air hangat. Tapi jika benar-benar kotor, misalnya terkena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau kulit jeruk. Caranya, cukup dengan mengusapkan sabun mandi atau kulit jeruk di bagian yang kotor tadi.
5. Sebaiknya, jangan mencuci batik dengan mesin cuci.
6. Saat akan menjemurnya, batik yang basah tak perlu diperas. Dan jangan menjemurnya langsung di bawah sinar matahari. Jemurlah di tempat teduh atau diangin-anginkan hingga kering.
7. Saat menjemurnya, tarik bagian tepi batik secara perlahan agar serat yang terlipat kembali ke posisi semula.
8. Jika sudah dijemur, hindari menyetrika batik secara langsung. Jika batik tampak sangat kusut, semprotkan sedikit air di atas kain batik lalu letakan sehelai alas kain di atasnya, baru diseterika.
9. Bila Anda ingin memberi pewangi atau pelembut kain pada batik tulis, jangan semprotkan langsung pada kainnya. Sebaiknya, tutupi dulu batik tulis dengan koran, lalu semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain tadi di atas koran.
10. Jangan semprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain batik, terutama batik sutera dengan pewarna alami.
11. Simpan batik kesayangan Anda dalam plastik agar tak dimakan ngengat. Saat disimpan dalam lemari jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini sangat keras dan bisa merusak batik.
12. Cara lain agar batik tak dimakan ngengat, beri sedikit merica yang dibungkus tisu di lemari tempat menyimpan batik. Atau, letakkan akar wangi yang sudah dua kali melalu proses pencelupan dalam air panas dan dijemur hingga kering.
HEDIONO XII IPS 2 BATIK
a. Desain batik Cirebonan yang bernuansa klasik tradisional pada umumnya selalu mengikut sertakan motif wadasan (batu cadas) pada bagian-bagian motif tertentu. Disamping itu terdapat pula unsur ragam hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan motif utamanya.
b. Batik Cirebonan klasik tradisional selalu bercirikan memiliki warna pada bagian latar (dasar kain) lebih muda dibandingkan dengan warna garis pada motif utamanya.
c. Bagian latar atau dasar kain biasanya nampak bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki pada proses pembuatan. Noda dan warna hitam bisa diakibatkan oleh penggunaan lilin batik yang pecah, sehingga pada proses pewarnaan zat warna yang tidak dikehendaki meresap pada kain.
d. Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus untuk melakukan proses penutupan, yaitu dengan menggunakan canting tembok dan bleber (terbuat dari batang bambu yang pada bagian ujungnya diberi potongan benang-benang katun yang tebal serta dimasukkan pada salah satu ujung batang bambu).
e. Warna-warna dominan batik Cirebonan klasik tradisional biasanya memiliki warna kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading.
f. Batik Cirebonan cenderung memilih sebagian latar kainnya dibiarkan kosong tanpa diisi dengan ragam hias berbentuk tanahan atau rentesan (ragam hias berbentuk tanaman ganggeng). Bentuk ragam hias tanahan atau rentesan ini biasanya digunakan oleh batik-batik dari Pekalongan.
Masih dengan batik Cirebonan, namun mempunyai ciri yang berbeda dengan yang sebelumnya yaitu kelompok batik Cirebonan Pesisiran. Batik Cirebonan Pesisiran sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh budaya asing. Perkembangan pada masa sekarang, pewarnaan yang dimiliki oleh batik Cirebonan lebih beraneka warna dan menggunakan unsur-unsur warna yang lebih terang dan cerah, serta memiliki bentuk ragam hias yang bebas dengan memadukan unsur binatang dan bentuk-bentuk flora yang beraneka rupa.
Pada daerah sekitar pelabuhan biasanya banyak orang asing yang singgah, berlabuh hingga terjadi perkawinan etnis yang berbeda (asimilasi), maka batik Cirebonan Pesisiran lebih cenderung menerima pengaruh budaya dari luar yang dibawa oleh pendatang. Sehingga batik Cirebon yang satu ini lebih cenderung untuk bisa memenuhi atau mengikuti selera konsumen dari berbagai daerah (lebih kepada pemenuhan komoditas perdagangan dan komersialitas), sehingga warna-warna batik Cirebonan Pesisiran lebih atraktif dengan menggunakan banyak warna. Produksi batik Cirebonan pada masa sekarang terdiri dari batik Tulis, batik Cap dan batik kombinasi tulis cap. Pada tahun 1990 – 2000 ada sebagian masyarakat pengrajin batik Cirebonan yang memproduksi kain bermotif batik Cirebonan dengan teknik sablon tangan (hand printing), namun belakangan ini teknik sablon tangan hampir punah, dikarenakan kalah bersaing dengan teknik sablon mesin yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000, hal ini bisa dilihat dari bermunculan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. Pemilik showroom batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.
batik gedog

Batik Gedog Tulis Motif Cumi-cumi
Batik Gedog Tulis Motif Cumi-cumi - Batik Gedog Tulis Motif Cumi-cumi Batik Gedog adalah Batik Tulis produk unggulan dan asli kerajinan masyarakat Tuban. Dengan detail batik unik dan warna-warna yang beragam, membuat jenis batik ini layak untuk dikoleksi.
Batik Gedog Motif Cumi-cumi , terinspirasi dari kota Tuban yang merupakan kota pesisir, motif dan warnanya menghasilkan kesan unik bagi pemakainya.
Dalam pembuatannya, semuanya dikerjakan tangan oleh tenaga berpengalaman dan ahli serta terampil dengan design kuno dan antik yang selalu up to date mengikuti trend mode terkini.
Nama : Rifky Apriatna
Kelas: XII IPS 2






